Senin, 26 Agustus 2013

Ragu Melaju di Tangkuban Perahu

Baru tiba di Bandara Husein Sastranegara
Gowes bareng di kota sendiri Balikpapan, rasanya sangat berbeda bila dibandingkan bersepeda di kota lain. Dan ini benar-benar dirasakan ketika menjajal Tangkuban Perahu. Bila di Kalimantan cuacanya panas, di  kota kembang Bandung justru sebaliknya. Benar-benar dis-orientasi. Apalagi tunggangannya gak familiar, lantaran harus menyewa sepeda.


(Hari Pertama)
Siap-siap makan siang di Ampera
Gowes bareng prakarsa Kaltim Post Group ke Bandung selama tiga hari kali ini diikuti kawan-kawan goweser dari Balikpapan, Samarinda, dan Penajam Paser Utara. Total ada 22 orang.

Kami menumpang Lion Air. Penerbangan menuju Bandara Husein Sastranegara, Bandung ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam dengan transit 25 menit di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin.
Saat check in di Bandara Sepinggan Balikpapan, kami tidak terlalu sibuk dengan tetek bengek bagasi, lantaran dari sejumlah rombongan hanya ada lima orang yang membawa sepeda sendiri. Yang lain sepakat untuk menyewa saja saat di Bandung nanti.

Menu tradisional menggugah selera
Saat landing di Bandung, masih pagi.  Udara terasa sejuk. Kami ramai-ramai foto bareng, kompak dengan t-shrit bertuliskan Gowes to Bandung di bagian dada serta Kaltim Post di bagian punggung. Masing-masing peserta dibekali empat jersey oleh panitia yang nantinya akan dipakai dalam waktu berbeda.
 
Kami disambut kawan Fahmi yang rajin saling kontak menjelang ke berangkatan, kemudian dibawa ke Hotel Grand Preanger, hotel bintang lima yang menjadi homebase selama melakoni rangkaian tur. Sebelumnya mampir santap siang di Warung Nasi Ampera di Jl Padjadjaran 133. Makanannya lumayan mengenyangkan.
Foto bareng di Dago
Jadwal gowes bareng pertama adalah gowes malam, tujuannya Dago. Setelah rehat, kami bebas memilih sepeda masing-masing. Ada 17 sepeda disiapkan panitia. Sepeda sewaan ini macam-macam jenisnya, ada yang HT, AM dengan fulsusnya, ada  juga DH komplit dengan dual crown.

Sensasi Bandung sepeda malam
Sore itu saya mendapat tugas untuk mengecek sepeda satu persatu, baik rem, grup set, ban, sampai ke handle bar segala. Semua bagus. Sepeda sewaan ini bila diperhatikan seksama, adalah milik perorangan dari kelompok komunitas. 

Namun bila diperhatikan onderdilnya, terkesankalau sepeda yang biasa dipakai untuk medan berat. Bahkan sebagian masih tampak bekas-bekas lumpur menempel di ban.  Sewanya relatif murah, berkisar Rp 160 ribu per hari.

Di cafe Ngopi Doeloe sebelum ke hotel
Kawan-kawan yang tak membawa sepeda bebas memilih tunggangannya. Sementara lima rekan kami dari Mitra Bike Samarinda justru sibuk merakit sepeda Spesialized bawaannya.
 
Mereka adalah M Rozaly, Haidar Fachmi, M Wahyudi, Rusliansyah, dan Fikri Arief Perdana. Rampung merakit sepeda, sore itu pun mereka pun langsung menjajal aspal kota Bandung. Kelimanya tampak enjoy.

Loading sepeda ke Tangkuban Perahu
Selepas magrib kami siap-siap di parkiran hotel untuk memulai gowes mengelilingi kota Bandung. Iring-iringan gowes ini  dipandu klub motor Hotel Grand Preanger. Rute yang dilewati adalah Jalan Asia Afrika-Braga-Wastu Kencana, Riau, Citarum-Diponegoro, dan Ir Juanda atau yang lebih dikenal dengan Jalan Dago.

Kami sempat berhenti di depan Gedung Sate, pusat pemerintahan Jawa Barat yang dibangun tahun 1920 untuk foto bareng. Setelah itu meneruskan perjalanan ke kawasan Car Free Day (CFD) di Dago. Ramai sekali. Tampak muda-mudi kota kembang berkumpul. Selain sekadar nongkrong, mereka juga ada yang main skateboard.

