Sabtu, 27 Oktober 2012

Mendung di Hutan Lindung


Tujuan gowes kali ini adalah Hutan Lindung Sungai Wain. Wisata alam hutan tropis di sebelah utara Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Tak ada keramaian disana, hanya sepi merajut padat hijau dedaunan. Batang-batang pohon besar menjulang kokoh. Satu atau dua di antaranya tampak kering, ujungnya bekas terbakar petir.

Pintu masuk Hutan Lindung
Suasana hening menyambut pagi itu. Hanya terdengar suara binatang-binatang kecil dari kejauhan, nyaris tak melihatkan wujudnya. Sinar matahari pagi menerobos dedaunan, memaksa menyebarkan cahayanya di antara rimbun pepohonan. Embun di pelepah pun perlahan mengering.

Suasana sekitar memang benar-benar sepi. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. ‘’Ini hutan bung, bukan kota!’’ Saya bergumam dalam hati. Lha iya la.. Lagian ngapain pakai ke hutan segala. Huh…kata-kata itu menggoda pikiran dalam hati. Emangnya gak ada tempat lain untuk bersepeda? Bener juga sih.
Muncul rasa keder. Berani atau tidak? Saya urungkan untuk menerobos ke belantara Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) seorang diri. Selain jalan setapak dan agak sulit dijelajahi dengan sepeda, tujuan ke perut HLSW harus jelas. Disamping itu memang harus ada izin dari Badan Pengelola HLSW.

Direktur Badan Pengelola HLSW Purwanto suatu ketika sebenarnya pernah mengajak saya bersama rekan-rekan jurnalis untuk masuk ke perut HLSW, tapi disarankan waktu malam hari. Lho kok malam? ‘’Kalau malam bagus mas. Ada pemandangan indah. Kita bisa melihat tumbuhan hutan yang mekar dan mengeluarkan cahaya dari zat fosfor,’’ ujarnya dalam suatu perbincangan.  Di dalam hutan ini ada posko Camp Djamaluddin yang terbuat serba kayu ulin, nama ini diabadikan dari nama pejabat di Kementerian Kehutanan kala itu. Sampai sekarang, keinginan menerobos HLSW malam hari itu belum juga terwujud. Tak apalah.

Jalanan masuk ke HLSW
Gowes minggu pagi masuk ke dalam HLSW itu praktis saya urungkan. Lagian ada tanda-tanda mendung di langit.  Saya pikir, cukup di pinggirannya sajalah. Yang penting bersepeda menikmati udara pagi di sekitar HLSW sudah kesampaian.

Bila di tempuh dari titik nol bundaran Muara Rapak Jalan Soekarno-Hatta, lokasi HLSW terletak di Km 15, belok ke arah kiri. Dari sini masuk ke dalam menempuh jarak sekitar 9 kilometer. Perjalanan bersepeda ke HLSW di wilayah Kelurahan Karang Joang ini lumayan mengasikkan. Selain itu medan yang ditempuh melulu beraspal, jadi tak ada kendala. Begitu mulai memasuki lokasi HLSW baru bertemu dengan jalanan kurang sempurna. Seperti makadam dengan bebatuan.

Sekitar Hutan Lindung dipagar
Di ujung jalan kita akan jumpai Pusat Informasi HLSW. Banyak hal yang bisa kita dapatkan di tempat ini. Kebetulan saya bertemu dengan Agung, kawan lama satu kantor. Ia sudah enam tahun tinggal di sekitar HLSW. ‘’Saya tinggal di gazebo mas bersama istri,’’ ujarnya pagi itu sembari tukar menukar nomor handphone.

