Rabu, 10 Juli 2013

Rute Gendeng Cari Bandeng



Gowes bareng sambil bertamasya. Gawe ini memang selalu ditunggu kawan-kawan komunitas MTB. Minggu pertama Juni 2013 menjadi moment yang pas. Mungkin begitulah. Pilihannya adalah; Tambak Ikan Bandeng di daerah Kelurahan Manggar, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Foto bareng di tengah perjalanan
Boleh jadi acara gowes kali ini terbilang dadakan. Pasalnya tak ada informasi jauh sebelumnya.  Hanya ada bisik-bisik,  untuk mengisi hari libur nasional bertepatan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tanggal 6 Juni 2013 yang jatuh pada hari Kamis, kawan-kawan komunitas MTB berniat gowes bareng jalur offroad. Itu saja sepenggal informasinya.

Selalu enjoy
Dua hari menjelang hari H, tiba-tiba broadcast di BBM komunitas Goweser Balikpapan mengundang para penggila sepeda gunung untuk gowes bareng ke tambak ikan bandeng. Haa? Asyieek..

‘’Provokator’’ acara dadakan ini adalah Mas Yoyok, penggila MTB yang sering dipercaya menjadi leader di komunitas Rabu Gowes. ‘’Yang mau ikutan gowes ke tambak ikan bandeng ngumpul di depan Dome jam tujuh pagi,’’ ujarnya lewat BBM. Yang dimaksud Dome adalah Balikpapan Sport and Convention Center di Jalan Ruhuy Rahayu.

Mas Yoyok mengabarkan setiap goweser harus menyetor Rp 25 ribu. Ini tak lain adalah untuk biaya makan bandeng di lokasi acara.

Trek berlumpur jadi tantangan
Yang bikin geleng-geleng kepala adalah, acara dadakan tanpa basa-basi sebelumnya ini terkesan tanpa persiapan berarti. Pokoknya langsung tancap saja. Panitianya juga gak ada. Cuma satu orang,ya Mas Yoyok itu.

Kamis pagi 6 Juni 2013 pukul 6.20 Wita saya sudah berada di lokasi acara. Saya berani mengklaim orang pertama yang berada di tempat start. (mungkin juga sudah ada goweser lain yang hadir lebih dulu, tapi saya gak lihat). Datang duluan bukan lantaran kelewat bersemangat untuk ikutan gowes bareng ke tambak bandeng, tapi karena memang jarak rumah dengan Dome hanya sekira 1 km. Jadi relatif butuh waktu hanya beberapa menit untuk menuju ke destinasi tersebut.


Rehat sejenak sembari menunggu yang lain
Satu persatu goweser berdatangan. Ada yang menggenjot sepeda dari rumah masing-masing. Ada juga yang membawa kendaraan roda empat, kemudian menurunkan sepeda kesayangannya di lokasi start. Seperti biasa, kami saling menyapa dan bersalaman antar goweser bila berjumpa. Suasana pagi ini begitu hangat dan bersahabat.

Waktu hampir pukul tujuh pagi, peserta kian banyak. Namun ‘’sang provokator’’ Mas Yoyok belum juga menampakkan batang hidungnya. Beberapa teman goweser tampak mulai gelisah. ‘’Kapan nih startnya,’’ celetuk salah satunya. ‘’Kita masih nunggu Mas Yok,’’ kata saya mencoba memberikan pengertian kawan tadi. Sabar dikitlah…

Basahi kerongkongan
Tak lama kemudian Mas Yoyok datang. Lengkap dengan sepeda, tas punggung, dan membawa map yang isinya daftar nama peserta. Dari daftar nama peserta itu tampak siapa goweser yang belum setor Rp 25 ribu. Sebagian peserta merapat ke Mas Yoyok dan menyodorkan uang pendaftaran.

Lebih baik dipikul daripada risiko
Menurut Mas Yoyok, gowes tamasya ini diikuti sekitar 50an orang dari berbagai komunitas, seperti BBC, BBS, MTB, KGB , A Team dan  CAC. Ini merupakan kegiatan awal dan pertama dari Balikpapan Cycling Community sejak terbentuknya Komunitas ini tanggal  17 May 2013. 