Tujuan akhir kami adalah ke kafe Ngopi Doeloe, untuk menikmati jamuan makan malam. Setelah itu kami beriringan kembali ke hotel untuk istirahat. Sebagian peserta shopping.

(Hari Kedua)
Di Gerbang Cikole Jayagiri
Jadwal gowes selanjutnya hari kedua adalah Tangkuban Perahu. Pagi itu pukul 7.30 kawan-kawan sudah siap dengan jersey, helm, dan sarung tangannya masing-masing. Usai sarapan kami naik ke bus wisata untuk menuju puncak Tangkuban  Perahu yang jaraknya sekitar 28 kilometer.

Kenapa gak gowes dari hotel ke Tangkuban Perahu? Ini yang menggoda pikiran kami. Panitia dari EO Borneo Enterprisindo memang mengatur jadwalnya demikian. Pertimbangannya, kalau gowes mendaki ke Tangkuban Perahu khawatir rombongan akan kelelahan. Karenanya diputuskan untuk downhill saja dari Tangkuban Perahu. Lebih aman.

Cikole jadi tempat latihan sepeda
Lagian jalan menanjak ke Tangkuban Perahu lumayan dasyat! Panjang tanjakannya minta ampun, dan trek seperti ini tak pernah ditemukan di Kalimantan. Bagi kawan-kawan goweser Balikpapan, tanjakan adalah hal biasa. Apalagi goweser di komunitas Rabu Gowes rajin melahap tanjakan saban minggu.  Cukup terbiasa. 

Tapi itu untuk tanjakan pendek! Lah di Tangkuban Perahu ini jalan menanjaknya puanjang banget. Ampun deh…
Biasanya tanjakan di Tangkuban Perahu ini dijadikan tempat berlatih uphill atlet-atlet sepeda di Bandung. Kebetulan di pertengahan menuju Tangkuban Perahu juga ada Cikole Jayagiri, wadah outbond dan ada tempat latihan race sepeda.

Di puncak Tangguban Perahu
Lima anggota rombongan dari Mitra Bike Samarinda plus Ashari, goweser dari Penajam memutuskan untuk mendaki Tangkuban Perahu dari hotel Preanger di Jl Asia Afrika. Mereka tidak ikut rombongan dengan bus, tapi menggenjot sepeda. ‘’Ok lah kalau begitu, ga masalah,’’ tukas Mba Awal, bos Borneo Enterprisindo.
 
Sebelumnya saya berdiskusi dengan Ashari dan menyarankan sebaiknya ke Tangkuban Perahu down hill saja, ga usah uphill. ‘’Saya mau coba,’’ ujar rekan sekamar saya di Preanger itu.

Di atas kawah Tangkuban Perahu
Pagi itu keenam goweser ini yakin akan mendaki Tangkuban Perahu dengan sepeda. Kami pun berangkat dengan bus, sedangkan 17 sepeda diangkut menggunakan pick up.
 
Kami harus mengakui semangat tempur keenam rekan kami untuk menggowes ke Tangkuban Perahu, meskipun mereka harus ‘’menyerah’’ di tengah jalan dan dijemput dengan pick up.

Hampir dua jam dari Hotel Grand Preanger bus kami tiba di puncak Tangkuban Perahu, setelah singgah sejenak di Terminal Jayagiri, untuk kemudian meneruskan perjalanan ke puncak dengan mini bus.

Beradaptasi dengan cuaca dingin
Setelah foto bareng dengan latar belakang kawah Tangkuban Perahu, kami down hill menuju Graha Ciater. Jalan on road menurun ini cukup memacu andrenalin, dengan kecematan rata-rata 40 km/jam. 
Cuaca yang dingin membuat kami tak terbiasa. Apalagi saat itu gerimis kecil mewarnai perjalanan. Embun pun membuat pemandangan kami agak sedikit terganggu.

Meskipun aspal onroad dengan track menurun tak menyulitkan kami memacu sepeda, namun diperlukan ekstra hati-hati, lantaran banyak tikungan tajam di sepanjang jalan menurun di Tangkuban Perahu tersebut. 

Meluncur ke Graha Ciater
Yang membuat kami agak kagok, lantaran kurang familiar dengan tunggangan masing-masing. Maklum sepeda sewaan. Harus cepat beradaptasi, terutama dengan system rem. Karena ada posisi rem yang berbeda dengan kebiasaan sepeda masing-masing. Misalnya, rem belakang berada di posisi kiri handlebar. Sebaliknya demikian. 
 