Kami menyita waktu sejenak untuk ngalorngidul saling tukar kabar. Dari cerita masa lalu hingga informasi seputar HLSW. Bahkan, Agung sempat menawarkan investasi ternak ayam potong senilai Rp 360 juta yang lokasinya tak jauh dari situ.
Perjalanan saya menggowes hanya sampai di Pusat Informasi HLSW, kemudian kembali ke kota. Lintasan tembus menuju jalan Andi Baso ke Km 13 tak saya tempuh. Mungkin lain waktu.
Di dekat Pusat Informasi HLSW ini ada perkampungan warga. Ada juga kompleks Perumahan Pertamina, karena tak jauh dari situ terdapat reservoir milik Pertamina yang airnya didistribusikan ke perumahan Pertamina di Gunung Pipa, Kelurahan Karang Joang, Balikpapan. Air ini disedot dari tanggul Sungai Wain, kemudian disalurkan melalui pipa sepanjang 25 Km. Sungai Wain ini panjangnya 18.300 meter.

Papan pemberitahuan Badan Pengelola HLSW
Kebetulan saya pernah melakukan napak tilas menelusuri pipa besar tersebut tahun 2009, keluar masuk hutan dengan kawan-kawan di Balikpapan Televisi untuk pembuatan film dokumenter. Jalur pipa yang melintas jalan di Km 13 dan tembus ke Kelurahan Kariangau dan Karang Joang ini sebenarnya asik juga untuk rute gowes offroad. Banyak rute single track. Kedepannya akan saya agendakan.

Hutan lindung seluas 10.025 hektar yang merupakan paru-paru kota Balikpapan ini berbatasan dengan Kabupaten Kutai Kertanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara. Di sekitar HLSW asik juga bila dijadikan rute sepeda offroad. Namun harus mendapat izin terlebih dahulu. Kira-kira diizinkan gak ya?

HLSW dilindungi Peraturan Daerah, karena itu rasanya agak sulit mendengar suara bising gergaji mesin milik pembalak liar untuk merobohkan batang-batang pepohonan demi keuntungan pribadi. Ada petugas kehutanan berseliweran di HLSW. Bila ketahuan menebang, akan repot urusannya.

Sungai Wain tenang tapi berbahaya
HLSW juga banyak menyimpan cerita mistik. Agustus 2008 lalu, seorang wanita bule Jindra Bromova usia 45 tahun tersesat di tengah hutan ini. Ia tertinggal oleh anaknya yang kebetulan seorang relawan yang sedang melakukan penelitian di HLSW. Berhari-hari tersesat tak ditemukan, dan akhirnya muncul di pinggiran dekat Pantai Lango Penajam Paser Utara dalam keadaan fisik yang drop. Selama itu ia hanya mengonsumsi kerang laut. Kejadian itu sempat memunculkan spekulasi pendapat. Ada yang mengatakan,  wanita bule asal Ceko itu disembunyikan genderowo HLSW. Walahualam.

Ada juga kejadian nenek Sari, warga sekitar yang tewas disambar buaya di pinggiran Sungai Wain saat memancing ikan. Sungai ini memang berbahaya karena masih banyak habitat buaya. Padahal pengelola HLSW sudah memasang plang tulisan Dilarang Memancing.
Masih di sekitar jalan menuju pusat informasi hutan konservasi ini, juga terdapat Kebun Raya Balikpapan, yang menjadi hutan pusat penelitian.

Sungai Wain ini mengingatkan saya ketika berada di pinggir Sungai Rhein di Jerman. Mirip-mirip namanya. Bedanya, panorama pinggir Sungai Rhein sangat indah. Sedangkan di Sungai Wain, banyak buayanya…(Lho, ga nyambung ya?)

Pusat Informasi di HLSW
Yang pasti, Hutan Lindung Sungai Wain harus dijaga dan dilestarikan. Termasuk flora dan fauna di dalamnya. Disinilah terdapat hewan endemik Beruang Madu yang menjadi maskot kota Balikpapan. Ada juga Macan Dahan, Harimau Tutul, Burung Merak, Rusa Kuning, Bekantan dan Babi Berjanggut. Selain itu HLSW juga menyimpan potensi kayu bernilai ekonomis tinggi, seperti kayu Bangkirai (Shorea laevis), Ulin (Eusideroxylon zwageri), dan Gaharu (Aquilaria malaccensis).
Sebenarnya tanggungjawab menjaga HLSW ini bukan berada di pundak pemerintah saja, tapi juga semua unsur masyarakat. Lewat lagu, kami pernah menggarap album berisikan tembang puja-puji dan sosialisasi HLSW bersama kelompok nyanyi Palm Duo Plus, kebetulan saya menjadi music director-nya. Dua diantaranya berjudul Sungai Wain dan Beruang Madu.