‘’Kegiatan ini untuk  mempererat rasa persaudaraan sesama pegowes dan sesama klub sepeda yang ada di Balikpapan,’’ kata Yoyok, sembari menyebut untuk merealisasikan gagasan spontanitas ini ia dibantu rekannya Sanuri dan Bolang, dua ‘’algojo’’ goweser kota minyak. 
          Kegiatan ini juga untuk mempromosikan potensi kota Balikpapan dimana juga ada tambak ikan bandeng tanpa duri, yang sementara ini orang beranggapan ikan bandeng berasal dari luar daerah.

Tuntun di pematang tambak
Pagi itu sebelum melahap jalur  onroad dan offroad para peserta lebih dulu dapat mengarahan rute dari Yusuf, ketua Komunitas Gowes Balikpapan (KGB), sekaligus sejenak berdoa bersama.


          Trek menuju lokasi tambak bandeng  ini melewati perumahan di Jl Praja belakang SMA 5, kemudian menuju perumahan PT HER. Disini peserta sudah mendapat tantangan tanjakan tajam dan panjang. Hampir rata-rata peserta mampu menaklukkan tantangan pertama tersebut. Hanya satu dua penggowes yang kewalahan dan harus menuntun sepedanya.

Sambal tomat dan palumara
Setibanya di perumahan PT HER, rombongan penggila MTB ini rehat sejenak sembari menunggu kawan-kawan yang tertinggal di belakang. Rute perjalanan kemudian dilanjutkan dengan melintasi rute offroad, disinilah skil dan pengalaman pegowes diuji lagi, karena banyak  tanjakan dan turunan yang sangat terjal yang membutuhkan stamina.

Trek tanah liat berlumpur, hutan dan semak semak, menjadi santapan mengasikkan bagi para goweser kali ini. Namun ada saja pesepeda pemula yang bilang begini, “Ini rute gendeng. Hanya untuk mau makan ikan bandeng saja harus naik turun bukit.” Namun bagi para pegoweser sejati justru suasana yang begini terus dirindukan. Bener ga sih? Rute ini sebenarnya acap dijadikan kawan-kawan komunitas MTB untuk melatih fisik.

Bandeng bakar yang menggoda
Sinar surya pagi itu lumayan menyengat kulit. Rasa haus pun tak terhindarkan. Tampak beberapa peserta harus membasahi kerongkongannya. Sebagian juga menyempatkan diri rehat sejenak di bawah pohon yang rindang.

Selain melewati jalan-jalan berbukit, tanah basah dan pasir putih, para penggowes juga harus memikul sepedanya lantaran beberapa single track melintasi jembatan kecil. Meski begitu kenyataannya di lapangan, ini menjadi perjalanan yang mengasikkan.

Untuk menuju tambak iklan bandeng, peserta juga harus kembali menuntun sepedanya karena harus menghadapi single track turunan terjal. Riskan untuk digowes. Sebagian peserta juga kembali menuntun sepeda masing-masing ketika melintasi pematang di sekitar tambak-tambak iklan, yang hanya bisa dilewati satu orang.

Santap siang menu bandeng bakar
Kebetulan saya penggowes pertama yang sampai di tempat tujuan. Setibanya di lokasi sudah disambut aroma ikan bandeng bakar. Uih benar-benar mengundang selera. Setelah menegak bekal air, saya langsung mendekat ke bapak yang membakar ikan bandeng. Dan, langsung mengambil satu bandeng dari pembakaran, kemudian melahapnya. Alamak nikmatinya…

Suasana di sekitar tambak tampak sepi dan lengang. Ada rasa damai menghampiri. Sesekali terdengar suara perahu motor yang melintasi alur sungai. Tambak-tambak ikan bandeng ini berada persis di bibir Sungai Manggar.

Yoyok (kanan) capek tapi lahap
Satu persatu peserta berdatangan. Mereka langsung menyantap hidangan bandeng tanpa duri, lengkap dengan nasi, sambel tomat, dan lalapan. Ada juga menu palumara. Suguhan yang lumayan komplit. ‘’Wah sambelnya benar-benar nendang,’’ celetuk salah seorang goweser paro baya. Rasa kebersamaan antar goweser saat itu begitu terasa. Sesekali ada canda yang mengundang tawa.