Rem sangat penting. Karena track-nya full menurun, maka kami benar-benar mengandalkan rem. Sebagian sepeda sudah menggunakan disc brake, tapi ada juga yang masih rim brake. Begitu juga dengan shifter, ada yang hydraulic, ada juga yang biasa. Perlu adaptasi juga.

Rehat sejenak di perkebunan teh
Tiga kawan kami terpaksa tak melanjutkan perjalanan menurun tersebut, dengan alasan khawatir dengan system rem sepeda yang ditunggangi, masih mengandalkan rim brake. Akhirnya mereka diangkut dengan pick up.

Saya termasuk yang agak ragu memacu laju sepeda. Meskipun sepeda GT merah yang saya tunggani menggunakan shifter yang sudah hydraulic dan disc brake, tapi tetap saya harus fokus hati-hati. Beberapa kali roda belakang masih bergerak ketika saya rem di tikungan tajam. Apalagi aspal jalan basah, ada tantangan tersendiri.

Menikmati udara pagi yang sejuk
Jarak dari Tangkuban Perahu ke Graha Ciater gak terlalu jauh, kurang lebih 8 kiloan. Selain on road juga melintasi offroad, jalur double track di perkebunan teh daerah Lembang . Pemandangannya lumayan indah, namun sebagian dihiasi kabut. Udaranya pun  sejuk dan dingin.

Tak butuh waktu lama kami sampai di tujuan akhir di tempat peristirahatan sumber air panas Graha Ciater. Tempat peristirahatan ini dilengkapi dengan bar, restoran, dan kolam pemandian air panas.
Setelah menyantap lalapan yang jadi menu makan siang, kami menceburkan diri ke dalam kolam air panas. Relaksasi, melemaskan otot-otot kaki yang tegang. Guyuran hujan menambah semburan uap dari kolam air panas.

(Hari Ketiga)
Jadwal gowes pada hari ketiga adalah menuju kawasan Car Free Day (CFD) di Jalan Dago.  Barangkali lantaran keletihan, gowes pagi itu tak diikuti semua peserta tur. Karenanya, ada sejumlah sepeda yang nganggur. Kebetulan sepeda-sepeda sewaan ini diparkir di lobby hotel.

Di titik Nol Bandung siap-siap gowes
Subuh itu hati saya terbersit untuk menukar sepeda. GT merah yang saya tunggangi dari hari pertama, saya tukar dengan sepeda United Patrol AMP yang di-setting seperti sepeda down hill. Tertarik saja untuk mencicipi Patrol Amp, lagian kangen dengan Patrol yang nangkring di rumah.
 
Sementara kawan-kawan rombongan masih melungker  di tempat tidur, Subuh itu pukul 5.00 waktu Bandung, saya sudah pemanasan gowes mengitari jalan-jalan utama di sekitar Asia Afrika, sampai Dago. Dua jam cukup. Karena pukul 7.00, peserta sudah harus ngumpul di lobby untuk berangkat bareng di kawasan CFD.

Usai sarapan pagi, kami mulai aksi gowes barang lagi, menuju kawasan CFD yang jaraknya relatif dekat. Hanya beberapa menit sudah sampai di lokasi yang sangat ramai tersebut. Ribuan masyarakat Bandung tumplek blek di kawasan ini untuk berolahraga. Ada yang jogging, senam pagi, bersepeda, sampai yang sekadar mejeng cuci mata. Padat sekali pagi itu.
Iring-iringan rombongan kami di CFD sempat bertemu dengan komunitas Paguyuban Sepeda Baheula Bandung. Kebetulan mereka hari itu berkumpul untuk merayakan hari jadinya yang ke-8. Kami pun berkenalan dan foto bareng. Ada suasana keakraban antara pesepeda Kalimantan dan pesepeda ontel Bandung. Sama seperti komunias sepeda ontel di Balikpapan, hari itu mereka juga mengenakan kostum-kostum tempoe doeloe. Seru juga.

Bersama paguyuban Sepeda Baheula Bandung di CFD
Mereka berkumpul untuk merayakan ultah, sekaligus merencanakan event Bandung Lautan Ontel. Wah, mantap ya. Di Bandung kabarnya sudah ada lima ribu ontelis. Luar biasa!

Sahabat Mitra Bike Samarinda
Pagi itu juga kami sempat foto-foto bareng diengan Michael Chandra, presenter RCTI yang kebetulan sedang take gambar untuk liputan Seputar Indonesia di bawah flyover Pasupati masih di kawasan CFD.

