Senin, 11 Januari 2016

Sabar Menakar Rute Blusukan

Trek offroad Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post kali ini tanpa diwarnai turunan curam dan bukit-bukit ekstrem. Melainkan blusukan keluar masuk kampung, menelusuri gang kecil, menelikung jalan setapak hingga menerabas ladang, lalu meniti single track pematang. Bermula dari kota Balikpapan menuju pantai wisata Ambalat, Kutai Kertanegara. Cross country sekira 100 Km yang cukup menguras tenaga.

Suasana sepi di tengah tambak
TUJUAN turing bubuhan RGC Minggu memang pantai wisata Ambalat (Amborawang Laut) yang masuk kawasan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Sekitar ATM Balikpapan Baru (BB) menjadi tempat berkumpul 19 penggowes. 

Pukul 06.30 Wita mereka mulai mancal sepeda, melalui Jalan Ruhuy Rahayu, kemudian menjajaki kawasan Her Sepinggan. Dari sini, penggila mountain bike ini melulu melintas jalan-jalan kecil di kawasan perumahan warga.
Bila biasanya menuju pantai Ambalat melewati rute full onroad beraspal, kali ini rombongan kecil tersebut mencoba trek yang berbeda dan penuh sensasi. Iring-iringan gowes dipandu Julak Yayan, pesepeda gaek Balikpapan yang rajin mengoleksi gelar jawara di kejuaraan MTB Race baik tingkat lokal dan nasional.

Menyebrangi sungai menuju tambak
Berkecepatan sedang, rombongan minimalis ini menjajal jalan-jalan berkelok yang tak biasa, single track menukik, masuk gang sempit, merapat di sela-sela setapak rumah warga, menerobos pagar, melompati parit, melintas jembatan kecil non-permanen, menyasak perkebunan warga, hingga masuk ke cluster perumahan elit.

Mengubek-ubek di kawasan Kelurahan Sepinggan, Batakan, hingga Kelurahan Manggar, stamina sahabat goweser RGC ini tampak masih prima. Namun enam pegiat dipaksa ‘’menyerah’’ kembali ke kota lantaran persoalan waktu dan kendala teknis.

Menguji keseimbangan di batang pinang
Pagi dengan cuaca bersahabat itu sungguh menyenangkan bagi mereka. Ada kejutan-kejutan kecil, seperti menikmati buah Cempedak ketika melintas di perkebunan warga. “Cempedak ini sudah masak, aromanya begitu terasa,” ujar Umar Baki, goweser BBC yang memungut buah cempedak berguguran. 
Rasanya manis. Lumayan untuk menghela dahaga. Semua goweser pun menyantap tanpa permisi.


Mesti antre satu persatu
Julak Yayan yang memandu di depan memang terkesan tanpa lampu reting. Ia stabil memacu sepeda dengan kecepatan sedang. Ini yang  sempat membuat sebagian anggota RGC keteteran. Namun sejumlah tantangan kecil yang memerlukan teknikal, seperti rintang akar pohon, batu-batu laterit, dan jalur sempit di lereng bukit dengan kemiringan tertentu menjadi keasyikan tersendiri. Semua dilewati dengan sempurna.
Rombongan RGC ini terasa agak lega ketika berada di kawasan Kelurahan Manggar. Pasalnya, sempat mengaspal jalan raya. Rute onroad mulus dilintasi sekira dua kilometer. Perjalanan blusukan keluar masuk perkampungan ini seakan menghindari jalan besar.

Julak Yayan memimpin di pematang
Sekira pukul 9 pagi, rombongan mulai menyisir permukiman nelayan yang tak jauh dari pantai wisata Manggar. Menggowes di bawah rindang pohon nyiur, mereka terpaksa menghirup aroma yang kurang sedap, lantaran harus melantas di sela-sela bedeng dan tempat penjemuran ikan asin yang diproduksi warga setempat.

Dari pantai Manggar, mereka terus menyasak ke arah matahari terbit. Kali ini melintasi situs budaya Makam Jepang yang juga menjadi objek wisata lokal. Tak ada pilihan lain, tantangan kecil seperti jembatan batang pohon pinang pun mesti dilalui. Perlu keseimbangan.


Harus seimbang
Kemudian arah keluar jalan raya Mulawarman menuju kawasan penangkaran buaya di Kelurahan Teritip. Tak jauh dari sini kembali merangsak masuk ke ladang sekitar pemukiman petani. Sampai di kawasan pesisir pantai ini surya pagi mulai meninggi. Jersey masing-masing penggowes pun sudah basah merata melekat di kulit tubuh.

