Jumat, 16 Agustus 2013

Trek Sulit di Bukit Bangkirai


Main-main di Bukit Bangkirai, asyik juga. Kali ini gowes berdua saja, namun tetap seru dan menantang. Taman wisata alam di Samboja, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur ini menjadi memang menjadi salah satu referensi rute bagi pecinta sepeda alam di Bumi Etam. 

Jalan masuk ke arah Bukit Bangkirai
Dari kota Balikpapan jaraknya lumayan jauh juga. Bila dihitung dari titik nol bundaran Muara Rapak, sekitar 50 kilometeran. Persis di Km 38 beberapa meter sebelum simpangan jalan provinsi Soekarno-Hatta arah menuju kota Samarinda dan arah Samboja, di sebelah kiri jalan terpampang tulisan besar; Anda Memasuki Kawasan Bukit Bangkirai.

Masuk lewat trek Djamaludin
Dari titik ini ke arah kiri sekitar 22 kilometeran untuk menuju kawasan Taman Wisata Alam Bukit Bangkirai. Saya gowes ke tempat ini bukan dari kota Balikpapan, meskipun jaraknya relatif tak kelewat jauh. Untuk menghemat tenaga, maka saya putuskan gowes dari Km 38 saja menuju arah Sepaku.
Pohon tumbang jadi penghalang

Menuju ke tempat wisata ini meskipun jalur on road, lumayan membuat keringat mengucur deras. Beberapa tanjakan mesti dilewati dengan sabar. Memang ada akses offroad untuk menuju kesana, namun saya mempertimbangkan; hanya berdua dan resiko lain di tengah hutan. Beberapa komunitas sepeda gunung di Balikpapan secara  berkelompok beberapa kali menembus taman wisata hutan tropis ini melalui jalur offroad, tentu dengan berbekal peralatan GPS.  Rute ini sangat menantang.
Hutan eksotis masih terjaga

Saya sarankan bila gowes ke lokasi Bukit Bangkirai yang terkenal dengan Canopy Bridge (Jembatan Gantung) ini sebaiknya pagi hari, sebelum sinar matahari menyengat.  Dan jangan lupa bawa bekal yang cukup. Seperti air minum. Sebab, dapat dipastikan dehidrasi akan menyerang.

Sangat sulit bila ingin menjelajahi kawasan Bukit Bangkirai ini dengan sepeda. Selain beresiko tinggi, fisik juga harus prima. 

Perlu rehat sembari menikmati keindahan hutan
Hutan konservasi seluas 1.295 hektare ini memang terkesan masih hutan rimba dengan pohon-pohon yang besar. Ada 510 hektare didominasi pohon bangkirai. Februari 2013 lalu seorang crosser Australia, Headley Michael Adrian tewas di kawasan Bukit Bangkirai dalam kejuaraan lintas medan motor trail.

Menerobos karena tak ada pilihan
Bila ingin menikmati suasana hutan dengan sepeda, cukup gowes di sekitar Canopy Bridge saja. Ada suasana yang berbeda berpetuang di alam bebas seperti ini. Selain tanaman tropis dan pohon-pohon tinggi dengan batang berdiameter besar, kekayaan flora fauna di kawasan ini cukup terjaga. 

Di kawasan yang dikelola PT Inhutani I ini memang banyak pohon-pohon bangkirai berusia ratusan tahun. Kayu pohon ini sangat baik bila dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Di Kaltim, banyak kayu bangkirai dijadikan kusen daun pintu karena memang dikenal kuat, selain kayu ulin sendiri yang cukup terkenal itu. Tak heran bila Bukit Bangkirai tetap menjadi incaran perambah hutan demi kepentingan kantong pribadi.

Single track mesti dilewati
Oh iya, di kawasan sekitar Canopy Bridge sendiri ada beberapa single track yang lumayan mengasikkan bila digowes. Untuk menuju Canopy Bridge ada beberapa akses pintu masuk, salah satunya Trek II Jamaluddin. Dari sini hanya sekitar 300 meter, tapi jalannya tak mulus, ada beberap drop off kecil dan obstacle yang mesti dilintasi. Pas untuk sepeda jenis fullsus.

