Minggu, 23 Maret 2014

Takut Takluk di Tanjakan



Foto bareng sebelum gowes
Jadwal mingguan Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post (12/2) mengambil tempat di Aston Balikpapan, hotel & residence yang terletak di Jl Jenderal Sudirman, Balikpapan. Ada 60an goweser ambil bagian, menjajal rute tanjakan menantang.
 

SEPERTI biasa, sore itu pukul 16.30 Wita para goweser RGC sudah mulai berkumpul. Kali ini mengambil start dari bundaran air mancur depan loby hotel. Hari itu sinar matahari lumayan menyengat.

Setelah berfoto sebentar, kami  langsung ambil ancang-ancang. Tumben, leader RGC Yoyok kali ini membawa megaphone alias pengeras suara. Mau demo? Bukan, ia sekadar memberikan arahan sebelum memimpin iring-iringan para pegiat MTB ini. “Agar hati-hati di jalan,” tukasnya. Cuma itu, singkat padat.

Sore itu tampak para “srikandi-srikandi” MTB ambil bagian. Bukan saja dari Permata Bank, dan Le Grandeur, tapi juga goweser tuan rumah Hotel Aston Balikpapan. Wajah-wajah “baru tapi lama” ini kian menambah jumlah peminat RGC. Baguslah.
Rombongan goweser Le Granduer sendiri langsung dipimpin General Manager-nya, Dicke Indrayana, dan PR Manager Retno S Palupi. Sedangkan tuan rumah Aston ada Director of Sales Khairul Anam.

Gowes sore yang selalu menyenangkan
Lantas kemana rute sore itu? Jl. Gajah Mada, kemudian menajak Jl Blora, samping SMA Pangeran Antasari, dan menelusuri tanjakan Bukit Sion. Dua tanjakan ini lumayan memerlukan energi. Namun sebagian besar goweser RGC menyelesaikan dengan baik, meski nafas mulai tersengal. Kalau pun ada yang tuntunbike, hanya satu-dua orang. Bukan masalah besar.

TOLERANSI
Sikap tolerasi para goweser ini biasanya dapat dilihat saat berada di atas bukit atau tanjakan, mereka saling menunggu. Setelah sebagian besar berkumpul, baru kemudian perjalanan dilanjutkan.

Tuntas menyelesaikan tantangan Bukit Sion, iring-iringan langsung ke arah kiri Jl Mayjen Sutoyo (Gunung Malang), kemudian arah ke kanan Jl A Yani.
Kemana rute selanjutnya? “Belok ke kiri eks Puskib,” ujar Yoyok singkat. Sudah dapat ditebak, rombongan RGC ini akan mendapat tantangan luar biasa. Inilah yang ditunggu-tunggu, yaitu tanjakan dasyat yang wajib ditaklukkan oleh goweser sejati!

Turunan coolingdown, tapi juga mesti hati-hati
 Dua tanjakan kemiringan berbeda di belakang eks Puskib di antara perumahan penduduk ini dilewati dengan aman. Namun “ancaman” akan tiba setelah menyeberang Jl RE Martadinata dan tembus ke hutan kota belakang kompleks Total Indonesie. Rute ini sudah kali kesekian jadi santapan rombongan RGC.
 
Sebelum menembus hutan kota tersebut, para goweser harus mendaki tanjakan sepanjang 40 meter dengan kemiringan nyaris 45 derajat. Ini dia! Tak ada pilihan jalan lain, mau tak mau harus dilewati.
“Ya ampun, tinggi banget,” celetuk salah satu peserta. Keder duluan. Sebaiknya jangan cemas dulu, coba saja. Benar, satu persatu goweser menjajal tanjakan semen cor-coran berkelok tersebut. Dapat dijamin seratus persen, bila saja goweser pemula tak akan berhasil sampai di puncak. Mungkin hanya mencapai seperempat tanjakan saja!

Sebagian besar peserta memang rontok di pertengahan, dan ada beberapa yang nyaris sampai puncak, namun kadung lumpuh duluan. Akhirnya harus melakukan jurus selamat, yaitu tuntunbike. Tak perlu gengsi. “Dorong sama digowes, ya podowae. Sama-sama berkeringat,” kata mereka menghibur diri dan tetap semangat.
Boleh dikata, sore itu bukan goweser yang menaklukkan tanjakan. Melainkan tanjakan yang menaklukkan goweser. Terbalik. 