Tujuan berikutnya adalah kawasan tambak ikan di Kelurahan Amborawang. Mereka sempat rehat beberapa saat mengusir dehidrasi, lalu tancap gas lagi. Perlu menakar kesabaran ketika melintasi single track di pematang dan tanggul. Antar goweser tak perlu saling menyalip. Harus fokus. Bila lepas kendali di jalur gili-gili ini langsung nyebur ke air. Disinilah ketenangan teruji.
Di kawasan tersebut juga ada tambak kepiting soka. Sayangnya ketika melintas tak tampak petani memetik panen. Suasana sepi dan lengang. Hanya semilir angin berpadu terik matahari menyengat yang menyapa.


Makan cempedak mengusir dahaga
Tantangan mengasikkan bukan saja jalur tunggal pematang, tapi juga rawa-rawa pepohonan nipah dan tanaman perdu yang tumbuh liar di antara hutan mangrove. Ini mesti diterabas. Sekalipun aksi angkat sepeda tak luput. Beruntung tak jauh dari medan berat ini rombongan singgah di perkampungan untuk merapatkan barisan, kemudian membasahi tenggorokan dengan es kelapa muda. Segar dan menyenangkan.

Akhirnya iring-iringan ini tiba juga di ujung pantai Ambalat. Tim menyisir pelan di pasir pantai dengan tenaga lelah tersisa. Ada semangat menyapa ketika sampai di tempat tujuan, kemudian disambut rasa lega. Acara selanjutnya mengisi perut di kedai pantai, ada gado-gado dan soto. Mereka tampak tak sabar untuk memulihkan tenaga dengan asupan. Ada pula yang langsung telentang lalu tertidur sesaat.

Mampir di Telaga Dub
Tantangan tidak sampai disini. Masih ada perjuangan, yaitu kembali ke kota Balikpapan. Dari tempat wisata ini mereka menggasak jalur-jalur seksi, perkampungan warga, perkebunan karet, sampai ke perkebunan jeruk. Rasa hati ingin berhenti lalu memetik buahnya, tapi lebih terdorong rasa ingin cepat pulang yang lebih kuat. Matahari pun sudah seperti di ubun-ubun.
Melintasi persawahan

Rombongan sempat berhenti di Telaga Dub yang masih terletak di kawasan Ambalat, Kukar. Lalu menyisir sawah milik petani disana. Akhirnya cross country jalur berbeda 19 April 2015 itu disudahi. Rombongan kembali ke kota melintas jalan raya Mulawarman yang mesti diselesaikan sepanjang tiga puluh enam kilometer. Total perjalanan kali ini hingga 90an kilometer. Namun mencapai  100 km bagi anggota rombongan yang menggowes dari rumah masing-masing. (*)


Minggu, 03 Januari 2016

Gasak Rute Baru di Waru

Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post yang menghimpun sejumlah komunitas sepeda gunung kembali menggelar ekstra gowes. Kali ini menggasak rute menantang di Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).


Di Waduk Waru sekira 35 Km dari demaga Penajam
MINGGU pagi 7 Juni pukul 05.00 Wita langit Balikpapan masih diwarnai halilintar dan gelegar suara geledek. Tampaknya cuaca kurang bersahabat. 

Sebagian sudut kota mulai diguyur hujan tak merata. Jadwal berkumpul bubuhan ergecer –sebutan anggota RGC-- pukul 05.30 Wita di pelabuhan kelotok Kampung Baru untuk menyeberang ke PPU pun terancam batal!

‘’Untuk jam ngumpul kita lihat nanti cuacanya, sekarang masih hujan. Kita bisa start jam tujuh atau lebih di pelabuhan Kampung Baru,” begitu komentar leader RGC Prihandoyo pukul 04.58 Wita di grup BBM (BlackBerry Messenger) RGC yang beranggotakan hampir seratus goweser.


Antre Melintas jembatan kecil 
Meskipun rintik hujan masih setia membasahi kota, rombongan kecil ergecer sudah berkumpul di pelabuhan Klotok pukul tujuh lewat. Ada duapuluhan pesepeda saling tunggu di kedai kopi sekadar menghangatkan tubuh.  Ketika hujan mulai reda, kami pun bergegas untuk menaikkan sepeda satu persatu ke perahu kayu untuk segera menyeberang Teluk Balikpapan menuju  dermaga PPU.

Setiba di pelabuhan PPU sahabat goweser dari Penbic (Penajam Bicycle) sudah menyambut. Mulailah kami gowes beriringan. Jumlahnya ada 32 pesepeda. Tujuan ekstra gowes kali ini adalah Kelurahan Waru yang jaraknya sekira 25 km. Perjalanan melulu onroad ini tak begitu berat, hanya ada beberapa tanjakan sedang yang perlu ditaklukkan pegiat MTB ini.


