Selasa, 20 November 2012

Memandu Beruang Madu Pemalu


Gerbang KWPLH di Km 23
Hanya satu tujuan bergowes kali ini. Yaitu melihat langsung komunitas Beruang Madu, hewan dilindungi yang menjadi maskot Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Satwa primata endemik yang satu ini tak banyak jumlahnya, dan diperlakukan khusus di Enklosur, yaitu pulau hutan yang dibangun di kawasan Km 23, Kelurahan Karang Joang.

Bersepeda pagi-pagi menelusuri Jl Soekarno-Hatta arah kota Samarinda, untuk menembus Km 23, Kelurahan Karang Joang. Kenapa harus pagi? Selain jalan belum terlalu ramai, udara juga masih segar. Selain itu juga untuk memburu waktu agar sempat melihat bagaimana petugas memberikan makan komunitas Beruang Madu di Enklosur, hutan berpagar seluas 1,3 hektare di mana enam ekor Beruang Madu di lepas secara liar. 
Baru dibuka jam 9 pagi

Pagi pukul 9.00 Wita adalah waktu hewan ini mendapat jatah makan. Selain pagi, Beruang Madu ini juga mendapat santapan makan siang pukul 15.00 Wita. Jadi sehari dapat jatah dua kali makan.

Enklosur Beruang Madu bila ditempuh dari arah Balikpapan menuju Samarinda, berada di sebelah  kanan. Di situ tampak pintu gerbang dan patung Beruang Madu dengan tulisan: Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH). Tempat ini sebelumnya dikenal dengan sebutan Agrowisata. Dari bibir jalan utama tak begitu jauh, sekira satu kilometer lebih.

Petugas pemandu di Enklosur
 Bersepeda ke Enklosur ini mengasikkan. Apalagi cuacanya cerah bersahabat. Selain jalannya beraspal, menuju ke tempat ini sepi dari kendaraan bermotor. Kalau pun ada, hanya satu dua saja. Itu pun hanya masyarakat yang bermukim di sekitar. Karena itu disarankan bila ke sana menggunakan road bike saja. Tapi kalau dengan sepeda gunung (mountain bike) juga tak masalah. Dan dijamin pasti sampai ke tempat tujuan.

Di kiri kanan jalan menuju KWPLH ini hijau membentang. Selain pepohonan dan perkebunan warga, ada juga tempat pembibitan tanaman pertanian. Pemandangan bukit, rumah-rumah petani, dan beberapa aktivitas home industry, seperti pembuatan kompos, dll.

Menyebar makanan untuk Beruang Madu
 Belum pukul 9 pagi saya sudah sampai di depan gerbang Enklosur Beruang Madu. Masih sepi, petugas pun belum datang. Putar-putar sebentar di sekitar KWPLH, tengok kiri tengok kanan. Lalu bertanya kepada salah seorang penjaja makanan di sana; jam berapa Enklosur dibuka? Ternyata baru dibuka pukul 9 pagi. Tempat ini beroperasi hingga sore pukul 17.00 Wita.

Tak begitu lama menunggu, satu persatu wanita petugas Enklosur berdatangan. Ada enam orang. Salah satunya bernama Yana. Ia yang banyak memberikan penjelasan tentang komunitas satwa dilindungi ini.

‘’Sudah bisa masuk ke dalam mba?”” tanya saya membuka perbincangan dengan kesan penasaran.
‘’Ow, belum mas, sebentar lagi. Petugasnya masih menyiapkan makanan untuk Beruang Madu,’’ begitu katanya.

Beruang Madu mencari makanan yang sudah disebar di Enklosur
 Rupanya sebelum pagi pukul 9, ada petugas di area Enklosur yang menyebar makanan untuk beruang-beruang ini. Makanan itu ada yang ditaruh di semak-semak, di batang pohon, hingga ke ranting pohon. Nantinya keenam Beruang Madu ini menyantap makanan tersebut. Yang saya perhatikan, makanan yang disebar itu irisan buah semangka dan nenas.
Kenapa ya makanan itu disebar dan tidak dikumpulkan jadi satu saja?