‘’Yang mau nambah ikan bandeng silakan,’’ tukas Mas Yoyok. Ikan bandeng bakar yang disajikan memang jumlahnya lebih banyak. Karena itu, sebagian peserta membawa pulang bandeng bakar  untuk oleh-oleh. Asik memang.

Rute dari Dome menuju tambak bandeng sekitar 20 km dan ditempuh  dalam waktu  2 jam  10 menit. Semua peserta sukses sampai ke tempat tujuan, hanya seorang goweser yang gagal lantaran putus rantai.

Sebagian besar peserta kembali ke kota dengan menggowes sepedanya masing-masing. Hanya sebagian kecil enggan meneruskan perjalanan dengan bersepeda. Mereka dijemput dengan kendaraan roda empat. 


Berfoto di tambak sebelum pulang
Memang sepertinya hanya seekor ikan bandeng , tapi disinilah nikmat dan kebersamaannya. Kenikmatan yang tak bisa dinilai dengan uang. Semua peserta merasa puas dengan rute yang sudah dilaluinya. Begitulah yang ditulis Mas Yoyok di rubrik Big Fans di Kaltim Post edisi 9 Juni 2013. (*)






..




         







Selasa, 20 November 2012

Tersanjung di Tanjung Harapan


Pemandangan indah di Tanjung Harapan
Gowes sambil berwisata memang punya keasikkan tersendiri. Apalagi menuju objek wisata alam yang indah. Dan kali ini saya mengunjungi Pantai Tanjung Harapan di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Meski biasa-biasa saja, tapi ada nikmat tak terhindarkan.

Ada yang bilang; bersepeda di alam terbuka bisa membunuh kepenatan. Benarkah? Ternyata memang betul. Dan itu saya rasakan ketika menggenjot sepeda di antara ribuan pohon kelapa, di jalan-jalan setapak hutan safana, dan kemudian meluncur di pesisir pantai. Suasana hati yang menyenangkan itu didapatkan ketika berkunjung ke Pantai Tanjung Harapan dan Pantai Wisata Tanah Merah Samboja, Kabupaten Kutai Kertanegara.
Gerbang Tanah Merah

Secara jarak Kecamatan Samboja lebih dekat dengan kota Balikpapan, bila dibandingkan Tenggarong yang menjadi ibukota Kabupaten Kutai Kertanegara itu. Dari Balikpapan kurang lebih 50 km. Kalau mampu bisa ditempuh dengan sepeda. Dan beberapa penggila roadbike dari Balikpapan acap melintas kawasan Samboja ini. Hanya saja, ada beberapa medan tanjakan menantang yang lumayan menguras energi.

Rehat di kebun kelapa yang sepi
Berangkat gowes wisata kali ini tidak dari Balikpapan. Tapi dimulai dari depan Kantor Polsek Samboja. Jaraknya ke Pantai Wisata Tanah Merah tak begitu jauh, sekira 10 Km.  Bila dari arah Balikpapan,  letak pantai ini di sebelah kanan jalan. Dari situ menelusuri jalan beraspal sekitar 1 Km, maka akan sampai di Tanah Merah. 

Tarif masuk ke obyek wisata ini Rp 3 ribu per orang. Tapi saya gratis, alias gak bayar. Lho kok bisa? Ya, bisalah. Karena petugas jaga di pos gerbang pantai wisata itu belum ada. Sebab saya tiba di sana pukul 8 pagi. Sementara petugas baru berada di pos pukul 10 pagi.
Single track di perkebunan

Tujuan utama gowes kali ini sebenarnya bukanlah Tanah Merah, tapi pesisir Pantai Tanjung Harapan yang tak jauh dari situ. Tanjung Harapan ini nama salah satu kelurahan di Samboja, yang barangkali diambil dari nama sungai kecil Tanjung Harapan yang membelah di wilayah ini. Di Samboja ada 21 kelurahan.

Sepeda jadi alat transportasi warga
Untuk menuju ke sana saya melewati perjalanan di antara kebun-kebun kelapa milik warga. Kebetulan beberapa jalan setapak yang menjadi pembatas perkebunan ini sudah disemenisasi. Salah satunya Gang Kedondong yang dibiayai dengan APBD Kukar senilai Rp 48 juta lebih. Jalan ini menghubungkan kampung di Jl Wisata Tanah Merah ke perkampungan sebelah di Jl Pasiran.