Selain Trek II Jamaluddin, ada juga akses melalui Trek I M Prakosa. Jaraknya lebih pendek hanya 150 meter. Tapi untuk masuk ke area Canopy Bridge, saya tak melewati dua trek itu, melainkan mengambil rute di belakang cottage, melalui jembatan kecil. Trek satu ini lebih asik dan menantang! 

Duri harus dihindari
Dari kaki Canopy Bridge juga ada jalan menuju kawasan konservasi alam, dimana hutannya cukup rindang. Pohon-pohon dan vegetasi alam disini masih terjaga dengan alami. Bila gowes meski sedikit hati-hati, karena tak sedikit ranting dahan yang jatuh ke tanah cukup menghalang, terutama dahan kering dari pohon jenis palem yang durinya berbahaya bagi ban sepeda.

Menerobos lintasan single track dengan ilalang setinggi dua meteran, kita mendapatkan suasana yang berbeda. Agak sulit dan mengganggu pandangan mata, tapi boleh dibilang lumayan eksotis. Di sisi kiri kanan jalan pohon-pohon rotan muda menjuntai ke bawah, dan sebagian juga membentang di tengah jalan. Andai tidak hati-hati, RD sepeda bisa tersangkut dan tentu berakibat fatal. Selain itu ada beberapa batang pohon tumbang yang membentang di trek.

Canopy Bridge tujuan wisatawan
Ada juga anak sungai yang mesti kita lewati bila ingin mengambil jalan pintas. Airnya dingin dan  lumayan bersih. Saat berada di kawasan ini, saya sempat bertemu dengan sejumlah tentara dari Kopasus yang sedang melakukan latihan di kawasan ini.

Main-main di kawasan wisata Bukit Bangkirai memang mengasyikkan.  Pemandangan hutan alami kita dapatkan. Selebihnya: pemandangan lahan gundul!

Sensari di Canopy Bridge
Tujuan utama wisatawan ke tempat ini adalah ke Canopy Bridge, jembatan gantung setinggi 30 meter dengan panjang 64 meter yang terkenal itu. Dari ketinggian ini kita dapat melihat pemandangan hutan yang eksotis. Setiap pengunjung mesti bayar. Tapi saya gak bayar, lantaran pagi itu petugasnya belum ada. Sepeda fullsus pun saya pikul naik ke Canopy Brigde. Agak aneh, tapi seru dan berbeda. Ada angin sepoi-sepoi. Sensasi.
Ada obstacle di jalau masuk
 Di tempat wisata alam ini juga terdapat sarana restoran, ruang pertemuan, cottage, jugle cabin dan arena outbond. Wisatawan banyak ke tempat ini. Tak terasa hari sudah siang, pukul 12.15 Wita, saya berdua untuk putuskan keluar dari trek hutan tropis itu, kemudian rehat di sekitar cottage untuk santap bekal makan siang. Ada rasa lega. (*)

Rabu, 14 Agustus 2013

Meski Harus Haus, Gowes Tetap Joss

Pola hidup sehat dengan berolahraga sepeda setiap hari memang ada kenikmatan tersendiri. Pokoknya tiada hari tanpa gowes. Inilah yang dilakukan komunitas para pecinta sepeda gunung (MTB) di Balikpapan. Saat Ramadan, mereka pun tetap menggeber gowes bareng saban Rabu sore. Gowes tetap joss, puasa pun tetap ok.


Gowes Rabu di Kawan Bike
Puasa hari pertama Rabu10 Juli 2013 yang bertepatan dengan jadwal Rabu Gowes saban minggu, seyogianya ditiadakan. Ternyata tidak bagi komunitas sepeda di Rabu Gaul Community (RGC) Kaltim Post. Mereka tetap saja berkumpul pukul lima sore, kemudian menggenjot sepeda masing-masing, naik turun jalan berbukit.