‘’Ow memang dibuat begitu. Ini untuk melatih indera penciuman beruang. Memang dibuat seperti di alam liar, jadi mereka mencari makanan sendiri, meskipun makanan itu sudah disediakan,’’ ujar Yana yang bekerja di tempat ini sudah enam tahun.

Yang perlu diketahui, keenam satwa ini sebelumnya adalah binatang peliharaan warga. Lima dari hasil sitaan antara tahun 2002 hingga 2004, dan seekor lainnya diserahkan warga ke pengelola KWPLH. Jadi bukan ditangkap dari hutan.  Mereka dipelihara ketika masih bayi. Menurut informasi, bayi Beruang Madu ini diperjualbelikan warga, harganya mencapai Rp 10 juta. Empedu beruang disebut-sebut dapat meningkatkan vitalitas. Wadaw?
Yana perlu menjelaskan kepada pengunjung

Sejak dilepasliarkan kembali, keenam binatang ini perlu menyesuaikan lagi dengan komunitas hutan alam sesungguhnya. Dan di Enklosur inilah tempatnya. Yang menarik, keenam beruang ini sudah paham sekali jam makan. Begitu lonceng berbunyi, mereka kembali ke kandang masing-masing. Beberapa saat setelah petugas menyebar makanan, lantas pintu kandang dibuka. Mulai saat itulah keenam beruang ini menyebar mencari makanan yang telah disiapkan tersebut.

Sebagian makanan ini disebar tak jauh di sekitar panggar. Maksudnya agar pengunjung bisa melihat langsung aktivitas Beruang Madu tersebut melahap kudapan-kudapan yang sudah disediakan. Pengunjung dapat melihat dari broadwalk, yaitu jembatan ulin sepanjang 500 meter yang berjarak sekira 1,5 meter dari panggar Enklosur yang diberi kawat listrik. Sengatan listrik pagar ini  hanya berdaya kejut sekira 3 detik, gunanya tentu untuk Beruang Madu agar tak mendekat ke pagar.

Broadwalk sepanjang 500 meter
 ‘’Mohon perhatian para pengunjung. Saat melihat Beruang Madu dari dekat, kami harapkan tidak berisik,’’ kata Yana mengingatkan pengunjung sebelum pintu pagar Enklosur dibuka untuk umum.
Kenapa tak boleh berisik? ‘’Khawatir saja mereka terganggu. Karena karakter Beruang Madu ini pemalu,’’ ujar Yana. Pengunjung pun tak diperbolehkan memberi makanan hewan yang mempunyai nama latin Helarctos malayanus tersebut. Di kawasan ini juga tidak diperbolehkan merokok! Masuk ke Enklosur gratis, alias tak dipungut bayaran. Namun pengelola menyediakan kotak donasi.

Hust...jangan berisik...
 Begitu kandang dibuka, keenam beruang ini masing-masing langsung mencari makannya. Mengendus-endus, naik ke batang-batang pohon ulin yang memang sudah disiapkan, kemudian terus mengembara di hutan berpagar seluas 1,3 hektare tersebut. Sebelum pukul 15.00 Wita lonceng dibunyikan untuk kali kedua. Beruang-beruang ini pun kembali ke kandang, dan memulai menyantap makan yang lagi-lagi sudah disiapkan.
Jatah makan keenam beruang ini sehari bisa mencapai 10 Kg buah-buahan. Jenis buah bermacam-macam, tergantung yang dibeli pihak pengelola. Selain semangka, nenas, ada juga mangga. Pokoknya yang manis-manis. ‘’Pernah juga diberi apel dan durian,’’ kata Yana. Wuih-wuih, Beruang Madu makan apel dan durian  juga ya?

Kotak donasi suka rela
 Beruang Madu ini bila makan durian atau cempedak, langsung dimakan bersama bijinya. Biji tersebut kemudian keluar kembali melalui kotorannya. ‘’Beruang Madu ini memang dikenal juga sebagai binatang penyebar bibit tumbuhan,’’ tukas pemandu Enklosur yang juga warga Karang Joang ini.