Di Dermaga Sungai Tunan
Rombongan goweser dua kota ini meluncur dengan kecepatan rata-rata 30 km per jam. Nyaris tak pedulikan hujan yang menyapa, tetap konsisten mengayuh. Tak butuh waktu lama mereka pun tiba di kediaman Nawa di Jalan Bangun Mulyo Rt 12 No. 68, Waru. Nawa adalah ergecer perempuan asal PPU yang bekerja di Balikpapan.

Suasana di pemukiman ini terasa lengang. Jauh dari hiruk-pikuk kendaraan. Setelah rehat sejenak sembari menenggak teh hangat dan bubur kacang, beberapa menit kemudian rombongan turing ini melanjutkan perjalanan offroad menuju Waduk Waru di Desa Mata Air yang jaraknya hanya sekira 6 km. Bagi ergecer, ini adalah trek baru yang belum pernah dilewati. Karena trek belum familiar ada beberapa sahabat yang tergelincir. Malah ada yang terjerembab ke kubangan.


Bersama sahabat di Waru
Udara di sekitar waduk seluas 10 hektare ini lumayan segar. Tempat wisata ini juga menjadi sumbar air PDAM dan irigasi areal pertanian. Tak lama di situ kami pun harus kembali ke kediaman Nawa untuk menyantap makan siang bareng, sekaligus acara tiup lilin kue ulangtahun Nawa.

PESISIR
Siang itu rombongan ergecer kembali ke Balikpapan tidak melintasi rute yang dilewati semula, melainkan melantas pesisir sekitar Pantai Nipah Nipah. Kami sempat mampir di Pantai Corong dan Tanjung Tengah di kawasan Pantai Tanjung Jumlai sekadar menikmati sepoi angin, serta ke Dermaga Sungai Tunan.


Di Pantai Corong
Melulu melintas jalur onroad beraspal puluhan kilometer, tak pelak kami pun mulai diserang rasa jenuh. Apalagi terik matahari mulai menyengat. Ergecer Anshari akhirnya memandu rombongan untuk menerabas jalur offroad yang hijau. Ia cukup paham medan disini, maklumlah karena setiap harinya bertugas di PPU meskipun berdomisili di Balikpapan. Sekalipun pendek rute offroad ini lumayan memberikan sensasi. Iring-iringan menyusuri single track dan meniti jembatan yang mewajibkan pikul sepeda.

Membelah Teluk Balikpapan
Setelah itu kembali ke jalur onroad, kami pun langsung memancal sepeda menuju dermaga PPU untuk kembali menyeberang ke Kota Minyak. Namun sebelum membelah  Teluk Balikpapan dengan perahu kelotok kami dijamu minum dan santap buah oleh goweser Penbic Ahmad Murani. Plus minus perjalanan RGC dari Balikpapan ke PPU sekira 90an kilometer. (*)

Minggu, 30 Agustus 2015

Sensasi di Jembatan Perbatasan

Gowes Tour de Malsin 2015 Etape 3 


Pada hari ketiga Tour de Malsin 2015 rombongan pesepeda Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post sedianya menyelesaikan etape 3 menempuh jarak hanya sekira 60an kilometer dari Johor Bahru, Malaysia ke Singapura. Sayangnya, enerji pegiat sepeda gunung ini justru tercerabut oleh persoalan perizinan lintasan, bukan lantaran letih otot memancal sepeda.

Di benteng A Famosa Melaka 
SABTU 16 Mei pukul 06.00 kami berkumpul di restoran A Famosa Resort di kawasan Alor Gajah Jalan Raya North-South, Melaka, untuk menyantap sarapan yang serba komplit. Wajah para sahabat ‘’ergecer’’ –sebutan anggota RGC-- tampak ceria. Istirahat semalam memang dimanfaatkan maksimal. Pagi itu para pesepeda sudah mentereng dengar jersey warna dasar merah berlogo Kaltim Post, Garuda Indonesia dan Accor Hotels.com.

Pada hari ketiga Tour de Malsin ini sedianya kami ekstra gowes ke obyek wisata peninggalan Portugis di Melaka. Namun karena ribetnya untuk mengurusi loading sepeda dalam truk boks, akhirnya kami putuskan untuk naik bus saja ke tempat tersebut. Toh jaraknya tak kelewat jauh. Hanya sekira 5 kilometer.
Di depan tugu Ratu Victoria Melaka

Di tempat wisata sejarah ini sekira pukul 9 pagi. Kami sekadar mengambil foto depan tugu air mancur Ratu Victoria di sekitar bangunan merah peninggalan arsitektur Belanda bernama Stadthuys. Kemudian bergambar di depan puing gerbang bangunan tua Porta de Santiago yang dikenal sebagai benteng pertahanan A Famosa, saksi sejarah masa kejayaan Portugis disana.