Meski sebagian besar mereka menjalankan ibadah puasa, tentu bukan hal yang menjadi penghalang berarti. Rute-rute yang ditempuh pun tak berbeda dengan gowes pada Rabu-rabu seperti biasanya. Tetap saja menikmati tanjakan demi tanjakan.

Sore itu kami berkumpul di Kawan Bike Shop di kawasan Gunung Malang, Jl Mayjen Sutoyo. Memang peserta gowes sore itu tak kelewat banyak dibanding Rabu Gowes seperti biasanya. Dimaklumi, ada sebagian anggota yang sibuk untuk menyambut Ramadan hari pertama.

Siap-siap menuju lokasi kebakaran
Ada yang berbeda gowes sore itu.  Arus lalu lintas sebagian jalan-jalan utama di kota Balikpapan padat merayap. Maklum sebagian masyarakat sibuk mencari jajanan berbuka puasa di hari pertama Ramadan, lagian bertepatan dengan waktu pulang kantor. Macet di sana-sini. Para penggowes sedikit menghadapi hambatan untuk mengayuh cepat sepeda masing-masing.

Mendaki tanjakan di Asrama Bukit
Setelah melahap rute-rute menantang sore itu, disambung dengan acara buka puasa bersama. Nikmatnya luar biasa. Rasa dahaga yang begitu memuncak setelah menguras energi, terasa berbeda ketika dilanjutkan dengan meneguk es kelapa muda saat buka puasa. Semangat untuk gowes bareng di hari pertama puasa ini tak lain prakarsa Henky dkk dari Kawan Bike.


Seminggu kemudian Rabu, 17 Juli 2013, jadwal Rabu Gowes digeber lagi. Kali ini sebagai host adalah Hotel Blue Sky di Jl Letjen Suprapto No. 1 Balikpapan. Kali ini pesertanya lumayan banyak. Kegiatan gowes bareng ini dipadu dengan aktivitas sosial, yaitu memberikan sumbangan bagi korban musibah kebakaran di Jl Dahor III Kelurahan Baru Ilir. Kebakaran yang menghanguskan hampir seratus  rumah penduduk ini terjadi minggu pertama Ramadan 1434 H.
Seremonial penyerahan bantuan korban kebakaran
Kami berkumpul di parkiran Hotel Blue Sky sebelum gowes bareng ke lokasi kebakaran yang jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel. Di belakang iring-iringan kami ada satu unit mobil gowes yang membawa bantuan untuk korban kebakaran.

Penyerahan bantuansecara simbolis dilakukan Ketua Besar Rabu Gowes HM Idris kepada Lurah Baru Ilir Arsulul Chairi. ‘’Bukan nilainya yang dilihat,tapi kepedulian kami sesama manusia,’’ ujar HM Idris. Bantuan spontanitas dari para goweser ini berupa kompor gas dan peralatan memasak.

Buka puasa bareng di Hotel Blue Sky
Sore itu setelah menyerahkan bantuan di posko kebakaran, kami gowes menuju lokasi kebakaran yang memang berada di atas bukit. Lumayan juga tanjakannya.  Kami bersepeda di antara puing-puing kebakaran. Dengan suasana yang berbeda, tak terasa dahaga di tenggorokan menggoda. Goweser tetap saja semangat 45.

Yang menarik, setelah dari lokasi kebakaran kemudian melahap satu tanjakan di kawasan Asrama Bukit, kami juga gowes menurun menelusuri Jl Sepaku untuk menuju perkampungan di atas laut di Kelurahan Baru Ulu. Di jembatan ulin yang membentang di atas air ini kami rehat sejenak menikmati panorama laut. Indah sekali. Rasa haus nyaris tak terasa, diterpa sepoi angin pantai. Beberapa saat kemudian rombongan gowes kembali menuju Hotel Blue Sky.