Bila diperhatikan, Beruang Madu di Enklosur memang tampak sehat. Bobotnya paling berat 65 Kg, dan usia diperkirakan di atas 13 tahun. Panjang tubuh sekitar 1,4 meter dengan tinggi punggungnya sekitar 70 cm. Beberapa di antaranya cacat fisik, seperti pada mata dan gigi. ‘’Cacat itu diperkirakan terjadi ketika masih jadi hewan peliharaan warwga,’’ jelas Yana.
Hewan ini mempunyai kuku panjang yang runcing, karena itu ia pandai memanjat pohon hingga 20 meter, dan merupakan spesies beruang terkecil yang dikategorikan bukan predator buas yang kerap menyerang hewan lain. Itu dilakukannya bila dalam keadaan terdesak untuk membela diri. 

Buah Ficus juga dimakan Beruang Madu
 Selain menyantap buah-buahan yang telah disediakan di Enklosur, keenam binatang berbulu hitam ini juga mengendus-endus tanah di sekitar untuk mencari madu dari lebah tanah, larva dan telur rayap.  Sebagaimana diketahui, Beruang Madu ini meskipun termasuk ke dalam ordo karnivora, yaitu hewan  pemakan daging namun bersifat omnivore, yakni satwa pemakan segala.

Di Enklosur pun terdapat binatang liar lainnya, seperti tupai dan burung kipasan belang, bubut alang alang, cucak kutilang, cabai bunga api, dan burung madu belukar.

Tempat ini terbangun atas kerjasama berbagai pihak, seperti Chevron, BP Migas, The Nature Conservancy (Dutch Embasi Jakarta), Alertis, Dutch Foundation Zoos Help, American Association of Zoo Keepers, Free the Beers Fund Inc, EpiBear, dan WoodLand Park Zoo.

Patung Beruang Madu bukan ukuran aslinya

Anda yang tinggal di Balikpapan, sekali-sekali rasanya perlu juga melihat langsung komunitas Beruang Madu yang menjadi simbol Kota Minyak. Bagi penggila gowes juga tak ada salahnya berkunjung ke Enklosur. Gowes sambil berwisata. Anda setuju?

Komunitas Beruang Madu yang sesungguhnya diperkirakan masih ada di kawasan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), meskipun populasinya tidak banyak lagi. Menyelamatkan satwa dilindungi dari kepunahan memang tanggungjawab kita bersama. Seperti lirik lagu Beruang Madu yang ditulis oleh kelompok Palm Duo Plus. 

Selain di Enklosur tempat perlindungan sejumlah Beruang Madu juga ada di  kawasan Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kertanegara. Di hutan suaka seluas 58 hektare yang dikelola oleh Yayasan Semboja Lestari bekerja sama dengan Yayasan BOS (The Borneo  Orangutan Survival Foundation) ini ada 52 ekor Beruang Madu titipan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam.
Selain menjadi maskot kota Balikpapan, Beruang Madu menjadi sebutan tim kesebelasan Persiba. Bahkan beberapa usaha di kota minyak ini menggunakan nama Beruang Madu, seperti bengkel otomotif di Jl Ruhuy Rahayu dan salah satu usaha jasa konveksi. (*)

Selasa, 13 November 2012

Mengukur Jalur Panas di Jamnas


Walikota mengangkat bendera start
Para goweser sejati pecinta offroad berkumpul lagi di event bertajuk Jambore Sepeda Nasional 2012 (Bike for Orangutan). Menggilas trek sepanjang 32 kilometer, penggila sepeda gunung ini mendapat tantangan dasyat. Menerobos hutan Kota Balikpapan, dan menggelinding di jalur onroad dengan beberapa medan tanjakan yang tak kenal kompromi.

Minggu pagi pukul 7.00 Wita tanggal 11 November ratusan pecinta gowes berkumpul di pelataran Hotel Le Grandeur di Jl Jenderal Sudirman. Mereka bersiap-siap menjajal kemampuan, menguji mental dan memancing andrenalin serta mengendalikan insting alam liar. 