Siap melintas Johor Bahru ke Singapura. 
Dari destinasi ini kami melanjutkan pelancongan ke Johor Bahru dengan bus pariwisata. Jaraknya 273 Km. Perjalanan darat sekira tiga jam benar-benar dimanfaatkan sahabat goweser untuk relaksasi. Apalagi pemandangan kiri-kanan jalan perkebunan sawit yang menjenuhkan membuat kelopak mata kami terasa berat.

Sebelum tiba di tempat check point keimigrasian, rombongan lebih dulu makan siang bareng menu nasi lemak dan teh tarik di foodcourt  yang berada di ujung timur kota semenanjung Malaysia itu. Beberapa di antara kami menyempatkan  untuk bertukar ringgit ke dolar Singapura di money changer.


Menunggu verifikasi paspor di Johor Bahru
DIHADANG MASALAH
Kami tak menyana kalau perjalanan kali ini terusik masalah. Gak ada tanda-tanda bakalan ribet. Semua mulus saat di Johor Bahru Kastam Checkpoint. Begitu juga ketika masuk ke perbatasan Singapura.  Verifikasi paspor keimigrasian di Woodlands Check Point juga lancar.  Kecuali langkah tiga kawan kami sempat terhenti untuk pemeriksaan lebih jauh karena ada yang membawa handy talky. Kami pun menunggu belasan menit.
Yang ini sungguh di luar dugaan. Truk pembawa sepeda kami yang mengekor bus jauh di belakang harus terhambat di check point gate Imigrasi Johor Bahru. Puluhan sepeda dalam truk itu tertahan di parkiran gedung Imigrasi Sultan Iskandar Muda lantaran dianggap tak berdokumen! Wadow..


Gowes malam di Jembatan Selat Johor
Jonathan yang dipercaya sebagai leader Tour de Malsin sudah kasak-kusuk agar sepeda dalam truk bisa lolos ke Singapura. Tapi apa lacur, petugas setempat tetap ngotot, lantas memberikan alternatif  bahwa untuk melintas dari Johor Bahru ke Singapura sepeda harus ditunggangi masing-masing oleh pemiliknya. Alamaaak!

Akhirnya rombongan kembali ke tempat makan siang di Johor Bahru tadi, agar bisa mengambil sepeda masing-masing untuk dipancal menuju Singapura. Okelah kalau begitu. Kami pun harus mengulang verifikasi paspor. Hebat, dalam waktu relatif singkat itu kami sudah pulang pergi Malaysia-Singapura-Malaysia-Singapura lagi.  Waktu tersita disini. Capek sih, tapi tetap harus semangat. Kami sedikit “GR” alias gede rasa ketika


 Di teras restoran Satay By The Bay  
antre check point seorang petugas mengira kami adalah rombongan atlet sepeda Sea Games 2015 yang dihelat di Singapura 5-16 Juni itu?
JALUR SEPEDA
Hari jelang petang. Janji untuk gowes bareng wali kota Balikpapan Rizal Effendi dan rombongan Garuda Indonesia di Singapura otomatis ter-delay. Padahal direncanakan sore.
Kami gowes perlahan dari Johor Bahru ke tempat check point keimigrasian sudah pukul 06.35. Sampai disini, masih juga terhambat. Kami tak diperbolehkan bersepeda  ke Singapura karena melintasi jalur bebas hambatan. Oalah byung.., rasanya seperti dipingpong.


Walikota serahkan piagam Tour de Malsin 
Setelah negosiasi berulang kali, akhirnya iring-iringan bersepeda diperbolehkan menjajal lintas batas dua negara tersebut. Saat itu matahari senja mulai menguning, langit pun perlahan mulai menggelap. Kompak lampu sepeda kami nyalakan.
Ada rasa lega ketika kami diperbolehkan melintasi perbatasan Malaysia-Singapura. Gowes melewati jembatan sepanjang satu kilometer di atas Selat Johor itu ada sensasi tersendiri. Ini sungguh berbeda ketika kami gowes melewati Jembatan Dondang di Kutai Kertanegara dimana pemandangannya lebih banyak hutan mangrove delta Mahakam.

Jembatan perbatasan negeri tetangga itu menawarkan pemandangan indah. Lampu-lampu gemerlap di Woodlands dari kejauhan yang mencerminkan potret metropolis Negeri Singa cukup melegakan hati.