Mejeng di parkiran CBD sebelum gowes
Beberapa menit setelah sampai, tiba saatnya berbuka puasa. Hotel bintang tiga yang terkenal dengankelezatan makanannya itu, benar-benar menyuguhkan santapan buka puasa yang luar biasa. Manajemen hotel yang dipimpin General Manager Blue Sky Hotel Joko Budi Jaya memang perlu mendapat acungan jempol berkali-kali. Tengkyu banget Pak Budi.

Alamak (kanan) goweser senior
Minggu ketiga jadwal Rabu Gowes tanggal 24 Juli mengambil tempat di CBD (Central Business District) yang berada di bilangan Balikpapan Sport and Convention Center (Dome) di Jl Ruhuy Rahayu, Ringroad. Puluhan goweser berkumpul kembali di sini. Meski sebagian besar peserta menjalankan ibadah puasa, sore itu kami tetap menelusuri rute-rute yang cukup menantang dengan beberapa tanjakan. 

Begitu start sudah berhadapan dengan jalan berbukit di belakang kantor KNPI, persis menuju arah kantor Balai Monitoring. Setelah itu menelusuri jalan on road ke arah Bendali II. Setelah melewati beberapa tanjakan yang lumayan menguras keringat, iring-iringan goweser pun kembali ke markas CBD. 

Srikandi Rabu Gowes tetap semangat
Rute yang dilewati sore itu menurut leader Pak Yoyok , seharusnya menembus trek off road di seputaran perumahan Regency, kemudian kembali ke CBD lewat depan Polda. Namun kami putuskan untuk tak meneruskan perjalanan lantaran sebagian peserta tampak kelelahan. Maklum puasa. Apalagi beberapa goweser menggunakan sepeda down hill yang bobotnya lumayan berat.

Setelah para goweser berada di perumahan Perusda II akhirnya kami putuskan untuk kembali ke CBD melewati jalan Ruhuy Rahayu depan Dome. Sesaat kemudian acara buka puasa bareng manajemen CBD pun tiba, dilanjutkan salat magrib berjamaah.

Di kediaman Pak Joko ketua BCC
Rabu Gowes selama Ramadan ini terbilang istimewa. Tidak saja mengambil jadwal hari Rabu sore,tapi juga ditambah ekstra Sabtu 27 Juli 2013. Kali ini mengambil tempat start di kediaman Pak Joko, Jl Markoni. Pak Joko adalah ketua Balikpapan Cycling Community.  Rute yang ditempuh pun tak berbeda dengan gowes-gowes sebelumnya, namun lebih kepada jalur on road. Tak ada trek yang kelewat menantang, hanya ada dua tanjakan di Jl MT Haryono dan tanjakan di jalan Sungai Ampal.
Rabu tanggal 31 Juli adalah jadwal Rabu Gowes terakhir di bulan Ramadan. Tempat berkumpul kami di Fave Hotel Jl MT Haryono. Hotel baru ini terletak di atas bukit di sisi kiri jalan. Untuk menuju parkiran hotel, para goweser harus ekstra tenaga menggenjot sepeda masing-masing. Lumayan juga.

Gowes di Fave Hotel terakhir di bulan Ramadan
Rute yang kami tempuh sore itu juga cukup menguras energi. Dari Jl MT Haryono Dalam, mengambil rute menantang tanjakan di Perumahan Balikpapan Kota dengan kemiringan nyaris 45 derajat. Satu dua goweser pemula sedikit kewalahan di trek ini. Bahkan sebagian kecil tak mengambil risiko dengan memutar balik arah. Maksudnya tak mencicipi tantangan ini. ‘’Yang puasa jangan dipaksakan ya,’’ celetuk seorang goweser.
Memang harus dimaklumi. Andai saja sebagian peserta tidak sedang menjalankan ibadah puasa, tentu persoalannya berbeda. Akhirnya kelompok terbagi dua. Yang kurang tertarik menantang tanjakan perumahan Balikpapan Kota, akhirnya mengambil rute perumahan Balikpapan Baru, dan meneruskan perjalanan ke Jalan Beler dan kembali berakhir di Fave Hotel.