Setelah dari CFD kami meluncur ke Jalan Diponegoro untuk berbelanja di pasar dadakan tersebut, dan tentu berbelanja onderdil sepeda. Beberapa saat kemudian kembali ke hotel untuk siap-siap check out.

Lalu meneruskan perjalanan menuju Bandara Husein Sastranegara untuk terbang kembali ke Balikpapan. Tuntas sudah rangkaian tur gowes kami di awal Februari 2013 itu. Bandung asyik. Salam untuk goweser Kota Kembang. (*)




Jumat, 16 Agustus 2013

Trek Sulit di Bukit Bangkirai


Main-main di Bukit Bangkirai, asyik juga. Kali ini gowes berdua saja, namun tetap seru dan menantang. Taman wisata alam di Samboja, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur ini menjadi memang menjadi salah satu referensi rute bagi pecinta sepeda alam di Bumi Etam. 

Jalan masuk ke arah Bukit Bangkirai
Dari kota Balikpapan jaraknya lumayan jauh juga. Bila dihitung dari titik nol bundaran Muara Rapak, sekitar 50 kilometeran. Persis di Km 38 beberapa meter sebelum simpangan jalan provinsi Soekarno-Hatta arah menuju kota Samarinda dan arah Samboja, di sebelah kiri jalan terpampang tulisan besar; Anda Memasuki Kawasan Bukit Bangkirai.

Masuk lewat trek Djamaludin
Dari titik ini ke arah kiri sekitar 22 kilometeran untuk menuju kawasan Taman Wisata Alam Bukit Bangkirai. Saya gowes ke tempat ini bukan dari kota Balikpapan, meskipun jaraknya relatif tak kelewat jauh. Untuk menghemat tenaga, maka saya putuskan gowes dari Km 38 saja menuju arah Sepaku.
Pohon tumbang jadi penghalang

Menuju ke tempat wisata ini meskipun jalur on road, lumayan membuat keringat mengucur deras. Beberapa tanjakan mesti dilewati dengan sabar. Memang ada akses offroad untuk menuju kesana, namun saya mempertimbangkan; hanya berdua dan resiko lain di tengah hutan. Beberapa komunitas sepeda gunung di Balikpapan secara  berkelompok beberapa kali menembus taman wisata hutan tropis ini melalui jalur offroad, tentu dengan berbekal peralatan GPS.  Rute ini sangat menantang.
Hutan eksotis masih terjaga

Saya sarankan bila gowes ke lokasi Bukit Bangkirai yang terkenal dengan Canopy Bridge (Jembatan Gantung) ini sebaiknya pagi hari, sebelum sinar matahari menyengat.  Dan jangan lupa bawa bekal yang cukup. Seperti air minum. Sebab, dapat dipastikan dehidrasi akan menyerang.

Sangat sulit bila ingin menjelajahi kawasan Bukit Bangkirai ini dengan sepeda. Selain beresiko tinggi, fisik juga harus prima. 

Perlu rehat sembari menikmati keindahan hutan
Hutan konservasi seluas 1.295 hektare ini memang terkesan masih hutan rimba dengan pohon-pohon yang besar. Ada 510 hektare didominasi pohon bangkirai. Februari 2013 lalu seorang crosser Australia, Headley Michael Adrian tewas di kawasan Bukit Bangkirai dalam kejuaraan lintas medan motor trail.

Menerobos karena tak ada pilihan
Bila ingin menikmati suasana hutan dengan sepeda, cukup gowes di sekitar Canopy Bridge saja. Ada suasana yang berbeda berpetuang di alam bebas seperti ini. Selain tanaman tropis dan pohon-pohon tinggi dengan batang berdiameter besar, kekayaan flora fauna di kawasan ini cukup terjaga. 

Di kawasan yang dikelola PT Inhutani I ini memang banyak pohon-pohon bangkirai berusia ratusan tahun. Kayu pohon ini sangat baik bila dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Di Kaltim, banyak kayu bangkirai dijadikan kusen daun pintu karena memang dikenal kuat, selain kayu ulin sendiri yang cukup terkenal itu. Tak heran bila Bukit Bangkirai tetap menjadi incaran perambah hutan demi kepentingan kantong pribadi.

Single track mesti dilewati
Oh iya, di kawasan sekitar Canopy Bridge sendiri ada beberapa single track yang lumayan mengasikkan bila digowes. Untuk menuju Canopy Bridge ada beberapa akses pintu masuk, salah satunya Trek II Jamaluddin. Dari sini hanya sekitar 300 meter, tapi jalannya tak mulus, ada beberap drop off kecil dan obstacle yang mesti dilintasi. Pas untuk sepeda jenis fullsus.