Rute panas Jambore Nasional
Mereka datang dari berbagai kota, Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Bandung, Banjarmasin, Tarakan, Bontang, Samarinda, Sangatta, Sendawar, Melak, Samboja, Penajam Paser Utara, Tanah Grogot, dan terbanyak peserta dari tuan rumah Balikpapan. Hampir seribu peserta unjuk gigi di event tahunan garapan Hotel Le Grandeur dan Kaltim Post ini. Dan ini sudah kali keempat.

Sebelum bendera start diangkat oleh Walikota Balikpapan H Rizal Effendi SE, pegiat sepeda ini lebih dulu melakukan pemasan senam pagi dipandu instruktur dari Daily Studio. Beberapa saat sebelumnya dijamu sarapan pagi, ubi rebus, singkong, teh dan kopi. Lumayan untuk menghangatkan badan. Kegiatan yang bukan bersifat kompetisi ini juga menyediakan iming-iming hadiah lewat pengundian doorprize.

Peserta memadat di Jl MT Haryono
Ada dua rute tersaji. Yaitu rute VIP hanya sepanjang dua kilometer lebih yang diikuti undangan para pejabat, dan original route, yaitu sepanjang 32 kilometer. Seperti biasa, begitu bendera diangkat para goweser langsung tancap gas. Ada yang sprint, medium speed, dan nyantai-nyantai saja. Waktu yang diestimasikan panitia selama 150 menit. Saya mau coba-coba begaya jadi sprinter bersama rekan-rekan komunitas MTB pecinta alam liar lainnya.
Blue Sky Community nyantai saja

Kenapa sprint? Karena khawatir apabila memacu sepeda medium speed akan terjebak dengan iring-iringan yang memadat. Sementara rute yang dijajaki kelak banyak yang single track. Dan benar, peserta medium speed terjebak dengan pemandangan antrean. Baik untuk medan downhill maupun pun trek uphill. Terjadi penumpukan goweser yang cukup menelan waktu. Berjalan pelan menurun sambil menuntun sepeda. Harus sabar. Lumayan untuk coollingdown.  
Namun bejubelnya peserta dalam satu trek ini, justru membuat suasana silaturahmi kian terasa. Ada rasa kebersamaan.

Mulai disambut aroma tak sedap
 Ini sangat berbeda dengan goweser yang menjajal sprint. Skill individu benar-benar teruji. Bahkan jarak antara peserta satu dan peserta lainnya yang memimpin di depan, relatif cukup jauh. Bisa sepuluh sampai 15 meter. Bila terjadi stag, niscaya akan semakin tertinggal jauh. Dan benar ini saya rasakan, begitu terpental di tengah hutan kota lantaran out off control, maka tertinggal sekian menit. Segera bangkit dan genjot lagi, meski nafas di ubun-ubun seperti tinggal sejengkal lagi. Ngos-ngosan dan mencoba mengusir rasa panik.

Kalau dibandingkan antara rute onroad dan offroad, lebih banyak rute offroad-nya. Perkiraan saya berkisar 60 : 40 persen. Mudah-mudahan gak meleset. Sebagian trek juga dikategorikan crosscountry, masuk keluar kampung. Penggowes juga sempat mencicipi beberapa jalur macadam yang bebatuan.

Tak ada pilihan selain mendorong
Rute yang dilintasi iring-iringan pesepeda ini adalah Jl MT Haryono, Jl Makmur, kemudian crosscountry menuju Gunung Cinta, tembus ke Jl Beler. Sayangnya di tantangan awal ini peserta sempat mendapat sajian yang kurang sedap. Yaitu aroma sampah. Di tengah nafas yang terengah-engah penggowes justru menghirup udara tak segar. Sebaiknya rute ini tak mesti dilintasi peserta.