Rehat sejenak di kampung atas air
Sementara rombongan di kelompok awal rehat sejenak di atas bukit perumahan Balikpapan Kota sembari menunggu goweser lainnya, Mas Yoyok leader RGC mengajak bincang-bincang sejenak, diskusi seputar rute selanjutnya. Dan diputuskan untuk melahap jalur off road. Ok sajalah.

Trek yang diambil adalah sisi barat Camp Buth Hill, lokasi yang dijadikan goweser Balikpapan untuk latihan off road. Di tempat ini juga pernah digelar race.
Saat jalan tanjakan pertama, para goweser harus menuntun sepeda masing-masing. Tanah yang permukaannya berberak dengan kemiringan yang lumayan curam agak sulit bagi goweser untuk melintasi rute ini. Meskipun sebagian peserta melengkapi sepedanya dengan ban yang cukup baik, namun tetap saja ban belakang kehilangan traksi. Tak apalah. Sepeda pun dituntun ke atas bukit yang tak terlalu jauh.

Sore itu para goweser melahap jalur single track di sisi pagar perumahan Total Indonesie, untuk kemudian menembus jalan besar, yaitu Jl Marsma Iswahyudi di kawasan Sepinggan. Trek selanjutnya menelusuri tanjakan Jl Syarifuddin Yoes, kembali ke MT Haryono Dalam, dan berakhir di parkiran Fave Hotel.

Setelah itu acara buka puasa bersama. Kami putuskan Rabu Gowes 7 Agustus ditiadakan, lantaran esoknya bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Sampai jumpa di Rabu Gowes berikutnya. (*)








Kamis, 11 Juli 2013

Bersepeda Beda di Mal Malam



Ada yang berbeda bila bersepeda di malam hari. Selain tak menantang terik matahari, suasananya juga tak kalah asyik. Apalagi gowesnya dilakukan di seputar mal. Tema gowes yang diusung kali ini adalah; Jadilah GenerAKSI HIJAU.

Gowes malam ini diprakarsai PT Astra International Tbk cabang Balikpapan, menggandeng mitra Kaltim Post Group. Ada sekira 500 pesepeda ambil bagian di area parkir Mal Balcony City di Jl Jenderal Sudirman, 29 Juni 2013 lalu.

Siap-siap gowes di mal malam hari
Rute yang ditempuh goweser ini juga boleh dibilang rada unik, yaitu hanya mengelilingi arena parkir lantai tiga mal yang jaraknya relatif sangat pendek. Dijamin peserta tak akan banjir keringat.

Setelah keliling mal, langsung finish dan pembagian doorprize yang diwarnai dengan hiburan musik. Simpel banget rutenya.

Pada malam itu juga diresmikan Astra Gowes Community (AGC) yang beranggotakan partner kerja dari Astra Group yang terdiri dari 28 perusahaan yang terbagi atas enam lini bisnis, yaitu  perusahaan otomotif, keuangan, alat berat, agrobisnis, infrastruktur, dan perusahaan IT. AGC  telah memiliki anggota 130 orang.

Gowes putarin mal tetap asyik
Sedianya acara gowes malam itu tidak mengambil rute seputar mal. Melainkan start dari parkiran Mal Balcony City, kemudian menelusuri Jalan A Yani (Gunung Sari), Jalan Mayjend Sutoyo (Gunung Malang), ke arah Jalan Jenderal Sudirman, dan berakhir kembali di parkiran Mal Balikpapan City. Bila digowes lumayan berkeringat.

Yang penting bisa ngumpul bareng
Namun rute yang dipatok panitia tersebut urung digowes peserta, lantaran menurut keterangan tidak mendapat izin dari pihak keamanan. Iring-iringan pesepeda ini dikhawatirkan akan membuat jalan-jalan utama macet, apalagi malam minggu.

Meskipun tak dapat izin, gowes tetap saja dilaksanakan hanya di lingkungan mal. Ratusan peserta pun tetap setia mengikuti acara tersebut hingga pembagian doorprize dengan hadiah utama sepeda motor.