Memang tak semua pecandu MTB ini tumbang, beberapa “macan tanjakan” tetap saja sempurna melewati rintangan tersebut. Sebut saja empat di antaranya, yaitu Anshari, Hengky, Junaidi dan Bambang M Stiker. 

Tapi tak dapat dipungkiri, sesampai di puncak tenaga terkuras habis, nafas ngos-ngosan. Namun ada rasa puas. Sekalipun sampai di atas bukit kehilangan selera untuk berbicara, karena lebih baik menstabilkan nafas.
Bagaimana dengan para “srikandi” MTB? Sama saja. Echy Permata Bank yang dikenal kekeh dengan medan offroad menantang, juga keok di tanjakan ekstrem ini. Sekalipun yang lain setengah berteriak memberikan semangat.

Andai saja iring-iringan goweser ini tidak terlalu rapat jaraknya saat menanjak, tentu lain lagi ceritanya. Karena terlalu dekat, ada peserta yang kehilangan traksi saat kawan di depannya mulai oleng dan mendadak stop di tengah tanjakan. Tapi sudahlah, hal teknis ini tidak perlu dibahas.

Semangat mendaki tanjakan tajam
Matahari sore itu lumayan memaksa keringat mengucur deras. Sedikit adem setelah rombongan menerobos hutan kota di belakang Total Indonesie itu. Pohon-pohon masih rindang. Sinar matahari pun tak sepenuhnya tembus di sepanjang single track dilewati. 
 
Kami tidak bisa menyalip satu sama lain. Jalan pun harus pelan. Pasalnya, di hutan penyangga itu masih banyak akar pohon, bahkan batang pohon melintang yang tak mungkin dilewati sepeda. Jalan satu-satunya silakan mengangkat tunggangannya masing-masing.

Tantangan terakhir sore itu tanjakan panjang menuju simpangan Gunung Teknik. Meski dengkul mulai terasa panas, dan nafas serasa tinggal di ubun-ubun, semangat para goweser ini tetap terbakar untuk menyelesaikan tanjakan yang satu ini. Memang bukan persoalan. Namun sebagian  terkesan mulai kehilangan power. Pelan tapi tetap sampai tujuan.

Uji andrenalin ketika iring-iringan goweser menelusuri jalan cor-coran menurun tajam. Ini akses tembus ke Prapatan Dalam. Memang harus ekstra hati-hati. Beberapa waktu lalu, seorang kawan RGC pernah terperosok di jalan turunan itu.

Setelah melewati jalan menurun tersebut, selesai sudah tantangan demi tantangan. Para pegiat sepeda ini pun menuju ke arah jalan raya Prapatan, kemudian melintasi turunan Jl Tanjungpura, dan tembus Jl Sudirman untuk mencapai finis di parkiran Aston Balikpapan.
Misransyah (55) goweser aktif RGC memacu cepat sepedanya hingga finis paling depan. Selang beberapa menit, disusul kawan-kawan RGC lainnya. Total rute yang ditempuh hanya 12 km, namun energi yang terkuras lumayan juga.

MENYENANGKAN
Gowes Rabu kumpulan komunitas MTB sore itu mendapat sajian yang berbeda. Meskipun rute lumayan menantang, namun tetap menyenangkan. Apalagi setelah di garis finis para peserta dimanjakan oleh manajemen Hotel Aston Balikpapan dengan makanan ringan menggugah selera, termasuk pilihan aneka minuman pemupus dahaga. 

Yang perlu dicatat, suasana di Aston membuat peserta betah. Dengan view laut lepas, kami menikmati hidangan di pinggir kolam renang yang diapit dua gedung megah bertingkat, yaitu hotel dan apartemen. 

Bercengkerama satu sama lain disaksikan matahari tenggelam, sembari membiarkan jersey yang basah oleh keringat menjadi kering di badan dihembus angin pantai, sungguh mengasikkan. Apalagi ditemani ragam cemilan ala chef Aston Balikpapan.

Sanuri, goweser senior sore itu sempat mengingatkan anggota RGC untuk mengumpulkan data untuk kartu anggota. “Nanti akan saya desain dan pasang foto masing-masing,” kata pengusaha percetakan yang sebelum gowes bareng itu tampak sibuk mengambil foto peserta RGC dengan smartphone-nya.