Tim Garuda Indonesia di Marina Bay
Namun sayang seribu sayang. Persis di ujung jembatan Selat Johor yang dibangun 1923 itu  iring-iringan sepeda kami disemprit, lalu dipaksa berhenti oleh petugas Singapura. Kenapa? Perjalanan gak boleh diteruskan! Padahal peluh belum membanjir.

Alasannya; ‘’basikal’’ dilarang melewati jalur cepat ini. Negosiasi di pinggir jalan dengan belasan petugas di sana sampai satu jam lebih, tetap juga tak berhasil. Konyol juga. Akhirnya kami kembali duduk manis dalam bus seraya menelan kecewa. Sepeda pun harus diangkut truk yang sengaja didatangkan. Suer, enerji kami seakan-akan terkuras oleh  persoalan seperti ini.

Gowes pagi di kawasan Marina Bay  
Akhirnya peserta tur baru bisa bertemu rombongan wali kota Rizal Effendy, General Manager Garuda Indonesia Balikpapan Josep A Saul di Satay By The Bay sekira pukul sebelas malam. Foodcourt makanan halal ini tak jauh dari kawasan Marina Bay Singapura. Kami langsung “balas dendam” menyantap malam menu steamboat dan sea food sepuasnya yang harga seporsi 29 dolar  Singapura. Di sela-sela dinner itu orang nomor satu di Pemkot Balikpapan tersebut juga menyerahkan piagam penghargaan Tour de Malsin kepada tiga perwakilan peserta, Soeny, Prihandayo dan Sumantri Wibisono alias Jack Baronet.

Malam itu tak ada kesempatan untuk istirahat panjang. Setiba di hotel Ibis Novena, Irrawady Road, tempat kami menginap hampir pukul dua malam. Kesibukan Singapura mulai redup.
Kami berkemas packing sepeda. Sebagian goweser menyempatkan waktu sempit berbelanja tengah malam di Mustafa Center kawasan little India.

Di depan Hard Rock Singapura 
Pukul 4 pagi kami sudah sarapan dan bersiap meluncur ke bandara Internasional Changi mengejar penerbangan pagi via Garuda Indonesia GA 823 pukul 06.55 untuk kembali ke Tanah Air. Kami terbang satu pesawat dengan Walikota Rizal Effendi.

Empat rekan kami, Soeny, Srianti, Felix dan Evi tetap bertahan di ‘’negeri seribu satu larangan’’ itu untuk keperluan lain, dan keesokannya gowes seharian mengitari Marina Bay dan pusat perbelanjaan Orchard Road. Ketika kami di Singapura, republik seluas 716 km persegi itu masih tetap getol menggeber sejumlah program gaet wisata lewat Singapura Tourism Board-nya. (*)


Senin, 22 Juni 2015

Menerjang Jalur Panas

Gowes Tour de Malsin 2015 Etape 2

 Etape 2 Tour de Malsin 2015 tak berlebih bila disebut tantangan terberat bagi goweser Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post. Sebanyak 23 pegiat sepeda gunung ini sedianya harus melewati rute ratusan kilometer dari Putra Jaya menuju Melaka. Meski begitu, Tour de Malsin 2015 kerja bareng Garuda Indonesia ini tetap menoreh kesan.

Di Putra Jaya siap-siap ke Melaka
TUNTAS melahap Etape 1 sepanjang 30-an kilometer dari Kuala Lumpur menuju Putra Jaya, rombongan rehat sejenak di Putra Square, Jumat (5/6). Setelah menikmati matahari pagi pukul 09.15, bubuhan  touring RGC langsung menerjang tantangan rute berikutnya, yaitu jalur on-road yang membentang di negeri jiran tersebut.

Jadwal yang dipatok semula iring-iringan ini akan menempuh rute sepanjang 107 km menuju A Famosa Resort, Melaka, melalui highway. Di tempat wisata itu rombongan dijadwalkan rehat menginap hanya semalam.
Meski letih tetap ceria

“Ternyata kita tidak mendapatkan izin untuk bersepeda melewati jalan tol ke Melaka. Akhirnya kita mengambil plan B melalui jalur alternatif. Namun jaraknya lebih panjang, sekitar 200 kilometer,” ujar Jonatan, leader Tour de Malsin 2015 saat briefing sebelum landas Etape 2.

Mendengar jarak mencapai 200-an km beberapa goweser mengernyitkan kening. Sempat keder juga. Bahkan tiga peserta angkat tangan untuk tak menyertai pada Etape 2. Namun tidak demikian bagi tiga gowesist, yakni Srianti, Sugiarti, dan Evi. Tiga “srikandi” ini tetap ngotot menerobos Etape 2. “Kita gowes semampunya saja. Kalau sudah merasa tak bisa melanjutkan perjalanan, ya dievakuasi,” tandas Jonatan.