Sebelum pengundian hadiah utama, panitia mengumumkan kepada peserta yang ingin menggowes kembali di sekitar mal, atau keluar lingkungan mal. Kesempatan ini dimanfaatkan ratusan peserta untuk menggowes ke arah Lapangan Merdeka Jalan Jenderal Sudirman. Iring-iringan pesepeda yang diwarnai dengan kerlap-kerlip lampu ini tetap tertib dan tidak mengganggu kepadatan arus lalu lintas malam minggu itu.

Gowes di mal nyaris tak berkeringat
‘’Kurang asyik kalau gowes seputar mal, lebih baik ke jalan raya menuju Lapangan Merdeka,’’ ujar Ibrahim, salah satu goweser yang malam itu terkesan siap untuk gowes malam. 

Setelah mengitari Tugu Australia di bilangan Lapangan Merdeka, ratusan peserta kembali ke arah Balcony dan menuju panggung hiburan yang terletak tak jauh dari pinggir pantai itu untuk menyaksikan penarikan undian utama berupa motor matic. Grand prize ini diraih Syaparudin warga Gunung Rejo Karang Jati Balikpapan.

Penyobekan doorprize
Gowes malam itu dihadiri Koordinator Wilayah Group Astra Balikpapan Guntur Susilo, Kepala Cabang UD Trucks Januar Lubis, CEO Kaltim Post Group Ivan Firdaus, dan beberapa pemimpin perusahaan yang tergabung dalam Astra Gowes Community (AGC).

"Gowes malam sesuatu yang unik sekaligus kampanye ramah lingkungan dengan bersepeda," ujar Koordinator Wilayah Group Astra Balikpapan Guntur Susilo, seperti dilansir Kaltim Post.
Syaparudin (tengah) dapat motor
Dengan mengusung tema Jadilah GenerAKSI HIJAU, Astra Group Balikpapan mengajak warga untuk lebih peduli terhadap lingkungan hidup. "Dengan konsep Astra Green Lifestyle, kami berharap bisa mewujudkan masyarakat yang peduli lingkungan. Dengan melakukan beberapa kegiatan-kegiatan dalam melestarikan lingkungan hidup," tambah Guntur. (*)

Rabu, 10 Juli 2013

Rute Gendeng Cari Bandeng



Gowes bareng sambil bertamasya. Gawe ini memang selalu ditunggu kawan-kawan komunitas MTB. Minggu pertama Juni 2013 menjadi moment yang pas. Mungkin begitulah. Pilihannya adalah; Tambak Ikan Bandeng di daerah Kelurahan Manggar, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Foto bareng di tengah perjalanan
Boleh jadi acara gowes kali ini terbilang dadakan. Pasalnya tak ada informasi jauh sebelumnya.  Hanya ada bisik-bisik,  untuk mengisi hari libur nasional bertepatan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tanggal 6 Juni 2013 yang jatuh pada hari Kamis, kawan-kawan komunitas MTB berniat gowes bareng jalur offroad. Itu saja sepenggal informasinya.

Selalu enjoy
Dua hari menjelang hari H, tiba-tiba broadcast di BBM komunitas Goweser Balikpapan mengundang para penggila sepeda gunung untuk gowes bareng ke tambak ikan bandeng. Haa? Asyieek..

‘’Provokator’’ acara dadakan ini adalah Mas Yoyok, penggila MTB yang sering dipercaya menjadi leader di komunitas Rabu Gowes. ‘’Yang mau ikutan gowes ke tambak ikan bandeng ngumpul di depan Dome jam tujuh pagi,’’ ujarnya lewat BBM. Yang dimaksud Dome adalah Balikpapan Sport and Convention Center di Jalan Ruhuy Rahayu.

Mas Yoyok mengabarkan setiap goweser harus menyetor Rp 25 ribu. Ini tak lain adalah untuk biaya makan bandeng di lokasi acara.