Jalan turun pun harus antre
Setelah itu menuju kawasan Sungai Ampal dan tembus kompleks Perumahan Balikpapan Baru, kemudian menelusuri trek offroad menuju kawasan Straat Tiga dan meluncur ke arah Jl Indrakilla. Sebagian peserta menuntun sepeda, dan selebihnya memaksa tanjakan. Persis di pertigaan Rumah Ulin (eks Kantor Pajak), para peserta diberi kesempatan jeda sejenak untuk membasahi tenggorokan. Beberapa peserta merenggangkan otot di etape pertama ini. Panitia juga memberikan kelonggaran bagi peserta yang tak mampu, boleh langsung kembali ke garis finish menelusuri Jl MT Haryono.
Aksi pikul sepeda ketika masuk hutan kota

Dari pertigaan Jl Indrakilla-MT Haryono inilah awalmula andrenalin para goweser diuji. Pasalnya, rute yang akan dilintasi adalah hutan kota yang berada di belakang RSU Kanujoso Djatiwibowo. Dari titik awal jalur merah ini, peserta sudah harus mengangkat sepeda masing-masing menuruni anak tangga. Tak ada pilihan. Dari sinilah kemampuan individu peserta mulai teruji. Sebab, sepanjang rute hutan ini adalah single track, jadi tidak mungkin para peserta jalan secara bergerombol. Apalagi disambut trek dengan slop kira-kira 30 derajat. Diperkirakan di dalam hutan ini masih ada binatang berbahaya, semisal ular.
Hujan sehari sebelumnya yang membasahi kota Balikpapan, sedikitnya ikut berpengaruh. Medan di tengah hutan yang dilintasi sedikit basah. Arah jalan dari seperempat rute ini dipandu oleh personel TNI dari Yonif 600 Rider, terutama pada jalur-jalur yang berat. Selebihnya, para goweser dilepas mengikuti tanda arah dan serpihan kertas sebagai petunjuk.
Ekspatriat tak mau ketinggalan adu nyali

Meski sudah ada pemandu dan tanda, masih ada saja peserta yang tersesat. Dan itu dialami rekan dari Blue Bike Community (BBC). ‘’Waktu ujicoba rute minggu lalu, setahu saya jalur itu yang benar. Eh ternyata berubah dan keliru. Saya dan beberapa teman harus mendorong sepeda berbalik arah,’’ ujar Umar Baki dari BBC. Meski sempat tersesat, Umar dkk mampu menyelesaikan rute hingga etape terakhir.

Keluar masuk hutan
 Gowes kali ini memang menjajal rute-rute mengasyikkan, seperti menerobos padang ilalang, hutan safana, hingga mini belantara yang nyaris tak tembus sinar matahari, serta bukit terjal dengan sejumlah drop off. Penggila offroad juga harus mencicipi jalur road climbs yang memaksa harus mendorong sepeda ke atas bukit, kemudian melewati beberapa anak sungai. Sepeda tak bisa dipancal, tapi harus dipikul, lantaran jembatan dengan tiga batang bambu yang dibuat panitia cukup rawan bisa dilintasi dengan sepeda. 
Belum lagi rintangan ranting dan batang pohon ukuran kecil yang membentang di depan jalan. Kalau tidak ekstra hati-hati kepala pesepeda bisa menyentuhnya. Ada juga akar rotan muda merintang di tengah jalan, yang sempat terkait di ban dan rantai sepeda sebagian peserta. Cukup menghambat.

Sepintas saya perhatikan, banyak penggowes dengan MTB fulsus yang justru lebih aman saat melewati jalur-jalur ekstrem ini. Terutama pada rute semi all mountain. Performa endurance jenis MTB ini rata-rata lumayan baik di medan hutan kecil tersebut.

Selama menjelajah trek turun naik di antara pepohonan ini tak sedikit peserta yang kelelahan dan harus terpisah dengan komunitasnya. Selain daya tahan fisik menurun, ada peserta dari komunitas MTB Samarinda yang pingsan. Ia harus segera dievakuasi oleh tim sweeper. Salah satu pesepeda putri dari Rabu Gaul Community juga nyaris pingsan. 