Hengky Seperti Angin

BILA Yoyok, leader Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Pos harus mengabsen anggotanya satu persatu sebelum gowes bareng mingguan, berbeda dengan Hengky. Pria berbadan slim ini justru dialah yang diabsen oleh peserta.

Sebelum gowes dimulai, peserta selalu mencari sosoknya. Ada kekhawatiran, bila Hengky tak hadir akan menjadi persoalan. Pasalnya, dialah orang yang selalu muncul duluan memberikan bantuan saat terjadi trouble pada sepeda peserta.

Hengky setia menjadi sweeper
 Teknisi MTB dari Kawan Bike Shop di Gunung Malang ini lebih sering menjadi sweeper saat RGC menjajal rute. Bila terjadi hambatan teknis pada sepeda, Hengky langsung ambil alih. Beberapa saat kemudian, beres. Goweser pun kembali tancap gas.
Tak heran bila setiap gowes bareng Hengky selalu membawa tools untuk “membedah” bila terjadi sesuatu pada sepeda peserta RGC. Ia seperti “dokter” saja.
Ayah dua putra ini rajin gowes, dan staminanya cukup terjaga. “Paling tidak seminggu dua kali gowes,” ujar pegiat sepeda yang pernah menjuarai race di Cambuth Hills Balikpapan ini.

Karenanya tak perlu heran, bila ada informasi trouble pada sepeda anggota RGC ia pun bergegas memancal cepat tunggangannya. “Kalau Hengky gowes lajunya seperti angin,” komentar salah satu anggota RGC.

Hengky selalu tangkas dan cepat menangani trouble tersebut. Terkecuali kerusakan parah dan harus dievakuasi. Tapi itu jarang terjadi.
Di rombongan RGC Hengky selalu datang paling akhir. Tapi suatu ketika, ia pun datang lebih awal di garis finis. Salah satunya ketika host RGC di Hotel Le Grandeur. Kok bisa? “Bisa saja, soalnya ada yang dikejar, minuman kesukaannya,” canda Umar Baki, goweser dari Blue Bike Community.

Namun saat RGC Rabu (12/2) lalu, ia sempat kecolongan. Ada peserta jauh tertinggal di belakang saat jalan turunan di Prapatan Dalam yang putus rantai, dan hanya ditemani seorang kawan. Apa boleh buat, sepeda pun dievakuasi. (*)

Selasa, 10 September 2013

Sampai Membingkai Tali Silaturahmi


Penampilannya sederhana dan bersahaja. Cara bicaranya pun biasa saja. Terkesan tak ada yang istimewa darinya. Namun siapa nyana, pria pengembara bersepeda keliling Indonesia ini bukan orang biasa-biasa saja. Ia ingin mewujudkan mimpinya membingkai benang silaturahmi dari ribuan kilometer yang dikayuhnya. Dialah Muhammad Yusuf pecinta gowes dari Payakumbuh.


Yusuf ikut Gowes Spektakular
Acara Gowes Spektakuler gelaran Kaltim Post di Lapangan Merdeka akhir Januari 2013 lalu dipadati ribuan penggembira sepeda. Mereka ada yang datang dari Samarinda, Bontang, Tenggarong, Penajam Paser Utara, Banjarmasin, dan pesepeda tuan rumah Balikpapan. Namun boleh jadi tak banyak yang tahu, kalau di antara ribuan pengayuh sepeda tersebut di antaranya adalah Muhammad Yusuf. Ia salah satu sang pengembara sepeda keliling Indonesia asal Payakumbuh, Sumatera Barat.

“Kebetulan saya sedang berada di Balikpapan, jadi sekalian aja ikut Gowes Spektaluer ini,” ujar pria kelahiran 10 Maret 1964 ini ketika membuka perbincangan dengannya di sela-sela penarikan doorprize Gowes Spektakuler. Saya pun mempersilahkan Yusuf untuk naik ke podium untuk sesi foto. Podium ini memang dibuat panitia untuk foto komunitas sepeda peserta Gowes Spektakular yang menyediakan hadiah mobil tersebut.