Selain Trek II Jamaluddin, ada juga akses melalui Trek I M Prakosa. Jaraknya lebih pendek hanya 150 meter. Tapi untuk masuk ke area Canopy Bridge, saya tak melewati dua trek itu, melainkan mengambil rute di belakang cottage, melalui jembatan kecil. Trek satu ini lebih asik dan menantang! 

Duri harus dihindari
Dari kaki Canopy Bridge juga ada jalan menuju kawasan konservasi alam, dimana hutannya cukup rindang. Pohon-pohon dan vegetasi alam disini masih terjaga dengan alami. Bila gowes meski sedikit hati-hati, karena tak sedikit ranting dahan yang jatuh ke tanah cukup menghalang, terutama dahan kering dari pohon jenis palem yang durinya berbahaya bagi ban sepeda.

Menerobos lintasan single track dengan ilalang setinggi dua meteran, kita mendapatkan suasana yang berbeda. Agak sulit dan mengganggu pandangan mata, tapi boleh dibilang lumayan eksotis. Di sisi kiri kanan jalan pohon-pohon rotan muda menjuntai ke bawah, dan sebagian juga membentang di tengah jalan. Andai tidak hati-hati, RD sepeda bisa tersangkut dan tentu berakibat fatal. Selain itu ada beberapa batang pohon tumbang yang membentang di trek.

Canopy Bridge tujuan wisatawan
Ada juga anak sungai yang mesti kita lewati bila ingin mengambil jalan pintas. Airnya dingin dan  lumayan bersih. Saat berada di kawasan ini, saya sempat bertemu dengan sejumlah tentara dari Kopasus yang sedang melakukan latihan di kawasan ini.

Main-main di kawasan wisata Bukit Bangkirai memang mengasyikkan.  Pemandangan hutan alami kita dapatkan. Selebihnya: pemandangan lahan gundul!

Sensari di Canopy Bridge
Tujuan utama wisatawan ke tempat ini adalah ke Canopy Bridge, jembatan gantung setinggi 30 meter dengan panjang 64 meter yang terkenal itu. Dari ketinggian ini kita dapat melihat pemandangan hutan yang eksotis. Setiap pengunjung mesti bayar. Tapi saya gak bayar, lantaran pagi itu petugasnya belum ada. Sepeda fullsus pun saya pikul naik ke Canopy Brigde. Agak aneh, tapi seru dan berbeda. Ada angin sepoi-sepoi. Sensasi.
Ada obstacle di jalau masuk
 Di tempat wisata alam ini juga terdapat sarana restoran, ruang pertemuan, cottage, jugle cabin dan arena outbond. Wisatawan banyak ke tempat ini. Tak terasa hari sudah siang, pukul 12.15 Wita, saya berdua untuk putuskan keluar dari trek hutan tropis itu, kemudian rehat di sekitar cottage untuk santap bekal makan siang. Ada rasa lega. (*)

Rabu, 14 Agustus 2013

Meski Harus Haus, Gowes Tetap Joss

Pola hidup sehat dengan berolahraga sepeda setiap hari memang ada kenikmatan tersendiri. Pokoknya tiada hari tanpa gowes. Inilah yang dilakukan komunitas para pecinta sepeda gunung (MTB) di Balikpapan. Saat Ramadan, mereka pun tetap menggeber gowes bareng saban Rabu sore. Gowes tetap joss, puasa pun tetap ok.


Gowes Rabu di Kawan Bike
Puasa hari pertama Rabu10 Juli 2013 yang bertepatan dengan jadwal Rabu Gowes saban minggu, seyogianya ditiadakan. Ternyata tidak bagi komunitas sepeda di Rabu Gaul Community (RGC) Kaltim Post. Mereka tetap saja berkumpul pukul lima sore, kemudian menggenjot sepeda masing-masing, naik turun jalan berbukit.

Meski sebagian besar mereka menjalankan ibadah puasa, tentu bukan hal yang menjadi penghalang berarti. Rute-rute yang ditempuh pun tak berbeda dengan gowes pada Rabu-rabu seperti biasanya. Tetap saja menikmati tanjakan demi tanjakan.

Sore itu kami berkumpul di Kawan Bike Shop di kawasan Gunung Malang, Jl Mayjen Sutoyo. Memang peserta gowes sore itu tak kelewat banyak dibanding Rabu Gowes seperti biasanya. Dimaklumi, ada sebagian anggota yang sibuk untuk menyambut Ramadan hari pertama.