Sebagian penduduk di sini bermata pencaharian berkebun, nelayan dan beternak sapi. Dan tak heran ketika melintasi beberapa jalan di perkebunan itu tak sengaja menginjak kontoran sapi. Kalau saja tidak ekstra hati-hati atau teliti, niscaya ban sepeda akan penuh dengan (maaf) kotoran sapi tersebut. Dan, he..he..he… ini saya rasakan, ban sepeda sarapan pagi dengan e’ e’ sapi yang masih basah. Tapi tak apalah. Saya pikir; toh nanti bisa dicuci. Ya.. dinikmati saja perjalanan ini.

Trek pasir agak basah sulit dilintasi
Ada beberapa trek yang mengasikkan. Salah satunya melewati jembatan ulin di antara pohon-pohon bakau menuju pantai, bila dilewati suaranya berisik lantaran paku dari sejumlah papan ulin sudah terlepas, kemudian aliran sungai kecil yang airnya bening, dan tanjakan-tanjakan bukit rendah. Kontur tanah di daerah Samboja ini memang berpasir. Pasir-pasir putih di Samboja inilah yang ditambang oleh masyarakat dan dijual ke kota untuk bahan campuran semen bangunan.

Suasana di sepanjang jalan-jalan setapak dan jalur-jalur double track ini pagi itu masih sepi. Satu dua ada yang melintas dengan sepeda motor. Dan dapat ditebak, mereka adalah penduduk di sekitar. 
Jembatan ulin yang berisik
Setelah melintasi rute-rute mengasikkan yang menghibur mata, trek berikutnya adalah menyusuri pesisir pantai di Tanjung Harapan. Pemandangan cantik sekali. Pohon-pohon mangrove, dan bukit-bukit hijau mewarnai potret keindahan alam Samboja.

Bersihkan ban dari kotoran sapi
Hanya saja, melintas di pesisir pantai ini kita mesti waspada. Selain genjotan terasa lebih berat dibanding jalan beraspal, sepeda juga harus melewati terumbu dan karang-karang kecil yang sudah mati. Kalau tidak hati-hati bisa nahas. Dan ini saya alami, ban sepeda tertusuk karang kecil yang runcing. Apa boleh buat, ban depan pun terancam gembos. Perjalanan ke sepanjang pesisir pantai ini pun harus terhenti total. Apa boleh buat, risiko. Saya pun harus menuntun sepeda menuju Pantai Wisata Tanah Merah yang tak terlalu jauh, dan membiarkan karang kecil itu masih menempel di ban. Sebab kalau dicabut, otomatis angin ban langsung habis. Bisa kacau deh.

Meski begitu kenyataannya, rasa letih seakan-akan hilang ditiup sepoi angin pantai yang lumayan sejuk. Berjalan di bawah hutan cemara rindang di Tanah Merah, ditemani suara gesekan ranting yang digerakkan angin, sungguh mampu menghibur suasana hati. Refresh.

Gubuk milik nelayan
Mengusir dahaga dengan air kelapa muda memang sudah direncanakan sejak pagi. Syukurnya di pantai wisata itu penjaja makanan sudah membuka kedai-kedainya. Pengunjung di pantai itu pun mulai berdatangan. Tak terasa matahari mulai beranjak siang. Saya putuskan harus kembali ke Balikpapan.

Saat melintasi gerbang pantai wisata Tanah Merah dengan kondisi ban depan yang nyaris kempes, petugas di pos sudah ada tiga orang. Saya utarakan bahwa pagi tadi saya masuk melewati gerbang pantai ini tak bayar. Petugas maklum. Tapi saya tetap saja menyodorkan uang Rp 50 ribu, dan kemudian diberi kembalian sesuai tarif masuk Rp 3 ribu.

Trek di pesisir pantai terasa lebih berat
 Kalau hari libur seperti ini berapa pengunjung Pantai Wisata Tanah Merah? ‘’Ya, sekitar 300 orang saja. Kalau hari biasa  sepi,’’ ujar salah satu petugas. Lantas ia membandingkan Pantai Wisata Tanah Merah tak seramai Pantai Lamaru di Balikpapan yang kini digarap secara profesional.