Dengan roadbike bisa hemat tenaga
Rute alternatif ini juga menetapkan satu titik peristirahatan, yakni di Port Dickson, kawasan Negeri Sembilan yang merupakan negara bagian Federasi Malaysia. Jaraknya dari Putra Jaya sekira 90 km. Di Etape 2 ini  turut dalam iring-iringan bus wisata, truk boks pengangkut sepeda, dan satu unit ambulans komplet dengan tenaga medisnya.

Konsentrasi kami yang pertama adalah bagaimana bisa mencapai Port Dickson, setelah itu baru memikirkan Etape selanjutnya; dari Negeri Sembilan ke Melaka. Sesungguhnya rute dari Kuala Lumpur-Putra Jaya-Port Dickson-Malaka ini bila dibanding-bandingkan tak seberat medan Balikpapan-Samarinda, atau Balikpapan-Sangasanga, atau Samarinda-Bontang yang banyak lintasan perbukitan.

Tak ada pilihan selain dievakuasi
Jalan dari Kuala Lumpur hingga Melaka lebih banyak flat. Lagian permukaan jalan aspal mulus. Kalau pun banyak tanjakan, elevasinya tak seganas di Tahura Bukit Soeharto itu. Landai-landai saja meskipun tetap mempertaruhkan daya tahan fisik. Yang agak menggoda kami adalah terik matahari yang membakar kulit tanpa henti. “Panasnya bisa sampai 39 derajat,” ujar goweser Bebet yang berbadan tambun.


Penulis saat di pertengahan jalan ke Negeri Sembilan
Pada awal iring-iringan menuju Port Dickson, para sahabat goweser ini ‘’anteng-anteng saja’’. Termasuk tiga gowesist Sugiarti, Srianti, dan Evi. Ketangguhan tiga perempuan pesepeda ini baru teruji pada jarak 50-an kilometer.

Jalan lengang dengan kiri dan kanan pemandangan perkebunan kelapa sawit sepanjang puluhan kilometer itu ternyata tak cukup menghibur kami dari rasa letih. Bahkan dahaga berkepanjangan kian akrab ketika sinar matahari siang seakan persis di atas ubun-ubun. Syukurnya sebagian besar pegiat MTB ini mengenakan penutup kepala yang sudah dipersiapkan oleh Supriyanto dari Graffiti Collection. Kain pelindung itu sangat membantu.

Rehat sejenak menunggu suplai air
Karena iring-iringan sempat terpisah menjadi beberapa kelompok kecil, rombongan touring ini sempat beberapa kali berhenti untuk regroup. Kemudian genjot lagi semampunya. Syukurnya, tim sweeper roda empat sekali menghampiri kami untuk menyuplai minuman penambah energi. Sedikit lega.
Bekal air kami memang relatif tak cukup, sehingga sempat berhenti di pertengahan jalan untuk membeli minuman. Bahkan sempat mencicipi pisang dan tape singkong di salah satu kedai pinggir jalan. Lumayan untuk pemanis lidah. Tapi…perjalanan masih jauh.

Tetap hati-hati di jalan raya Kuala Lumpur
Karena pemandangan monoton kami pun diserang rasa jenuh. Apalagi terik siang itu benar-benar menguji mental. Para goweser yang menggunakan roadbike secara fisik sedikit terbantu. Sementara bagi yang menggunakan sepeda gunung tak ada pilihan terbaik. Tetap harus berjuang sebatas kemampuan yang ada. Memang, mobil ambulans dan bus wisata selalu mengekor jauh di belakang.

Dua rekan kami yang sempat terpisah rombongan, Prihandoyo dan Bandono sempat dicegat petugas lalu lintas, lalu mendapat arahan. “Hati-hati banyak lori,” ujar petugas. “Apa itu lori?” tanya Bandono bingung. Ternyata lori adalah truk berbadan besar. Oalah..

EVAKUASI
Jonathan angkat tangan memberikan arahan

Ketahanan fisik peserta Tour de Malsin memang dipertaruhkan. Satu per satu para sahabat goweser ini pun terpaksa “menyerah” dan harus dievakuasi. Ada yang tak berhasrat melanjutkan, ada yang diserang kram kaki, lalu ada yang bingung terhenti di persimpangan jalan kehilangan jejak pemandu arah, serta ada yang bocor ban. Akhirnya hanya lima goweser menyempurnakan perjalanan dari Kuala Lumpur-Putra Jaya-Negeri Sembilan, yakni Trias, Ronny, Jack, Anshari dan Supriadi.