Siap-siap menuju lokasi kebakaran
Ada yang berbeda gowes sore itu.  Arus lalu lintas sebagian jalan-jalan utama di kota Balikpapan padat merayap. Maklum sebagian masyarakat sibuk mencari jajanan berbuka puasa di hari pertama Ramadan, lagian bertepatan dengan waktu pulang kantor. Macet di sana-sini. Para penggowes sedikit menghadapi hambatan untuk mengayuh cepat sepeda masing-masing.

Mendaki tanjakan di Asrama Bukit
Setelah melahap rute-rute menantang sore itu, disambung dengan acara buka puasa bersama. Nikmatnya luar biasa. Rasa dahaga yang begitu memuncak setelah menguras energi, terasa berbeda ketika dilanjutkan dengan meneguk es kelapa muda saat buka puasa. Semangat untuk gowes bareng di hari pertama puasa ini tak lain prakarsa Henky dkk dari Kawan Bike.


Seminggu kemudian Rabu, 17 Juli 2013, jadwal Rabu Gowes digeber lagi. Kali ini sebagai host adalah Hotel Blue Sky di Jl Letjen Suprapto No. 1 Balikpapan. Kali ini pesertanya lumayan banyak. Kegiatan gowes bareng ini dipadu dengan aktivitas sosial, yaitu memberikan sumbangan bagi korban musibah kebakaran di Jl Dahor III Kelurahan Baru Ilir. Kebakaran yang menghanguskan hampir seratus  rumah penduduk ini terjadi minggu pertama Ramadan 1434 H.
Seremonial penyerahan bantuan korban kebakaran
Kami berkumpul di parkiran Hotel Blue Sky sebelum gowes bareng ke lokasi kebakaran yang jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel. Di belakang iring-iringan kami ada satu unit mobil gowes yang membawa bantuan untuk korban kebakaran.

Penyerahan bantuansecara simbolis dilakukan Ketua Besar Rabu Gowes HM Idris kepada Lurah Baru Ilir Arsulul Chairi. ‘’Bukan nilainya yang dilihat,tapi kepedulian kami sesama manusia,’’ ujar HM Idris. Bantuan spontanitas dari para goweser ini berupa kompor gas dan peralatan memasak.

Buka puasa bareng di Hotel Blue Sky
Sore itu setelah menyerahkan bantuan di posko kebakaran, kami gowes menuju lokasi kebakaran yang memang berada di atas bukit. Lumayan juga tanjakannya.  Kami bersepeda di antara puing-puing kebakaran. Dengan suasana yang berbeda, tak terasa dahaga di tenggorokan menggoda. Goweser tetap saja semangat 45.

Yang menarik, setelah dari lokasi kebakaran kemudian melahap satu tanjakan di kawasan Asrama Bukit, kami juga gowes menurun menelusuri Jl Sepaku untuk menuju perkampungan di atas laut di Kelurahan Baru Ulu. Di jembatan ulin yang membentang di atas air ini kami rehat sejenak menikmati panorama laut. Indah sekali. Rasa haus nyaris tak terasa, diterpa sepoi angin pantai. Beberapa saat kemudian rombongan gowes kembali menuju Hotel Blue Sky.


Mejeng di parkiran CBD sebelum gowes
Beberapa menit setelah sampai, tiba saatnya berbuka puasa. Hotel bintang tiga yang terkenal dengankelezatan makanannya itu, benar-benar menyuguhkan santapan buka puasa yang luar biasa. Manajemen hotel yang dipimpin General Manager Blue Sky Hotel Joko Budi Jaya memang perlu mendapat acungan jempol berkali-kali. Tengkyu banget Pak Budi.

Alamak (kanan) goweser senior
Minggu ketiga jadwal Rabu Gowes tanggal 24 Juli mengambil tempat di CBD (Central Business District) yang berada di bilangan Balikpapan Sport and Convention Center (Dome) di Jl Ruhuy Rahayu, Ringroad. Puluhan goweser berkumpul kembali di sini. Meski sebagian besar peserta menjalankan ibadah puasa, sore itu kami tetap menelusuri rute-rute yang cukup menantang dengan beberapa tanjakan. 

Begitu start sudah berhadapan dengan jalan berbukit di belakang kantor KNPI, persis menuju arah kantor Balai Monitoring. Setelah itu menelusuri jalan on road ke arah Bendali II. Setelah melewati beberapa tanjakan yang lumayan menguras keringat, iring-iringan goweser pun kembali ke markas CBD. 