‘’Benar sih pak. Kebetulan saya sering ke Pantai Lamaru. Saya tinggal di Balikpapan,’’ ucap saya seraya mengambil uang kembalian pembelian tiket tadi.
‘’Lho, bapak dari Balikpapan ya?’’ celetuk petugas lainnya.

‘’Ya, saya dari Balikpapan,’’ jawab saya.
Hati-hati banyak terumbu karang
‘’Hah, luar biasa bapak ini. Naik sepeda jauh amat dari Balikpapan,’’ ujarnya dengan pandangan separo terheran-heran, sembari menggelengkan kepala.

Saya sempat tersanjung, lantas buru-buru pamit dan langsung meluncur meninggalkan mereka. Mungkin mereka berpikir saya mengayuh sepeda dari Balikpapan menuju Samboja. Walah. 

Padahal kan tidak, tapi dari depan Polsek Samboja ke Tanah Merah yang jaraknya relatif dekat. Ya,sudahlah.
Karang kecil menancap di ban
Dan benar ternyata, sesampai di Balikpapan ban depan sepeda saya benar-benar gembos. Tak ada anginnya sama sekali. Syukurnya ke Samboja membawa kendaraan roda empat. (*)
Pohon-pohon cemara di Tanah Merah

Memandu Beruang Madu Pemalu


Gerbang KWPLH di Km 23
Hanya satu tujuan bergowes kali ini. Yaitu melihat langsung komunitas Beruang Madu, hewan dilindungi yang menjadi maskot Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Satwa primata endemik yang satu ini tak banyak jumlahnya, dan diperlakukan khusus di Enklosur, yaitu pulau hutan yang dibangun di kawasan Km 23, Kelurahan Karang Joang.

Bersepeda pagi-pagi menelusuri Jl Soekarno-Hatta arah kota Samarinda, untuk menembus Km 23, Kelurahan Karang Joang. Kenapa harus pagi? Selain jalan belum terlalu ramai, udara juga masih segar. Selain itu juga untuk memburu waktu agar sempat melihat bagaimana petugas memberikan makan komunitas Beruang Madu di Enklosur, hutan berpagar seluas 1,3 hektare di mana enam ekor Beruang Madu di lepas secara liar. 
Baru dibuka jam 9 pagi

Pagi pukul 9.00 Wita adalah waktu hewan ini mendapat jatah makan. Selain pagi, Beruang Madu ini juga mendapat santapan makan siang pukul 15.00 Wita. Jadi sehari dapat jatah dua kali makan.

Enklosur Beruang Madu bila ditempuh dari arah Balikpapan menuju Samarinda, berada di sebelah  kanan. Di situ tampak pintu gerbang dan patung Beruang Madu dengan tulisan: Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH). Tempat ini sebelumnya dikenal dengan sebutan Agrowisata. Dari bibir jalan utama tak begitu jauh, sekira satu kilometer lebih.

Petugas pemandu di Enklosur
 Bersepeda ke Enklosur ini mengasikkan. Apalagi cuacanya cerah bersahabat. Selain jalannya beraspal, menuju ke tempat ini sepi dari kendaraan bermotor. Kalau pun ada, hanya satu dua saja. Itu pun hanya masyarakat yang bermukim di sekitar. Karena itu disarankan bila ke sana menggunakan road bike saja. Tapi kalau dengan sepeda gunung (mountain bike) juga tak masalah. Dan dijamin pasti sampai ke tempat tujuan.

Di kiri kanan jalan menuju KWPLH ini hijau membentang. Selain pepohonan dan perkebunan warga, ada juga tempat pembibitan tanaman pertanian. Pemandangan bukit, rumah-rumah petani, dan beberapa aktivitas home industry, seperti pembuatan kompos, dll.

Menyebar makanan untuk Beruang Madu
 Belum pukul 9 pagi saya sudah sampai di depan gerbang Enklosur Beruang Madu. Masih sepi, petugas pun belum datang. Putar-putar sebentar di sekitar KWPLH, tengok kiri tengok kanan. Lalu bertanya kepada salah seorang penjaja makanan di sana; jam berapa Enklosur dibuka? Ternyata baru dibuka pukul 9 pagi. Tempat ini beroperasi hingga sore pukul 17.00 Wita.