Lega keluar dari trek hutan
Di etape kedua ini enerji peserta benar-benar terkuras. Bahkan ada peserta diserang rasa frustasi, enggan melanjutkan etape. Tapi apa daya? Sudah kadung di tengah hutan, sangat sulit untuk kembali ke jalur onroad. Hanya ada satu pilihan, yaitu meneruskan perjalanan jalur serba hijau  ini hingga ke pemukiman warga di Jl Tumaritis. Disini peserta disambut panitia dengan minuman orange dan buah segar semangka. Lumayan untuk menambah stamina dan coollingdown.
Saya hanya memanfaatkan waktu jeda ini sekitar setengah menit untuk menambah bekal air putih. Selain hemat waktu,  pada etape ketiga on road di Jl MT Haryono juga sangat membutuhkan air untuk menghindari dehidrasi. Beberapa trek roller-coaster, yaitu tanjakan kemudian disambut jalan menurun harus dilewati peserta di Jl MT Haryono hingga Jl Syarifuddin Yoes. Rute agak mendingan ketika masuk ke  Jl Kutilang hingga tembus ke Jl MT Haryono Dalam. Sebagian peserta juga memilih rehat sejenak setelah menaklukkan beberapa tanjakan ini. Mengulur-ulur waktu hingga ke garis finish.
Meskipun tak memanfaatkan waktu jeda, ada rasa lega ketika posisi sudah berada di pertigaan Jl MT Haryono-Jl Jenderal Sudirman. Sebab, sekitar 600 meter gerbang finish menyambut dengan terbuka . Rasa letih terkubur oleh rasa bahagia. Saya bersyukur bisa mengaspalkan roda sepeda di garis finish berbarengan dengan salah seorang goweser dari komunitas MTB Bontang, untuk menyusul tim dari Monster Community yang lebih dulu berkibar di garis akhir. Tuntas sudah penjelajahan Jambore Sepeda Nasional 2012, Bike for Orangutan ini. Sesampai di finish peserta disambut hiburan musik dari Be-Think Entertainment yang dipandu MC Ririn Muji.

Satu persatu peserta sampai ke tujuan akhir. Ada yang sendiri karena terpisah dengan komunitasnya, ada juga yang tetap kompak masuk ke garis finish meskipun jumlahnya tak utuh. Dapat disebut, hampir seluruh peserta berwajah letih.
Perhelatan sepeda akbar ini rampung hingga siang. Panitia juga menjemput para goweser yang terganjal di lapangan, dengan bantuan armada dari Lanal Balikpapan. Tak semua peserta berhasil menaklukkan jalur panas ini. Karenanya panitia melibatkan para pegiat motocross sebagai sweeper bagi peserta yang mengalami kendala. 

Seremoni pengumpulan dana untuk orangutan
Selain diikuti pecinta sepeda dari berbagai kota, jamnas tersebut juga menarik minat ekspatriat,  termasuk mantan pembalap nasional Alif Yuvana yang ikut berbaur meramaikan acara.
Meskipun event ini bukan kategori kompetisi, tapi saya cukup puas bisa menyelesaikan rute challenge dengan waktu di bawah estimasi panitia. Dan alhamdulillah, pulang membawa hadiah sepeda gunung Poligon dari undian doorprize. 
 Tengkyu banget buat tim dari Hidup Baru (Pandansari) yang sudah membantu menyetingkan MTB fulsus saya. Lumayan untuk offroad.

Dari kegiatan ini panitia berhasil mengumpulkan dana Rp 15 juta untuk disumbangkan ke BOSF (Balikpapan Orangutan Society Foundation). Okey, sampai jumpa di rute menantang lainnya. Oh ya, tengkyu banget buat Mas Ambri dan Mas Okky atas foto-fotonya. (*)

Kamis, 08 November 2012

Sepi Menepi di Peti Kemas

Poros jalan dua jalur ke TPK

Pelabuhan Terminal Peti Kemas Kariangau. Tempat inilah yang belum lama diresmikan oleh Presiden SBY. Berada di wilayah Kelurahan Kariangau, Kecamatan Balikpapan Barat, provinsi Kalimantan Timur. Jaraknya hanya sekitar 30 Km dari kota Balikpapan. Ada apa disana? Ya, tumpukan peti kemas.