Itu pertemuan pertama saya dengannya. Pertemuan kedua di lobby Gedung Biru Kaltim Post, Jl Soekarno-Hatta, Balikpapan. Saat itu Yusuf siap-siap untuk meneruskan perjalanannya ke ibukota provinsi, Samarinda. Ia tetap bersepeda dari Balikpapan-Samarinda yang jaraknya seratus kilometer lebih.
Bila kawan-kawan komunitas MTB Balikpapan berhasil menempuh empat jam lebih bersepeda dari Balikpapan ke Samarinda, tentu tidaklah  demikian Yusuf.  “Kalau saya gak ada target berapa jam sampainya. Nyantai aja, yang penting sampai tujuan. Kalau letih, ya istirahatlah,”katanya enteng.

Yusuf siap-siap gowes ke Samarinda
Balikpapan adalah kota pertama di bumi Kalimantan yang disinggahinya. Setelah Balikpapan dan Samarinda, ia mengayuh sepedanya menuju Bontang, Tenggarong dan Tarakan, dan beberapa kabupaten lainnya. Setelah dari Kalimantan, Yusuf meneruskan perjalanan ke Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan menyeberang kembali ke kepulauan Riau.
Sudah ribuan kilometer dikayuhnya. Yusuf hanya mengandalkan sepeda Wimcycle biru yang dilengkapi single crank, dan enam gir belakang. Grupset sepedanya sangat sederhana. Tak ada perlengkapan khusus lainnya. Namun ia selalu membawa bekal ban dalam. Menurutnya ban dalam sangat penting untuk perjalanan jauh seperti yang ia lakukan.

Sudah berapa kali ganti ban dalam? ‘’Wah sudah gak kehitung lagi. Saat di Flores saja, sudah yang keseratus dua puluh satu,” terang pria yang mengaku cucu dari seorang veteran ini. Yusuf sudah sembilan kali mengganti ban luar sejak memulai perjalanannya 25 Desember 2008 silam. Sepeda yang dibelinya pada 19 Desember 2008 tersebut dihias dengan pelat bertuliskan Petualang dari R 1 AU, serta bendera Merah Putih. Selebihnya perlengkapan penunjang, seperti onderdil, alas tikar, serta tas yang isinya sejumlah dokumen dan buku perjalanan, seperti buku kesan pesan.

Hingga bincang dengannya Januari 2013 lalu, Yusuf mengaku sudah menyimpan 8 buku pesan dan kesan dari para perwira kepolisian, 9 buku dari bintara, tiga buku lapor tiba di setiap kepolisian, sepuluh map dokumen umum, serta dokumen khusus dari kepolisian ada 9 map.
Apakah buku-buku dokumen itu selalu dibawa dalam perjalanan? “Oh tidak. Kalau buku sudah penuh, dan sudah tak mungkin dibawa, segera saya kirim ke rumah,” ujarnya.

Buku laporan kedatangan
Apa sebenarnya misi Yusuf mengembara keliling Indonesia dengan bersepeda? Toh bukannya sudah banyak dilakukan oleh petualang pendahulunya?
“Memang sudah banyak pengeliling Indonesia seperti saya. Tapi banyak juga yang kurang memperhatikan  pencatatan dan dokumentasi. Saya ingin menjadi orang pertama yang tertib administrasi. Saya mengikuti segala prosedur untuk bertemu dengan para pejabat setempat,” tegasnya.

Empat misi utama yang diembanYusuf, yakni mengampanyekan perpolisian masyarakat, budaya membaca, penghentian pemanasan global, dan bersepeda itu sehat.“Memang misi saya kedengarannya sederhana, dan kadang sering dianggap remeh bahkan diabaikan banyak orang,” ujarnya.

 “Setiap di kabupaten atau kota yang saya singgahi, saya selalu minta dukungan para pejabat baik Wali Kota, Kapolres atau Kapolda berupa tanda tangan atau stempel sebagai legalitas bahwa saya sudah sampai di wilayah tersebut,”terang alumnus Universitas Riau, jurusan Fisipol Administrasi Negara tahun 1991 ini. 