Ukiran pohon di gerbang  HLSW
Setelah itu menyusul album musik pop tingkilan A&R Studio yang salah satu lagunya juga mempromosikan tentang Hutan Lindung Sungai Wain, seperti lagu Burung Nirwana.

Judul ini digambarkan oleh penciptanya Oemy Facessly, salah satu unggas yang harus dilindungi di HLSW. Tapi saya gak pernah melihat wujud Burung Nirwana itu. Bagaimana Bu Oemy Facessly? Jauh sebelumnya Adji Qomara Hakim dari Samarinda juga mengalbumkan lagu-lagu tentang HLSW. Termasuk penyanyi balada Ully Sigar Rusady yang menciptakan lagu tentang Hutan Lindung Sungai Wain.
Nama HLSW ini susah luntur dari ingatan. Saya pernah punya pengalaman yang unik ketika menjalankan aktivitas jurnalistik. Waktu itu saya mendapat tugas dari pimpinan untuk meliput kegiatan aktris terkenal Julia Roberts untuk syuting film dokumenter tentang orangutan yang lokasinya di HLSW, berjudul In the Wild: Orangutan with Julia Roberts tahun 1998.

Saya bersemangat memburunya hingga ke HLSW. Tak sempat berjumpa dengan artis berhidung bangir itu, mobil kijang merah maron yang ditumpanginya berselisihan persis di jalan masuk HLSW. Mereka keluar, saya masuk. Tak mau kehilangan akal. Mobil Julia Roberts saya buntuti hingga ke Hotel Dusit Inn Balikpapan (sekarang Hotel Le Grandeur) tempat ia menginap.

Mampir di Kebun Raya Balikpapan
Persis di depan lobi, saya turun duluan dari mobil, dan langsung memasang ancang-ancang dengan kamera kebanggaan, Cannon jadul. Kamera langsung saya arahkan ke Julia Roberts yang berjalan menuju lobi hotel. Tapi apa lacur! Tiba-tiba lensa kamera saya ditutupi oleh sepatu sejenis dokmart milik bodyguard Julia Roberts. Pria berambut panjang dikuncir itu memegang leher saya. Lantas menghalangi dan menggiring saya menjauh dari sang artis. 

Dia memberikan isyarakat, separo berteriak.  ‘’Anda jangan difoto! Harus bayar 5 ribu dolar! Satu foto!’’ Alamak!!! Yang bener aja brur!
Kemudian saya berontak berusaha melepaskan diri dari pegangan erat sang bodyguard. Julia Roberts terus menghindar dan lari bersembunyi di dalam toilet lobi hotel. Saya menunggunya. Sampai pada akhirnya pihak hotel memohon pengertian untuk tidak mengganggu tamunya. Okey deh.  Julia Roberts pikir waktu itu saya paparazi apa? Huh, si Pretty Women.

Pelawan Park di Kebun Raya Balikpapan
Belakangan setelah film dokumenter itu beredar, ternyata pria berambut kuncir itu adalah sutradara dari Tiger Production, yang menggarap film orangutan di HLSW itu. Oalah byung, sempat kesel nih. Capek deh.

Meski tak dapat mengambil langsung fotonya, kami juga mendapatkan foto ekskusif Julia Roberts dan aktivitas orangutannya saat berada di Camp Djamaluddin. Ini berkat bantuan Willy Smith, aktivitas lingkungan pendiri BOS (Balikpapan Orangutan Society) yang asal Belanda. (*)


Minggu, 21 Oktober 2012

Bakau Memukau di Kariangau


Lupakan sejenak sejumlah pemandangan indah potensi wisata kota Balikpapan yang berada di kawasan timur. Kali ini jadwal gowes ke Kelurahan Kariangau, menuju salah satu perkampungan penduduk tepi laut yang berada paling ujung Balikpapan Barat. Apa yang didapatkan disana?