Tak begitu lama menunggu, satu persatu wanita petugas Enklosur berdatangan. Ada enam orang. Salah satunya bernama Yana. Ia yang banyak memberikan penjelasan tentang komunitas satwa dilindungi ini.

‘’Sudah bisa masuk ke dalam mba?”” tanya saya membuka perbincangan dengan kesan penasaran.
‘’Ow, belum mas, sebentar lagi. Petugasnya masih menyiapkan makanan untuk Beruang Madu,’’ begitu katanya.

Beruang Madu mencari makanan yang sudah disebar di Enklosur
 Rupanya sebelum pagi pukul 9, ada petugas di area Enklosur yang menyebar makanan untuk beruang-beruang ini. Makanan itu ada yang ditaruh di semak-semak, di batang pohon, hingga ke ranting pohon. Nantinya keenam Beruang Madu ini menyantap makanan tersebut. Yang saya perhatikan, makanan yang disebar itu irisan buah semangka dan nenas.
Kenapa ya makanan itu disebar dan tidak dikumpulkan jadi satu saja?

‘’Ow memang dibuat begitu. Ini untuk melatih indera penciuman beruang. Memang dibuat seperti di alam liar, jadi mereka mencari makanan sendiri, meskipun makanan itu sudah disediakan,’’ ujar Yana yang bekerja di tempat ini sudah enam tahun.

Yang perlu diketahui, keenam satwa ini sebelumnya adalah binatang peliharaan warga. Lima dari hasil sitaan antara tahun 2002 hingga 2004, dan seekor lainnya diserahkan warga ke pengelola KWPLH. Jadi bukan ditangkap dari hutan.  Mereka dipelihara ketika masih bayi. Menurut informasi, bayi Beruang Madu ini diperjualbelikan warga, harganya mencapai Rp 10 juta. Empedu beruang disebut-sebut dapat meningkatkan vitalitas. Wadaw?
Yana perlu menjelaskan kepada pengunjung

Sejak dilepasliarkan kembali, keenam binatang ini perlu menyesuaikan lagi dengan komunitas hutan alam sesungguhnya. Dan di Enklosur inilah tempatnya. Yang menarik, keenam beruang ini sudah paham sekali jam makan. Begitu lonceng berbunyi, mereka kembali ke kandang masing-masing. Beberapa saat setelah petugas menyebar makanan, lantas pintu kandang dibuka. Mulai saat itulah keenam beruang ini menyebar mencari makanan yang telah disiapkan tersebut.

Sebagian makanan ini disebar tak jauh di sekitar panggar. Maksudnya agar pengunjung bisa melihat langsung aktivitas Beruang Madu tersebut melahap kudapan-kudapan yang sudah disediakan. Pengunjung dapat melihat dari broadwalk, yaitu jembatan ulin sepanjang 500 meter yang berjarak sekira 1,5 meter dari panggar Enklosur yang diberi kawat listrik. Sengatan listrik pagar ini  hanya berdaya kejut sekira 3 detik, gunanya tentu untuk Beruang Madu agar tak mendekat ke pagar.

Broadwalk sepanjang 500 meter
 ‘’Mohon perhatian para pengunjung. Saat melihat Beruang Madu dari dekat, kami harapkan tidak berisik,’’ kata Yana mengingatkan pengunjung sebelum pintu pagar Enklosur dibuka untuk umum.
Kenapa tak boleh berisik? ‘’Khawatir saja mereka terganggu. Karena karakter Beruang Madu ini pemalu,’’ ujar Yana. Pengunjung pun tak diperbolehkan memberi makanan hewan yang mempunyai nama latin Helarctos malayanus tersebut. Di kawasan ini juga tidak diperbolehkan merokok! Masuk ke Enklosur gratis, alias tak dipungut bayaran. Namun pengelola menyediakan kotak donasi.