Buku kesan dan pesan
Ia memulai petualangannya dari Teluk Kuantan, Desa Kampung Baru RT 01 RW 01 Kecamatan Tuan Tengah, Kabupaten Kuansing. Dari kota asalnya itu duda beranak satu ini berangkat ke arah selatan Sumatera, lalu ke Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, lalu ke Nusa Tenggara Timur.
Setelah transit di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, Yusuf menyeberang ke Papua dan bersepeda ke Fakfak serta 35 kabupaten lainnya. Setelah kurang lebih 10 bulan berada di Papua, dia beranjak menuju Maluku Utara kemudian ke Sulawesi hingga Kalimantan. Balikpapan adalah kota ke-339 yang dikunjunginya.

Setelah dari Kalimantan, pria berkacamata ini harus menyambangi delapan provinsi lagi, antara lain kepulauan Riau, Aceh, Medan, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. “Target saya pada awal 2014 perjalanan saya mengelilingi Indonesia selesai,” tandas mantan wartawan yang sudah malang melintang selama 20 tahun di berbagai media lokal tersebut.

Dari ribuan kilometer yang ditempuhnya tidak semua melulu dikayuh dengan sepeda. Bila tidak mungkin dilintasi, ya harus menggunakan transportasi lain, seperti naik ferry untuk menyeberang antar pulau. Namun selama itu daratan dan terbentang akses jalan umum, maka sudah pasti Yusuf melewatinya dengan sepeda.

Selama perjalanan tidur dimana? “Ya gak tentu. Dimana saja bisa. Saya paling gak repot untuk urusan tidur,” tukasnya. Kadang Yusuf menginap di kantor polisi, di bawah pohon, penginapan, emperan toko, dan ditawari menginap di komunitas pencinta alam dan di komunitas sepeda setempat. “Kalau dengan komunitas paling gampang, kodenya hanya salam satu aspal,” ujarnya seraya tertawa lepas. 

Sinopsis membingkai benang silaturahmi

Yusuf juga tak jarang diundang oleh komunitas sepeda untuk memberikan kesan dan pengalamannya selama perjalanan. Termasuk ketika berada di Bontang, ia diundang oleh salah satu komunitas MTB. Begitu juga saat di Balikpapan diundang oleh mahasiswa Uniba.

Ada yang menggoda pikiran saya saat bincang denganYusuf, apakah ia tidak takut bersepeda sendirian?  “Saya tidak takut hantu. Yang saya takuti hanya Tuhan,” katanya. Sekali waktu Yusuf juga berhadapan dengan binatang buas, seperti harimau, dan beruang. Lantas apa yang harus dilakukannya? “Kalau sudah begitu, saya diam tak banyak bergerak sambil mempersiapkan senjata seperti pisau. Kemudian mengamati gerak-geriknya sampai dia pergi. Sebab kalau kita lari, binatang buas seperti itu malah bisa mengejar. Wah, bahaya kan!” ujarnya terkekeh.

Yusuf membiayai sendiri perjalanannya keliling Indonesia. Namun ia mengakui terkadang ada juga bantuan dari pihak lain, namun ia enggan menyebut nominalnya. “Pokoknya adalah.”

Selain penjelajahannya dengan sepeda Yusuf ternyata juga rajin menulis. Ia sudah membuat 378 judul puisi dari 500 karya puisi yang ditargetkannya. Ia pun sedang menyusun proposal untuk membukukan puisi-puisi tersebut kepada Kapolri. Judul buku yang direncanakannya bertajuk, Bersepeda Keliling Indonesia : Dari Sektor ke Resor Membingkai Benang Silaturahmi. 

Apa yang paling berkesan selama perjalanan? “Wah banyak sekali. Sulit juga saya ceritakan. Tapi pernah selama perjalanan Lebaran pertama tahun 2009 saya habiskan bersama Jokowi di Surakarta, 
Solo,”kenangnya.


M Yusuf

Ngobrol dengan Yusuf asyik juga. Tapi ada yang ingin saya tanyakan sejak awal. Apakah gak capek gowes ribuan kilometer? “Gak juga, nyantai aja,” jawabnya enteng.
Wah bagi dong resepnya? “Yang penting hindari trauma lutut. Kalau bersepeda usahakan menggunakan bobot dan gerak tubuh, Jadi tidak hanya mengandalkan dengkul,” kata Yusuf sembari mencontohkan gerakan tubuh yang dimaksud. Oalah begitu toh…

Ternyata benar juga nasihat Yusuf. Setelah saya praktikkan sarannya, bersepeda sejauh 100 Km pun tembus. Terimakasih Pak Yusuf. Senang sekali bisa berbincang dengan Anda. Selamat menempuh perjalanan, semoga sukses selalu (*)



Saya sempat terkejut membaca komen dari kawan blogger emerzet615 tentang “sepak terjang” M Yusuf, atas dugaan kasus yang menimpanya. Semoga hal seperti ini tak terjadi lagi kedepannya.
Berikut ini kutipan tulisan yang dipetik dari blog atjehlink.com tersebut.