Angin cukup kencang di ujung jembatan
Bersepeda minggu pagi di sepanjang Jl Sultan Hasanuddin, Kelurahan Kariangau, Kecamatan Balikpapan Barat, Kalimantan Timur, sungguh melelahkan. Sangat berbeda bila bergowesria menelusuri sepanjang Jalan Mulawarman Balikpapan Timur, dimana kita akan menjumpai sejumlah objek wisata, seperti Pantai Manggar Segarasari, Pantai Wisata Lamaru, Penangkaran Buaya, Situs Makan Jepang, tempat pemancingan dan lain-lain.

Lantas apa yang didapatkan di Kariangau Balikpapan Barat? Pemandangan hijau membentang, yaitu hutan bakau atau mangrove yang berada di bibir laut. Itu saja? Tentu tidak. Kali ini saya mencoba menggowes sepeda ke RT 1 Kelurahan Kariangau yang letaknya paling ujung. Ada apa ya disitu? Jembatan ulin terpanjang di Indonesia. Panjangnya 800 meter dengan lebar dua meteran.

Jembatan diapit mangrove
 Sebenarnya sudah lama saya berhasrat menggenjot sepeda ke Kariangau ini. Akhirnya kesampaian juga, meskipun harus didera letih. Sebab ada beberapa tanjakan sepanjang jalan yang harus dilalui, toh gak ada jalan lain. Penggowes siapa saja pasti bisa menuju perkampungan ini. Syaratnya: tentu harus sabar.

Saya beberapa kali harus istirahat. Dan pada sebagian tanjakan juga harus menuntun sepeda. Apa boleh buat. Yang penting bisa sampai ke tempat tujuan, yaitu jembatan ulin terpanjang. Berjalan pasti meski perlahan.  Kata orang bijak; Biar jalan itu panjang, kita akan merintisnya perlahan-lahan. Weleh…
Yang pasti, gak ada pesepeda yang menyalip selama perjalanan. Jadi gak perlu panas hati. Lha iya lah.. Karena setahu saya jarang penggowes melewati rute ini.

Asik untuk bermain
 Jalan ke perkampungan nelayan ini lumayan panjang. Masyarakat Balikpapan yang bepergian ke Kabupaten Paser Utara (kabupaten yang terletak di seberang laut kota Balikpapan) atau sebaliknya, harus melewati jalur ini. Karena Pelabuhan penyeberangan Feri ada di daerah ini (sebelumnya di daerah Somber, Jl AWS Syahrani). Bila melintas di jalur ini, hilir mudik kendaraan niaga pasti tak terlewatkan. 

Di pertengahan jalan Sultan Hasanuddin ini juga ada jalan ke arah kanan, yaitu padang hijau Karang Joang Resort, Golf dan Country Club milik pengusaha Yos Soetomo.
Sedapat yang saya ketahui di daerah Kariangau ini kian dikenal setelah adanya program pengembangan oleh pemerintah, yaitu Kawasan Industri Kariangau (KIK) seluas 5.130 hektare.

Rumah panggung nelayan
 Ada hal yang sulit saya  gambarkan dengan kata-kata, yaitu ketika istiharat menggowes pada jalan ketinggian. Letih dan peluh seakan-akan terobati dengan potret alam yang lumayan indah. Hutan bakau memukau mata di sepanjang hulu Sungai Wain, serta aktivitas feri di pelabuhan penyeberangan, kegiatan industri dan aktivitas pelayaran di Teluk Balikpapan yang menjadi pemandangan yang nyaman di mata. Bingkai alam yang  hijau membentang membawa rasa tenang.
Untuk menuju jembatan ulin tadi, kita mesti melewati pelabuhan feri tersebut. Ancer-acernya, di dekat Kantor Kelurahan Kariangau. Begitu berada di depan resort PT. Galangan Benua Raya Kariangau, ada jalan menurun menuju RT 1 dan RT 2 Kariangau. Dari ketinggian ini sudah tampak jembatan ulin membentang. Mungkin saat menuju jembatan saya sarankan agar sepeda tak perlu  digenjot, tapi dituntun saja. Sebab Jalan Srikandi ini menurun cukup tajam. Tapi kalau ada yang ingin mencoba, ya silakan. Ta ada salahnya.