Bersepeda menuju pelabuhan Terminal Peti Kemas (TPK) Kariangau bukanlah pilihan yang pas untuk sekadar bergowes di hari libur. Ini karena dorongan rasa penasaran, sehingga rute ke sana ditempuh juga. Sebelumnya saya memang sudah menjadwalkan rute ini, namun belum menentukan waktu yang pas.

Di perempatan jalan tol menuju TPK
 Minggu pagi itu sebenarnya berhasrat untuk mengikuti kawan-kawan di komunitas Blue Bike Community (BBC) untuk menjajal rute offroad yang akan dilintasi peserta event Jambore Sepeda Nasional (Bike for Orangutan) yang diselenggarakan oleh Hotel Le Grandeur dan Kaltim Post, 11 November 2012. Namun ujicoba rute gagal, lantaran miss-communication.
Mencoba rute tersebut sedianya dijadwal Sabtu pagi. Karena cuaca tak mendukung, hujan, akhirnya acara di-delay keesokannya. Lewat Blackberry Masanger (BBM) janjian Minggu pagi pukul 7.00 ngumpul di parkiran Le Grandeur (elje) dengan Mas Okky, penggowes berbadan gempal dari Kaltim Post yang rajin menjadi panitia event-event gowes di Balikpapan. 

Jembatan menuju terminal
 Namun karena salah persepsi, dan BBM delay melulu, rombongan dari BBC justru sepakat start di perumahan Wika, Jl MT Haryono untuk menjajal rute Jambore Sepeda Adventure tersebut. Akhirnya, saya pun tertinggal. Gigit jari deh. Padahal sudah siap-siap dengan MTB fulsus. Tapi tak mengapa, jadwal gowes Minggu pagi itu langsung saya arahkan ke rute baru; Pelabuhan Terminal Peti Kemas Kariangau. Jauh? Ya, memang. Yang penting hati senang.
Menuju Pelabuhan Peti Kemas Kariangau ini perlu banyak bekal, terutama air. Khawatir dehidrasi. Medan trek biasa-biasa saja, namun karena cuaca pagi itu cerah, sinar matahari serasa menembus pori-pori kulit. Peluh tak henti-henti menetes.
Melintas di depan danau kuning
Jalan ke TPK  ini sebelah kiri dari poros jalan Soekarno-Hatta, Km 13, arah menuju Samarinda. Jarak dari perempatan pembangunan jalan tol ini kurang lebih 14 km. Bukan jalan aspal, melainkan semen cor-coran padat. Di kawasan ini sedang tumbuh berkembang menjadi Kawasan Industri Kariangau (KIK). Beberapa lahan kosong tampak sudah berdiri bangunan workshop dan pergudangan milik swasta.
Lima tahun lalu, saya pernah melintasi jalan ini dengan sepeda motor untuk menuju pembangunan Jembatan Pulau Balang, yang menghubungkan antara Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan Kota Balikpapan. Jalannya belum sempurna, masih dalam tahap pengerasan. 