Mensiasati letih berteduh di bahan pohon
Setiba di kawasan perniagaan di Port Jackson pukul tiga lebih, kami langsung menyantap menu ayam goreng KFC sembari rehat sejenak. Perjalanan masih jauh, sekira 90 km menuju A Famosa Resort, Melaka. Karena sebagian besar tenaga goweser terkuras, akhirnya Etape 2 ini disepakati harus disudahi  hingga Port Dickson saja. Dari sini kami menggunakan bus menuju A Famosa Resort.

Setibanya di resort terpadu seluas 520 hektare itu hari jelang petang. Kami disambut pemandangan danau dan padang golf nan luas, dan sejumlah tower-tower apartemen. Sesaat berlalu kami pun langsung rehat di kamar ber-AC dengan fasilitas TV layar datar. Sekadar membersihkan badan dan bertukar pakaian, lalu sempatkan berbaring sejenak.

Santap malam di A Famosa Resort
Dua jam kemudian rombongan menyantap lahap makan malam di Huang Did Chinese Restaurant di club house dengan menu oriental menggugah selera. Meski perut kenyang, letih kami malam itu serasa belum sirna. (*)

Minggu, 14 Juni 2015

Peluh di Putra Jaya

Gowes Tour de Malsin 2015 Etape 1 


Goweser menyelesaikan  Etape 1 di Putra Jaya.
Banyak pengalaman bisa dipetik para pegiat sepeda dari Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post ketika menjajal Tour de Malsin 2015 kerjasama dengan Garuda Indonesia. Perjalanan gowes lintas dua negara dari Kuala Lumpur ke Singapura selama empat hari (14-17 Mei) itu meski terasa berat, namun tetap saja sarat ceria.

MENGINGAT Tour de Malsin 2015 dominasi  rute yang ditempuh adalah on the road, maka bubuhan RGC yang ambil bagian di even tersebut dua pekan sebelumnya sudah mempersiapkan diri. Seperti latihan endurance dengan mencopot ban yang biasa digunakan untuk jalur off road diganti menjadi ban khusus on road alias beraspal.

 Di Bandara Sepinggan sebelum bertolak ke Malaysia.
Maklum, RGC sejauh ini lebih akrab dengan trek alam bebas. Cross training saban Minggu pagi itu selalu mengambil titik awal parkiran ACE Hardware Jl Sudirman Balikpapan, lalu gowes on road menuju Jl Mulawarman, Gunung Tembak. Pulang pergi sekira 50an Km.
Sebagian besar peserta tur kali ini memang menggunakan sepeda mountain bike (MTB) dengan lebar ban 1.25 hingga 1.50 inch.

Di pesawat Garuda menuju Jakarta.
Sedangkan rim atau velg mayoritas ukuran 26 inch. Selebihnya dengan rim berdiameter 27,5 inch dan 700 mm untuk roadbike. Ada tiga goweser menunggang roadbike sesuai peruntukannya pada Tour de Malsin. Rute yang dipatok untuk tur ini adalah; Kuala Lumpur-Malaka-Johor Bahru-Singapura.

Kamis, 14 Mei 2015 pukul 09.00 Wita rombongan tur sudah berkumpul di Bandara Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan. Jumlah peserta ada 23 goweser. Mereka membawa sepeda kesayangan masing-masing. Menumpang pesawat air bus Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA565, take off pukul 10.25 Wita menuju Jakarta.

Ambil bagasi  di bandara Kuala Lumpur.
Kemudian melanjutkan penerbangan ke Kuala Lumpur pukul 13.50 WIB dengan pesawat Boeing 737-800 nomor penerbangan GA816.

Sore sekira pukul 17.35 rombongan masih sibuk dengan urusan keimigrasian di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Selepas petang bus Rakyat Travel yang kami tumpangi meluncur mulus ke Restoran Minmax, Darby Park, Jalan Binjai. Lokasinya tak jauh dari menara kembar Petronas yang menjadi ikon Malaysia. Perut yang sudah keroncongan disambut hangat sup asparagus, berselang kemudian santapan menu oriental tersaji di atas roundtable. Suguhan makan malam yang nikmat dan  mengundang selera sungguh pas di lidah para goweser.