Sebagian papan jembatan copot
 Mungkin Anda sepakat. Pemandangan di jembatan ini cukup indah. Apalagi bila menjelang petang. Bulatan jingga matahari terbenam sangat mempesona. Banyak pecinta fotografi mendokumentasikan keindahan sunset di jembatan Kariangau ini. Di sekitar jembatan juga ditumbuhi bakau. Hutan Mangrove ini dilindungi Perda No. 5 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Balikpapan 2005-2015.

Bila air laut sedang surut, jembatan ini tampak seperti panggung dengan kaki-kaki ulinnya yang kokoh. Sedangkan bila air laut pasang, banyak anak-anak kampung berenang disini. Ada juga warga yang memanfaatkan untuk latihan olahraga dayung di sekitar jembatan.

Tahun 2009 saya pernah membesut pemandangan jembatan dan bakau ini untuk feature berjudul Anak-anak Sekitar Bakau untuk tayangan Balikpapan Televisi. Ketika itu kondisi jembatan masih terawat baik. Kini beberapa keping papan dasar jembatan sudah banyak yang copot. Karena itu bila bersepeda hingga ke ujung jembatan mesti ekstra hati-hati. Kalau tidak bisa kejeblok, nanti jadi repot.

Latihan perahu di sekitar bakau
Sepoi angin pantai di jembatan ini cukup kencang. Asyik juga berlama-lama disini, sambil jepret sana jepret sini pakai kamera handphone.

Secara jarak pandangan mata, pemukiman nelayan di perkampungan ini sebenarnya tak jauh dengan Kelurahan Baru Ulu, yang dulu disebut Kampung Baru. Hanya sekira tiga kilometer. Dekat kan? Ya, tapi itu harus dicapai dengan menyeberangi laut. Bila lewat darat, kita harus menempuh jarak kurang lebih 12 kilometer dari bibir jalan Soekarno-Hatta, Km 5,5. (sebelah kiri arah menuju Samarinda).

Aktivitas galangan kapal
Tidak ada kendaraan umum untuk menuju perkampungan paling ujung tersebut. Karenanya, pemukiman warga ini sungguh terisolasi. Bila mau berbelanja kebutuhan sehari-hari, harus naik perahu kelotok dari ujung jembatan menuju Kampung Baru, kemudian melanjutkan dengan angkutan kota. Banyak juga warga di kampung ini memiliki kendaraan roda dua. Kendaraan ini sangat membantu untuk mobilisasi ke kota. 
Terpaksa harus mendorong

Untuk membuka keterisolasian ini, pernah diusulkan pembangunan jembatan dari Kariangau ke Kampung Baru dengan menelan dana sekitar 150 miliar rupiah. Kabarnya tahun 2013 rencana itu akan digodok oleh pemerintah Balikpapan. Kita tunggu saja realisasinya.
Pemandangan dijepret dengan handphone
Yang pasti, jembatan ulin terpanjang ini bisa layak menjadi obyek wisata andalan di Balikpapan. Apalagi di sekitar perumahan penduduk ini berdiri restoran yang menyajikan menu-menu sarilaut. Setidaknya begitu. Apakah Anda setuju? (*)

Selasa, 16 Oktober 2012

Rute Gila Tembus, Rantai pun Putus


Gowes kali ini bukan wisata. Tapi bersepeda menembus jalur-jalur ekstrim. Menempuh rute 25 kilometer dengan 23 medan tanjakan yang sebagian berlumpur. Tantangan offroad yang komplit dan menguji andrenalin. Ada yang tak mampu dan terpaksa mundur. Ada pula yang memaksa namun kelenger. Mereka yang terlatih akhirnya berhasil mulus sampai ke garis akhir. Gowes yang asik dan sarat cerita.