Akhir ‘Petualangan’ Pesepeda dari Riau


Banda Aceh – M Yusuf (55), pria asal Riau yang mengaku sebagai pesepeda keliling Indonesia diamankan aparat Polsek Syiah Kuala akibat dugaan tindak pidana pencurian yang dilakukannya di Sekretariat Mapala Hukum Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh, Jumat (5/12/2014) malam.
Tertangkapnya pelaku berawal dari hilangnya satu unit telepon genggam milik salah seorang mahasiswa FKIP Unsyiah yang berkunjung ke Sekretariat Mapala Hukum Unsyiah. Malam itu, pelaku juga kebetulan sedang berada di sana.
Menurut Agus, anggota Mapala Hukum Unsyiah, setelah memeriksa setiap sudut ruangan sekretariat, pihaknya menemukan telepon genggam tersebut di dalam tas milik pelaku. “Pelaku berdalih telepon genggam tersebut hanya ia simpan dan rencananya akan dikembalikan saat akan pulang.”
Selanjutnya, kejadian itu dilaporkan ke Polsek Syiah Kuala. “Setelah digeledah oleh polisi, bersama tersangka juga ditemukan sejumlah telepon genggam, handycam, laptop,dan barang-barang berharga lainnya,” kata Agus.
Menurut pengakuan pelaku, ia berencana memecahkan rekor MURI dengan mengumpulkan tanda tangan alumni Akpol yang bertugas di seluruh Indonesia. Perjalanan ‘Sang Petualang’ yang mengaku telah enam tahun bersepeda keliling Indonesia itu akhirnya terhenti akibat perbuatannya tersebut. (bink)

M Yusuf (55), pesepeda asal Riau saat dibawa ke kantor polisi terkait dugaan pencurian di area Kampus Unsyiah, Jumat (5/12/2014) malam.




Nyaris Bunuh Diri, Pesepeda Asal Riau Kini Telah Bebas

Banda Aceh – Kasus hukum yang mendera M Yusuf (55), pesepeda keliling Indonesia asal Provinsi Riau yang ditangani pihak Kepolisian Sektor (Poldek) Syiah Kuala berakhir damai. (Baca: Akhir ‘Petualangan’ Pesepeda dari Riau)
Kapolsek Syiah Kuala melalui Kanit Reskrim Polsek Syiah Kuala, Bripka Iwan Wahyudi kepada AtjehLINK, Senin (15/12/2014), menuturkan, pihak korban telah membatalkan laporan atas kasus pencurian yang dilakukan tersangka.
“Ada itikad baik dari kedua belah pihak untuk berdamai. Kami dari pihak kepolisian menilai kasus ini merupakan tindak pidana ringan sebab barang yang dicuri harganya tidak sampai Rp 2,5 juta. Jadi bisa diselesaikan secara damai. Kami juga mengapresiasi itikad baik tersebut.”
Tersangka juga sempat depresi dan berencana akan melakukan bunuh diri dengan meminum cairan pembersih lantai karena sangat menyesali perbuatannya. “Beruntung petugas kami segera menenangkan tersangka. Semoga kasus ini bisa menjadi pelajaran untuk saudara M Yusuf,” imbuhnya.
“Saat ini saudara M Yusuf sudah berangkat ke medan. Dia berangkat Sabtu (13/12) lalu setelah selama seminggu lebih kita amankan di Mapolsek untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan,” tambah Iwan.

Seperti diberitakan sebelumnya, M Yusuf yang menyebut dirinya sang petualang bersepeda dari Riau ditahan pihak kepolisian setelah kedapatan mencuri satu unit telepon genggam milik mahasiswa FKIP Unsyiah yang sedang berkunjung ke Sekretariat Mapala Hukum Unsyiah. (bink)