Trek berlumpur jadi tantangan
Yang bikin geleng-geleng kepala adalah, acara dadakan tanpa basa-basi sebelumnya ini terkesan tanpa persiapan berarti. Pokoknya langsung tancap saja. Panitianya juga gak ada. Cuma satu orang,ya Mas Yoyok itu.

Kamis pagi 6 Juni 2013 pukul 6.20 Wita saya sudah berada di lokasi acara. Saya berani mengklaim orang pertama yang berada di tempat start. (mungkin juga sudah ada goweser lain yang hadir lebih dulu, tapi saya gak lihat). Datang duluan bukan lantaran kelewat bersemangat untuk ikutan gowes bareng ke tambak bandeng, tapi karena memang jarak rumah dengan Dome hanya sekira 1 km. Jadi relatif butuh waktu hanya beberapa menit untuk menuju ke destinasi tersebut.


Rehat sejenak sembari menunggu yang lain
Satu persatu goweser berdatangan. Ada yang menggenjot sepeda dari rumah masing-masing. Ada juga yang membawa kendaraan roda empat, kemudian menurunkan sepeda kesayangannya di lokasi start. Seperti biasa, kami saling menyapa dan bersalaman antar goweser bila berjumpa. Suasana pagi ini begitu hangat dan bersahabat.

Waktu hampir pukul tujuh pagi, peserta kian banyak. Namun ‘’sang provokator’’ Mas Yoyok belum juga menampakkan batang hidungnya. Beberapa teman goweser tampak mulai gelisah. ‘’Kapan nih startnya,’’ celetuk salah satunya. ‘’Kita masih nunggu Mas Yok,’’ kata saya mencoba memberikan pengertian kawan tadi. Sabar dikitlah…

Basahi kerongkongan
Tak lama kemudian Mas Yoyok datang. Lengkap dengan sepeda, tas punggung, dan membawa map yang isinya daftar nama peserta. Dari daftar nama peserta itu tampak siapa goweser yang belum setor Rp 25 ribu. Sebagian peserta merapat ke Mas Yoyok dan menyodorkan uang pendaftaran.

Lebih baik dipikul daripada risiko
Menurut Mas Yoyok, gowes tamasya ini diikuti sekitar 50an orang dari berbagai komunitas, seperti BBC, BBS, MTB, KGB , A Team dan  CAC. Ini merupakan kegiatan awal dan pertama dari Balikpapan Cycling Community sejak terbentuknya Komunitas ini tanggal  17 May 2013. 

‘’Kegiatan ini untuk  mempererat rasa persaudaraan sesama pegowes dan sesama klub sepeda yang ada di Balikpapan,’’ kata Yoyok, sembari menyebut untuk merealisasikan gagasan spontanitas ini ia dibantu rekannya Sanuri dan Bolang, dua ‘’algojo’’ goweser kota minyak. 
          Kegiatan ini juga untuk mempromosikan potensi kota Balikpapan dimana juga ada tambak ikan bandeng tanpa duri, yang sementara ini orang beranggapan ikan bandeng berasal dari luar daerah.

Tuntun di pematang tambak
Pagi itu sebelum melahap jalur  onroad dan offroad para peserta lebih dulu dapat mengarahan rute dari Yusuf, ketua Komunitas Gowes Balikpapan (KGB), sekaligus sejenak berdoa bersama.


          Trek menuju lokasi tambak bandeng  ini melewati perumahan di Jl Praja belakang SMA 5, kemudian menuju perumahan PT HER. Disini peserta sudah mendapat tantangan tanjakan tajam dan panjang. Hampir rata-rata peserta mampu menaklukkan tantangan pertama tersebut. Hanya satu dua penggowes yang kewalahan dan harus menuntun sepedanya.

Sambal tomat dan palumara
Setibanya di perumahan PT HER, rombongan penggila MTB ini rehat sejenak sembari menunggu kawan-kawan yang tertinggal di belakang. Rute perjalanan kemudian dilanjutkan dengan melintasi rute offroad, disinilah skil dan pengalaman pegowes diuji lagi, karena banyak  tanjakan dan turunan yang sangat terjal yang membutuhkan stamina.