Saat start semangat menggebur-gebu
Event ini sebenarnya lebih kepada ajang silaturahmi antar komunitas mountain bike. Penggagasnya adalah Blue Bike Community (BBC), komunitas pesepeda dari kelompok Kaltim Post Group, media cetak pertama dan terbesar di Kalimantan Timur.

Lebih dari 20 komunitas ambil bagian dalam gowes kali ini. Mereka datang dari Balikpapan, Samarinda, Kutai Kertanegara, Penajam Paser Utara, Tanah Grogot, Tenggarong dan Bontang.

Rute gowes offroad
Tim yang kompak
Minggu pagi 14 Oktober 2012, pukul 06.00 Wita sebagian peserta gowes offroad ini sudah berkumpul. Komunitas dari Pertamina EP 99 Samboja setor wajah lebih awal di lokasi start parkiran The Plaza Balikpapan. Mereka tampak kompak dengan jersey-nya. Sepeda-sepeda mereka pun diangkut dengan truck.

Cuaca pagi itu benar-benar kurang bersahabat. Gerimis kecil mewarnai, sementara sebagian wilayah di pinggir kota sudah diguyur hujan. Termasuk di rute offroad yang akan dilintasi peserta gowes, yaitu daerah perumahan PT HER, Kelurahan Sepinggan. Sedianya bendera start diangkat pukul 06.30 Wita, namun harus tertunda karena menunggu seluruh peserta berkumpul. Sebagian memang masih berdatangan. Uniform mereka warna-warni dengan desain yang unik-unik, lengkap dengan atribut penggowes sejati.

Yang sungguh tak diharapkan saat itu adalah hujan. Dan itu benar-benar terjadi menjelang acara dimulai. Semula panitia berkeinginan menunda beberapa menit, namun sebagian besar peserta terkesan sudah gelisah untuk mencengkeram aspal jalanan dan berjibaku dengan medan offroad yang menantang.

Alternatif lain sepeda harus dipikul
Kibasan bendera start yang ditunggu-tunggu akhirnya diwujudkan juga, meskipun rintik hujan seakan enggan berhenti. CEO Kaltim Post Bapak Ivan Firdaus SE mengeksekusi seremoni itu, persis di depan pertigaan trafficlight The Plaza Balikpapan. 

Tiga..dua…satu…gowes dimulai. Ratusan penggila offroad ini langsung memacu sepedanya masing-masing. Ada yang santai, ada juga yang langsung meluncur kencang. Wess… Tak lagi mempedulikan hujan.

Sekira limaratus meter dari garis start menuju Jalan Jenderal Sudirman (arah ke Bandara Sepinggan), peserta dihadapkan tantangan pertama, yaitu berbelok ke kiri jalan berbukit di samping Bank Danamon. Ini belum apa-apa, sudah ada satu dua penggowes gugur dan menuntun sepedanya. Padahal di depan sana masih ada 22 medan tanjakan yang lebih ‘’parah’’.
Seperti main di kubangan saja
Tanjakan menantang kedua di daerah Bukit Sion, Gunung Malang. Lagi-lagi sebagian peserta ‘’terhambur’’. Ekspresi wajah yang ngos-ngosan mewarnai iring-iringan pesepeda. Tanpa mengikuti aba-aba, sejumlah pesepeda ramai-ramai mendorong sepedanya ke atas bukit. Namun sebagian besar lolos melewati rintangan demi rintangan.
Mencicipi medan offroad mulai dirasakan ketika pesepeda mulai memasuki kawasan hutan kota Gunung Guntur, melintasi jalan setapak di sekitar Pondok Pesantren Baihura. 

Tetap segar dan semangat
Sebagian besar peserta yang enerjik memimpin di barisan terdepan masih tampak segar dengan semangat yang menggebu-gebu. Dan, inilah tantangan awal yang terberat yang dinanti-nantikan.  Tanjakan di gerbang Ponpes Baihura dengan slop  kemiringan yang kata panitia nyaris 90 derajat.