Makan malam di Minmax Kuala Lumpur
Sebelum menuju hotel, kami sempat menyapa twin tower Petronas dengan kamera. Lalu, hanya butuh beberapa menit rombongan tur sudah tiba di lobby Hotel Ibis Styles di Jalan Metro Pudu 2, Fraser Business Park. Hotel bintang tiga memiliki 500 kamar ini hanya 10 menit dari pusat kota. Jaraknya 79 Km dari bandara Kuala Lumpur. Setelah loading barang dan mendapat kunci kamar, kami langsung sibuk “atraksi” merakit sepeda masing-masing di teras hotel. Para goweser ini sangat terampil. Tak butuh waktu lama sepeda sudah siap pakai. “Setelah pulang dari Malaysia, kayaknya semua bisa buka bengkel sepeda di Balikpapan,” canda Supriyanto, goweser yang juga owner Grafity Collection Balikpapan.
Dekat menara Petronas sebelum ke hotel.

Jumat pagi (15/5) pukul 05.00 waktu setempat morning call berkali berdering, menghentak istirahat kami. Persis satu jam kemudian para sahabat goweser sudah menyantap sarapan pagi bergizi di restoran Ibis. Kami pun sudah siap dengan perlengkapan bersepeda, serta mengenakan jersey cantik garapan Luwai Garment berdasar kuning. Ada dua jersey kami kenakan selama tur dengan warna berbeda.

Merakit sepeda masing-masing
Di bagian depan dan belakang jersey ada tulisan besar Accor Hotels.Com, serta logo Garuda Indonesia, Kaltim Post dan Luwai Garment di dada depan. Sedangkan di lengan kanan gambar bendera Merah Putih, dan kiri logo Pemkot Balikpapan.

Lalu di punggung belakang ada kalimat ‘’We Love Balikpapan’’. Tulisan ini bermaksud untuk mempromosikan Balikpapan sebagai kota paling dicintai di dunia versi WWF. Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi dan General Manager Garuda Indonesia Area Balikpapan Joseph A Saul pun bersepeda menyambut ketibaan rombongan Tour de Malsin 2015 ini di Singapura.


Siap-siap gowes dari Hotel Ibis Styles Kuala Lumpur 
PUTRA JAYA
Satu unit lead car, dua marshall sudah stand by di parkiran hotel untuk memandu rombongan menjajaki Etape 1, yaitu menuju Putra Jaya yang kesohor sebagai pusat administrasi Malaysia. Jarak tempuh hanya sekira 30an Km dari Kuala Lumpur. Coach captain Yahya dan sweeper Hadi Hussien pun siap meluncur dengan motor besarnya.

Pagi itu langit cerah. Sinar matahari masih malu-malu. Para goweser sudah tak sabar melesatkan sepeda. Setelah berdoa, iring-iringan turing pun berselancar di jalan beraspal menuju Putra Jaya dengan kecepatan rata-rata 20 Km per jam. Meski sempat terpisah dua kelompok lantaran irama memancal yang berbeda, rombongan kembali re-group di sejumlah titik. Leader RGC Prihandoyo beberapa kali mengingatkan agar rombongan tak terpisah dengan menakar kecepatan bersepeda.

Pagi cerah mendukung semangat goweser
Kepadatan arus lalu lintas di Kuala Lumpur membuat goweser yang tergabung di Rabu Gowes Community ini jadi sedikit kagok. Apalagi kendaraan berbadan besar berseliweran dengan kecepatan tinggi. Pesepeda butuh konsentrasi dan ekstra hati-hati, seperti itu pula yang diingatkan oleh pemandu jalan.

Memang tak ada pilihan rute lain yang lebih aman untuk menuju Putra Jaya, kecuali tetap meniti jalan besar itu. Pun tak ada jalur khusus untuk pesepeda, padahal arus lalu lintas di sana satu jalur. Karenanya, kami sedikit kurang bebas melantas di jalan padat kendaraan ini.
Penutup wajah untuk menghindari debu 

Tujuan akhir Etape 1 ini adalah Putra Square yang terkenal itu. Taman dengan bangunan masjid megah ini menjadi simbol kebanggaan aspirasi Malaysia menjadi negara maju. Semua goweser berhasil menyelesaikan Etape 1 dengan gembira, meskipun peluh mulai membasahi badan.

Wajarlah, sebab pagi itu kami sudah bermandi sinar surya yang mulai menembus jersey jelang iring-iringan tiba di taman indah tersebut.
Rehat sejenak sembari menenggak bekal minum, para goweser kompak berfoto bareng. Ada juga yang jepret sana jepret sini sembari  ber-selfi-ria dengan kamera smarphone masing-masing.

Meski perempuan tak mau kalah 
Sebelum melanjutkan Etape 2, gowesist Sugiarti mendapat masalah. Ban sepedanya bocor! Sudah dioprek-oprek untuk diganti tapi tak berhasil. Ternyata pentil ban cadangan berbeda dengan ujung pompa. Ya sudahlah. Jalan keluarnya adalah ganti sepeda. Beres. (*)