Srikandi Rabu Gowes tetap semangat
Rute yang dilewati sore itu menurut leader Pak Yoyok , seharusnya menembus trek off road di seputaran perumahan Regency, kemudian kembali ke CBD lewat depan Polda. Namun kami putuskan untuk tak meneruskan perjalanan lantaran sebagian peserta tampak kelelahan. Maklum puasa. Apalagi beberapa goweser menggunakan sepeda down hill yang bobotnya lumayan berat.

Setelah para goweser berada di perumahan Perusda II akhirnya kami putuskan untuk kembali ke CBD melewati jalan Ruhuy Rahayu depan Dome. Sesaat kemudian acara buka puasa bareng manajemen CBD pun tiba, dilanjutkan salat magrib berjamaah.

Di kediaman Pak Joko ketua BCC
Rabu Gowes selama Ramadan ini terbilang istimewa. Tidak saja mengambil jadwal hari Rabu sore,tapi juga ditambah ekstra Sabtu 27 Juli 2013. Kali ini mengambil tempat start di kediaman Pak Joko, Jl Markoni. Pak Joko adalah ketua Balikpapan Cycling Community.  Rute yang ditempuh pun tak berbeda dengan gowes-gowes sebelumnya, namun lebih kepada jalur on road. Tak ada trek yang kelewat menantang, hanya ada dua tanjakan di Jl MT Haryono dan tanjakan di jalan Sungai Ampal.
Rabu tanggal 31 Juli adalah jadwal Rabu Gowes terakhir di bulan Ramadan. Tempat berkumpul kami di Fave Hotel Jl MT Haryono. Hotel baru ini terletak di atas bukit di sisi kiri jalan. Untuk menuju parkiran hotel, para goweser harus ekstra tenaga menggenjot sepeda masing-masing. Lumayan juga.

Gowes di Fave Hotel terakhir di bulan Ramadan
Rute yang kami tempuh sore itu juga cukup menguras energi. Dari Jl MT Haryono Dalam, mengambil rute menantang tanjakan di Perumahan Balikpapan Kota dengan kemiringan nyaris 45 derajat. Satu dua goweser pemula sedikit kewalahan di trek ini. Bahkan sebagian kecil tak mengambil risiko dengan memutar balik arah. Maksudnya tak mencicipi tantangan ini. ‘’Yang puasa jangan dipaksakan ya,’’ celetuk seorang goweser.
Memang harus dimaklumi. Andai saja sebagian peserta tidak sedang menjalankan ibadah puasa, tentu persoalannya berbeda. Akhirnya kelompok terbagi dua. Yang kurang tertarik menantang tanjakan perumahan Balikpapan Kota, akhirnya mengambil rute perumahan Balikpapan Baru, dan meneruskan perjalanan ke Jalan Beler dan kembali berakhir di Fave Hotel.

Rehat sejenak di kampung atas air
Sementara rombongan di kelompok awal rehat sejenak di atas bukit perumahan Balikpapan Kota sembari menunggu goweser lainnya, Mas Yoyok leader RGC mengajak bincang-bincang sejenak, diskusi seputar rute selanjutnya. Dan diputuskan untuk melahap jalur off road. Ok sajalah.

Trek yang diambil adalah sisi barat Camp Buth Hill, lokasi yang dijadikan goweser Balikpapan untuk latihan off road. Di tempat ini juga pernah digelar race.
Saat jalan tanjakan pertama, para goweser harus menuntun sepeda masing-masing. Tanah yang permukaannya berberak dengan kemiringan yang lumayan curam agak sulit bagi goweser untuk melintasi rute ini. Meskipun sebagian peserta melengkapi sepedanya dengan ban yang cukup baik, namun tetap saja ban belakang kehilangan traksi. Tak apalah. Sepeda pun dituntun ke atas bukit yang tak terlalu jauh.

Sore itu para goweser melahap jalur single track di sisi pagar perumahan Total Indonesie, untuk kemudian menembus jalan besar, yaitu Jl Marsma Iswahyudi di kawasan Sepinggan. Trek selanjutnya menelusuri tanjakan Jl Syarifuddin Yoes, kembali ke MT Haryono Dalam, dan berakhir di parkiran Fave Hotel.

Setelah itu acara buka puasa bersama. Kami putuskan Rabu Gowes 7 Agustus ditiadakan, lantaran esoknya bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Sampai jumpa di Rabu Gowes berikutnya. (*)








Kamis, 11 Juli 2013

Bersepeda Beda di Mal Malam



Ada yang berbeda bila bersepeda di malam hari. Selain tak menantang terik matahari, suasananya juga tak kalah asyik. Apalagi gowesnya dilakukan di seputar mal. Tema gowes yang diusung kali ini adalah; Jadilah GenerAKSI HIJAU.