Ketika melintasi tanjakan yang tembus ke Jalan Beler tersebut, satu persatu penggowes berguguran. Turun dari sepeda lalu mendorong ke atas bukit. Tak terlihat wajah yang tersenyum. Saya perhatikan, banyak penggowes dengan MTB fulsus yang kewalahan. Mungkin ini efek bobing yang menguras enerji.
Di pertengahan medan uphill ini, saya sempat berhenti. Seorang peserta persis di depan berhenti mendadak, sembari memegang dada kanannya.
‘’Waduh, jantung saya kencang sekali denyutnya,’’ katanya separo berteriak ketika saya mencoba menyalipnya. Ia khawatir bila memaksakan akan terjadi sesuatu yang fatal bagi kesehatannya.
‘’Stop aja mas, jangan dipaksakan. Didorong aja sampai ke atas,’’ saran saya. Ia pun mendorong sepedanya.

Saling tolong bila ada yang rusak
Banyak peserta tak berhasil menyelesaikan di trek ekstrim ini. Saya termasuk yang tak tahan, lantas mendorong sekira lima meter menuju  atas bukit. Pertimbangannya adalah, lebih baik mendorong untuk menyimpan tenaga. Sebab medan yang lebih seksi di depan masih membutuhkan energi lebih.

Di bukit tanjakan persis di bibir Jalan Guntur Damai, tampak para peserta merenggangkan otot-ototnya dan berusaha mengumpulkan tenaga. Ada juga peserta yang tampak kewalahan, dan harus membaringkan badan di aspal. Tampak juga salah seorang peserta putri yang mengalami kaki keram. Waduh!

Keram kaki pun tak terhindarkan. Bantu dong...
Dari situ iring-iringan penggowes harus menelusuri jalur single track yang menurun, yang kiri kanan ditumbuhi padang ilalang. Tanahnya agak basah, dan sedikit licin. Lewat di etape pertama ini, para peserta rehat sejenak untuk membasahi tenggorokan. Panitia menyediakan air mineral dan pisang Ambon di posko, persis di parkiran Jim's Furniture depan Mal Balikpapan Baru. Sebagian kecil peserta tak memanfaatkan waktu jeda ini, dan langsung tancap gas menuju Jl Ruhuy Rahayu. Tanjakan landai di depan Lottemart menyambut dengan mesra para penggowes. Rute selanjutnya adalah depan Sport and Convention Center (Dome), Jl Manuntung.

Sejumlah penggowes menyudahi perjalanannya setelah melewati sejumlah rintangan di etape pertama ini. Ada yang langsung pulang, ada juga yang langsung menuju ke garis finish. Sebagian dari mereka mengaku cemas berhadapan dengan etape berikutnya yang dikabarkan justru lebih ekstrim.
‘’Lebih baik kembali , dari pada terjadi sesuatu,’’ khawatir seorang penggowes. Panitia memang menyarankan agar peserta yang merasa tak mampu melanjutkan perjalanan sebaiknya langsung kembali ke garis finis melalui jalan kota.

Setengah perjalanan sudah klenger
Dan kemudian, inilah trek tantangan yang sesungguhnya. Yaitu tanjakan berlumpur di kawasan menuju perumahan PT HER, Kelurahan Sepinggan. Banyak peserta berkumpul  dan rehat mengumpulkan tenaga di bawah tanjakan, sembari mengatur cara yang tepat melewati rintangan tersebut.

Sebenarnya tanjakan ekstrim ini tak terlalu berat. Namun karena diguyur hujan, maka tanah liat menjadi lumpur. Licin, dan melengket di ban sepeda. Para penggowes rombongan awal mengalami kesulitan untuk menembus rute ini. Pasalnya, ketika genjotan mendaki ban sepeda dipenuhi tanah liat. Baru beberapa meter kedepan sepeda langsung terhenti. Selain rantai, dan gir yang terbalut tanah liat, sepatu para penggowes juga ikut terekat tanah merah tersebut. Ini menambah beban.