Sayangnya, proyek jembatan yang diperkirakan menelan anggaran Rp 1,5 triliun tersebut belum kunjung selesai.  Pulau Balang ini menjadi titik penghubung ke dua kabupaten kota tersebut.
Pembangunan jembatan trans Kaltim-Kalsel ini selentingannya juga masih terganjal pembebasan lahan. Dan belum lama, Pulau Balang dan Pulau Kwangan di sebelahnya diklaim kepemilikannya oleh salah seorang warga yang mengaku ahli waris. Kedua pulau akan dijual Rp 50 miliar. Uih…
Truk yang tergelincir
Ada yang berbeda bila bergowes ke TPK ini. Kita akan ditemani suara deru kendaraan berbadan besar, seperti dump truck, tronton, trailer truck, dan kendaraan angkut sejenis truk-truk gajah. Karena bebas hambatan, beberapa sopir ada yang memacu kencang kendaraannya. Yang tak bisa terhindarkan adalah: debu jalanan. Seandainya ingin gowes kembali di rute ini, sebaiknya membawa masker penutup hidung.
Bila truk melintas dari depan, saya memperlambat kayuh sepeda. Bahkan beberapa kali harus berhenti dan menepi di pinggir jalan yang sepi bila iring-iringan truk-truk gajah melintas. Maksudnya pilih aman sajalah. Tanpa kompromi mereka melaju begitu saja, wes…wes…wess. Waduhhh.
Meskipun sepi harus tetap semangat
Mestinya sopir truk-truk besar ini juga memberikan tolerasi kepada pengguna jalan lainnya. Dan hati-hati, ada beberapa kawasan di jalan ini belum sempurna, lagi pula licin. Kalau tidak ekstra hati-hati juga bisa membawa masalah. Pagi itu saya mendapati salah satu truk kargo terperosok lantaran salah jalur. Nah, apakan?
Sepanjang kiri kanan jalan menuju pelabuhan ini hanyalah perkebunan rakyat dan hutan hijau membentang. Kalau pun ada rumah penduduk, tapi tak sepadat yang diperkirakan. Beberapa bangunan perusahaan penunjang jasa migas berdiri di kawasan ini.   

Saya membayangkan, bila malam jalan ini gelap gulita lantaran penerangan jalan yang belum sempurna dan merata. Namun minggu pagi itu, sejumlah petugas tampak sedang memasang tiang untuk instalasi penerangan jalan.
Ini pelabuhan TPK dengan dua menara cran
Belum ada keelokan bernilai wisata yang bisa memanjakan mata memandang di sepanjang jalan ini. Rute tersebut memang tak cocok untuk 
bergowesria. Itu pendapat saya. Sesampai di terminal peti kemas yang didapatkan hanyalah pemandangan tumpukan container dengan berbagai ukuran, cran serta kendaraan berat. Itu saja. 

Selebihnya bentangan hutan mangrove, dan pemandangan Teluk Balikpapan. Menuju ke TPK juga mesti melewati jembatan. Di kawasan ini pun terdapat dua telaga alam, yang mungkin bisa dijadikan bendungan pengendali.
Meskipun pemandangan alam di TPK tak indah-indah amat, setidaknya rute ke sana sudah terpenuhi. Biar gak penasaran. Soalnya, tempat ini heboh banget diberitakan media lantaran diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu 24 Oktober 2012 lalu. 
Tumpukan container di TPK
Presiden SBY saat bersamaan juga meresmikan ground breaking beberapa proyek masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia yang diprogramkan provinsi Kaltim. Proyek yang diresmikan itu antara lain Bandar Udara Kalimaru Berau, Terminal Bandara Sepinggan Balikpapan, PT Pupuk Kaltim 5, Bandar Udara Samarinda Baru, Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional Maloy dan Proyek Jembatan Kembar Samarinda.

TPK saat sedang dibangun
 Menurut informasi yang saya baca, TPK yang melakukan ujicoba akhir Agustus 2012 ini memiliki dermaga sepanjang 270 meter dengan kedalaman laut 14 meter. Kapasitas bongkar muat di pelabuhan ini hingga 300 ribu TEUs. Apa itu? Singkatan dari twenty-foot equipment unit. Lahan pengembangan TKP seluas 72,5 hektare. 

TPK dibangun lantaran kegiatan bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Semayang sudah kian crowdet, dan disebut-sebut menjadi biang kemacetan arus lalu lintas di Jl Yos Sudarso.
Diharapkan prospek pertumbuhan ekonomi di KIK ini terus berkembang. Menurut informasi masyarakat sekitar, harga jual lahan di kawasan ini melambung dan disebut-sebut ada yang di atas nilai jual objek pajak yang ditetapkan pemerintah kota Balikpapan. Weleh-weleh… (*)