Gowes malam ini diprakarsai PT Astra International Tbk cabang Balikpapan, menggandeng mitra Kaltim Post Group. Ada sekira 500 pesepeda ambil bagian di area parkir Mal Balcony City di Jl Jenderal Sudirman, 29 Juni 2013 lalu.

Siap-siap gowes di mal malam hari
Rute yang ditempuh goweser ini juga boleh dibilang rada unik, yaitu hanya mengelilingi arena parkir lantai tiga mal yang jaraknya relatif sangat pendek. Dijamin peserta tak akan banjir keringat.

Setelah keliling mal, langsung finish dan pembagian doorprize yang diwarnai dengan hiburan musik. Simpel banget rutenya.

Pada malam itu juga diresmikan Astra Gowes Community (AGC) yang beranggotakan partner kerja dari Astra Group yang terdiri dari 28 perusahaan yang terbagi atas enam lini bisnis, yaitu  perusahaan otomotif, keuangan, alat berat, agrobisnis, infrastruktur, dan perusahaan IT. AGC  telah memiliki anggota 130 orang.

Gowes putarin mal tetap asyik
Sedianya acara gowes malam itu tidak mengambil rute seputar mal. Melainkan start dari parkiran Mal Balcony City, kemudian menelusuri Jalan A Yani (Gunung Sari), Jalan Mayjend Sutoyo (Gunung Malang), ke arah Jalan Jenderal Sudirman, dan berakhir kembali di parkiran Mal Balikpapan City. Bila digowes lumayan berkeringat.

Yang penting bisa ngumpul bareng
Namun rute yang dipatok panitia tersebut urung digowes peserta, lantaran menurut keterangan tidak mendapat izin dari pihak keamanan. Iring-iringan pesepeda ini dikhawatirkan akan membuat jalan-jalan utama macet, apalagi malam minggu.

Meskipun tak dapat izin, gowes tetap saja dilaksanakan hanya di lingkungan mal. Ratusan peserta pun tetap setia mengikuti acara tersebut hingga pembagian doorprize dengan hadiah utama sepeda motor.

Sebelum pengundian hadiah utama, panitia mengumumkan kepada peserta yang ingin menggowes kembali di sekitar mal, atau keluar lingkungan mal. Kesempatan ini dimanfaatkan ratusan peserta untuk menggowes ke arah Lapangan Merdeka Jalan Jenderal Sudirman. Iring-iringan pesepeda yang diwarnai dengan kerlap-kerlip lampu ini tetap tertib dan tidak mengganggu kepadatan arus lalu lintas malam minggu itu.

Gowes di mal nyaris tak berkeringat
‘’Kurang asyik kalau gowes seputar mal, lebih baik ke jalan raya menuju Lapangan Merdeka,’’ ujar Ibrahim, salah satu goweser yang malam itu terkesan siap untuk gowes malam. 

Setelah mengitari Tugu Australia di bilangan Lapangan Merdeka, ratusan peserta kembali ke arah Balcony dan menuju panggung hiburan yang terletak tak jauh dari pinggir pantai itu untuk menyaksikan penarikan undian utama berupa motor matic. Grand prize ini diraih Syaparudin warga Gunung Rejo Karang Jati Balikpapan.

Penyobekan doorprize
Gowes malam itu dihadiri Koordinator Wilayah Group Astra Balikpapan Guntur Susilo, Kepala Cabang UD Trucks Januar Lubis, CEO Kaltim Post Group Ivan Firdaus, dan beberapa pemimpin perusahaan yang tergabung dalam Astra Gowes Community (AGC).

"Gowes malam sesuatu yang unik sekaligus kampanye ramah lingkungan dengan bersepeda," ujar Koordinator Wilayah Group Astra Balikpapan Guntur Susilo, seperti dilansir Kaltim Post.
Syaparudin (tengah) dapat motor
Dengan mengusung tema Jadilah GenerAKSI HIJAU, Astra Group Balikpapan mengajak warga untuk lebih peduli terhadap lingkungan hidup. "Dengan konsep Astra Green Lifestyle, kami berharap bisa mewujudkan masyarakat yang peduli lingkungan. Dengan melakukan beberapa kegiatan-kegiatan dalam melestarikan lingkungan hidup," tambah Guntur. (*)