Akhirnya sepeda harus didorong beberapa meter, lantas terhenti lagi. Kemudian ban sepeda dibersihkan. Begitu seterusnya sampai di atas bukit. Benar-benar menguras energi dan waktu. Tapi itu harus dilakukan, kalau tidak, mustahil bisa melanjutkan perjalanan.Wadaw...
Jalan pintas yang paling simple adalah memikul sepeda hingga ke lintasan yang dianggap aman. Dan itu dilakukan sebagian peserta. Para penggowes yang tiba belakangan di tanjakan double track PT HER ini justu agak terbantu. Sebab lumpur sedikit mengeras karena tekanan ban-ban sepeda penggowes sebelumnya.

Di panggung mengundi hadiah kambing
Saat berada di lintasan ‘’gila’’ (begitu sebagian peserta menyebutnya) ini, tampak sebagian besar peserta kehabisan tenaga. Ada yang istirahat di bawah pohon. Ada yang mampir di kedai penduduk sekitar. Ada pula yang sibuk 
membersihkan sepedanya dari lumpur dengan genangan air hujan. Selebihnya  ngotot melanjutkan perjalanan ke etape berikutnya. Saya termasuk yang memaksakan untuk terus meluncur ke rute selanjutnya.

Medan tanjakan terakhir yang menantang adalah jalan berbukit menuju Jl Syarufuddin Yoes, depan Mapolda Kaltim. Sudah bisa ditebak, banyak penggowes berguguran, dan harus menyerah. Klenger. Saya pun tak sempat mencicipi jalur ini, karena terjadi insiden. Rantai putus dan gir kecil sepeda rontok. Alamak!

Mejeng bareng anggota BBC
Sebenarnya seorang peserta sudah mengingatkan ketika ia mendampati saya beberapa kali memperbaiki rantai sepeda yang selalu terlepas dari girnya. ‘’Jangan dipaksa, ntar bisa patah RDnya,’’ katanya mengingatkan. Tapi saya ngotot dan terus menggenjot di tanjakan. Dan benar. Prak…putus deh. Huh!!!
Tak ada teknisi di perjalanan. Tak ada juga peralatan untuk memperbaiki. Otomatis perjalanan terhenti sampai disitu. Hasrat untuk menuntaskan rute gila ini akhirnya pupus. Syukurnya, ketua panitia yang juga Ketua Besar BBC Pak Idris melintas dengan pickup. Sepeda hardtail yang saya pakai pun diangkut, dan saya nunut pulang ke kota dengan seorang rekan fotografer Kaltim Post, Mas Ambri. Alhamdulillah. Tengkyu banget buat Mas Ambri dan Pak Idris, sukses acaranya.

Sampai di garis finish para peserta dihibur oleh music electone, dan dijamu makan gratis. Ada pula pembagian doorprize, seperti sepeda gunung dan barang elektronik, serta perlengkapan sepeda. Yang menarik panitia menyediakan hadiah kambing. Seremoni pembagian hadiah event dalam rangka HUT ke-1 BBC tersebut dihadiri Wali Kota Balikpapan H Rizal Effendi SE. 

Jajal rute hingga petang
Dua hari sebelumnya, Jumat 12 Oktober saya sempat ujicoba melewati rute-rute ‘’gila’’ ini, mengayuh pedal  dari sore hingga disambut petang. Lumayan menguras tenaga. Ada yang bilang memang beda menggenjot sepeda sore dan pagi. Setidaknya tenaga lebih banyak terkuras di sore hari. Tapi tidak jugalah, medan lumpur yang baru dilewati penggowes di tanjakan PT HER justru jauh lebih menguras tenaga dan waktu. Rasanya begitu. Waktu tempuh yang diprediksi panitia sekitar 135 menit pun gagal. Salah satunya karena cuaca dan karakter medan yang unpredictable itu.
Okey deh, sampai bertemu di rute ekstrim lainnya. Salah satunya adalah Jambore Sepeda Nasional 11 November 2012 dengan jarak tempuh 32 kilometer dan trek kombinasi onroad-offroad (*)