Trek tanah liat berlumpur, hutan dan semak semak, menjadi santapan mengasikkan bagi para goweser kali ini. Namun ada saja pesepeda pemula yang bilang begini, “Ini rute gendeng. Hanya untuk mau makan ikan bandeng saja harus naik turun bukit.” Namun bagi para pegoweser sejati justru suasana yang begini terus dirindukan. Bener ga sih? Rute ini sebenarnya acap dijadikan kawan-kawan komunitas MTB untuk melatih fisik.

Bandeng bakar yang menggoda
Sinar surya pagi itu lumayan menyengat kulit. Rasa haus pun tak terhindarkan. Tampak beberapa peserta harus membasahi kerongkongannya. Sebagian juga menyempatkan diri rehat sejenak di bawah pohon yang rindang.

Selain melewati jalan-jalan berbukit, tanah basah dan pasir putih, para penggowes juga harus memikul sepedanya lantaran beberapa single track melintasi jembatan kecil. Meski begitu kenyataannya di lapangan, ini menjadi perjalanan yang mengasikkan.

Untuk menuju tambak iklan bandeng, peserta juga harus kembali menuntun sepedanya karena harus menghadapi single track turunan terjal. Riskan untuk digowes. Sebagian peserta juga kembali menuntun sepeda masing-masing ketika melintasi pematang di sekitar tambak-tambak iklan, yang hanya bisa dilewati satu orang.

Santap siang menu bandeng bakar
Kebetulan saya penggowes pertama yang sampai di tempat tujuan. Setibanya di lokasi sudah disambut aroma ikan bandeng bakar. Uih benar-benar mengundang selera. Setelah menegak bekal air, saya langsung mendekat ke bapak yang membakar ikan bandeng. Dan, langsung mengambil satu bandeng dari pembakaran, kemudian melahapnya. Alamak nikmatinya…

Suasana di sekitar tambak tampak sepi dan lengang. Ada rasa damai menghampiri. Sesekali terdengar suara perahu motor yang melintasi alur sungai. Tambak-tambak ikan bandeng ini berada persis di bibir Sungai Manggar.

Yoyok (kanan) capek tapi lahap
Satu persatu peserta berdatangan. Mereka langsung menyantap hidangan bandeng tanpa duri, lengkap dengan nasi, sambel tomat, dan lalapan. Ada juga menu palumara. Suguhan yang lumayan komplit. ‘’Wah sambelnya benar-benar nendang,’’ celetuk salah seorang goweser paro baya. Rasa kebersamaan antar goweser saat itu begitu terasa. Sesekali ada canda yang mengundang tawa.

‘’Yang mau nambah ikan bandeng silakan,’’ tukas Mas Yoyok. Ikan bandeng bakar yang disajikan memang jumlahnya lebih banyak. Karena itu, sebagian peserta membawa pulang bandeng bakar  untuk oleh-oleh. Asik memang.

Rute dari Dome menuju tambak bandeng sekitar 20 km dan ditempuh  dalam waktu  2 jam  10 menit. Semua peserta sukses sampai ke tempat tujuan, hanya seorang goweser yang gagal lantaran putus rantai.

Sebagian besar peserta kembali ke kota dengan menggowes sepedanya masing-masing. Hanya sebagian kecil enggan meneruskan perjalanan dengan bersepeda. Mereka dijemput dengan kendaraan roda empat. 


Berfoto di tambak sebelum pulang
Memang sepertinya hanya seekor ikan bandeng , tapi disinilah nikmat dan kebersamaannya. Kenikmatan yang tak bisa dinilai dengan uang. Semua peserta merasa puas dengan rute yang sudah dilaluinya. Begitulah yang ditulis Mas Yoyok di rubrik Big Fans di Kaltim Post edisi 9 Juni 2013. (*)






..