Hust...jangan berisik...
 Begitu kandang dibuka, keenam beruang ini masing-masing langsung mencari makannya. Mengendus-endus, naik ke batang-batang pohon ulin yang memang sudah disiapkan, kemudian terus mengembara di hutan berpagar seluas 1,3 hektare tersebut. Sebelum pukul 15.00 Wita lonceng dibunyikan untuk kali kedua. Beruang-beruang ini pun kembali ke kandang, dan memulai menyantap makan yang lagi-lagi sudah disiapkan.
Jatah makan keenam beruang ini sehari bisa mencapai 10 Kg buah-buahan. Jenis buah bermacam-macam, tergantung yang dibeli pihak pengelola. Selain semangka, nenas, ada juga mangga. Pokoknya yang manis-manis. ‘’Pernah juga diberi apel dan durian,’’ kata Yana. Wuih-wuih, Beruang Madu makan apel dan durian  juga ya?

Kotak donasi suka rela
 Beruang Madu ini bila makan durian atau cempedak, langsung dimakan bersama bijinya. Biji tersebut kemudian keluar kembali melalui kotorannya. ‘’Beruang Madu ini memang dikenal juga sebagai binatang penyebar bibit tumbuhan,’’ tukas pemandu Enklosur yang juga warga Karang Joang ini.

Bila diperhatikan, Beruang Madu di Enklosur memang tampak sehat. Bobotnya paling berat 65 Kg, dan usia diperkirakan di atas 13 tahun. Panjang tubuh sekitar 1,4 meter dengan tinggi punggungnya sekitar 70 cm. Beberapa di antaranya cacat fisik, seperti pada mata dan gigi. ‘’Cacat itu diperkirakan terjadi ketika masih jadi hewan peliharaan warwga,’’ jelas Yana.
Hewan ini mempunyai kuku panjang yang runcing, karena itu ia pandai memanjat pohon hingga 20 meter, dan merupakan spesies beruang terkecil yang dikategorikan bukan predator buas yang kerap menyerang hewan lain. Itu dilakukannya bila dalam keadaan terdesak untuk membela diri. 

Buah Ficus juga dimakan Beruang Madu
 Selain menyantap buah-buahan yang telah disediakan di Enklosur, keenam binatang berbulu hitam ini juga mengendus-endus tanah di sekitar untuk mencari madu dari lebah tanah, larva dan telur rayap.  Sebagaimana diketahui, Beruang Madu ini meskipun termasuk ke dalam ordo karnivora, yaitu hewan  pemakan daging namun bersifat omnivore, yakni satwa pemakan segala.

Di Enklosur pun terdapat binatang liar lainnya, seperti tupai dan burung kipasan belang, bubut alang alang, cucak kutilang, cabai bunga api, dan burung madu belukar.

Tempat ini terbangun atas kerjasama berbagai pihak, seperti Chevron, BP Migas, The Nature Conservancy (Dutch Embasi Jakarta), Alertis, Dutch Foundation Zoos Help, American Association of Zoo Keepers, Free the Beers Fund Inc, EpiBear, dan WoodLand Park Zoo.

Patung Beruang Madu bukan ukuran aslinya

Anda yang tinggal di Balikpapan, sekali-sekali rasanya perlu juga melihat langsung komunitas Beruang Madu yang menjadi simbol Kota Minyak. Bagi penggila gowes juga tak ada salahnya berkunjung ke Enklosur. Gowes sambil berwisata. Anda setuju?

Komunitas Beruang Madu yang sesungguhnya diperkirakan masih ada di kawasan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), meskipun populasinya tidak banyak lagi. Menyelamatkan satwa dilindungi dari kepunahan memang tanggungjawab kita bersama. Seperti lirik lagu Beruang Madu yang ditulis oleh kelompok Palm Duo Plus. 

Selain di Enklosur tempat perlindungan sejumlah Beruang Madu juga ada di  kawasan Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kertanegara. Di hutan suaka seluas 58 hektare yang dikelola oleh Yayasan Semboja Lestari bekerja sama dengan Yayasan BOS (The Borneo  Orangutan Survival Foundation) ini ada 52 ekor Beruang Madu titipan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam.
Selain menjadi maskot kota Balikpapan, Beruang Madu menjadi sebutan tim kesebelasan Persiba. Bahkan beberapa usaha di kota minyak ini menggunakan nama Beruang Madu, seperti bengkel otomotif di Jl Ruhuy Rahayu dan salah satu usaha jasa konveksi. (*)