Senin, 22 Juni 2015

Menerjang Jalur Panas

Gowes Tour de Malsin 2015 Etape 2

 Etape 2 Tour de Malsin 2015 tak berlebih bila disebut tantangan terberat bagi goweser Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post. Sebanyak 23 pegiat sepeda gunung ini sedianya harus melewati rute ratusan kilometer dari Putra Jaya menuju Melaka. Meski begitu, Tour de Malsin 2015 kerja bareng Garuda Indonesia ini tetap menoreh kesan.

Di Putra Jaya siap-siap ke Melaka
TUNTAS melahap Etape 1 sepanjang 30-an kilometer dari Kuala Lumpur menuju Putra Jaya, rombongan rehat sejenak di Putra Square, Jumat (5/6). Setelah menikmati matahari pagi pukul 09.15, bubuhan  touring RGC langsung menerjang tantangan rute berikutnya, yaitu jalur on-road yang membentang di negeri jiran tersebut.

Jadwal yang dipatok semula iring-iringan ini akan menempuh rute sepanjang 107 km menuju A Famosa Resort, Melaka, melalui highway. Di tempat wisata itu rombongan dijadwalkan rehat menginap hanya semalam.
Meski letih tetap ceria

“Ternyata kita tidak mendapatkan izin untuk bersepeda melewati jalan tol ke Melaka. Akhirnya kita mengambil plan B melalui jalur alternatif. Namun jaraknya lebih panjang, sekitar 200 kilometer,” ujar Jonatan, leader Tour de Malsin 2015 saat briefing sebelum landas Etape 2.

Mendengar jarak mencapai 200-an km beberapa goweser mengernyitkan kening. Sempat keder juga. Bahkan tiga peserta angkat tangan untuk tak menyertai pada Etape 2. Namun tidak demikian bagi tiga gowesist, yakni Srianti, Sugiarti, dan Evi. Tiga “srikandi” ini tetap ngotot menerobos Etape 2. “Kita gowes semampunya saja. Kalau sudah merasa tak bisa melanjutkan perjalanan, ya dievakuasi,” tandas Jonatan.

Dengan roadbike bisa hemat tenaga
Rute alternatif ini juga menetapkan satu titik peristirahatan, yakni di Port Dickson, kawasan Negeri Sembilan yang merupakan negara bagian Federasi Malaysia. Jaraknya dari Putra Jaya sekira 90 km. Di Etape 2 ini  turut dalam iring-iringan bus wisata, truk boks pengangkut sepeda, dan satu unit ambulans komplet dengan tenaga medisnya.

Konsentrasi kami yang pertama adalah bagaimana bisa mencapai Port Dickson, setelah itu baru memikirkan Etape selanjutnya; dari Negeri Sembilan ke Melaka. Sesungguhnya rute dari Kuala Lumpur-Putra Jaya-Port Dickson-Malaka ini bila dibanding-bandingkan tak seberat medan Balikpapan-Samarinda, atau Balikpapan-Sangasanga, atau Samarinda-Bontang yang banyak lintasan perbukitan.

Tak ada pilihan selain dievakuasi
Jalan dari Kuala Lumpur hingga Melaka lebih banyak flat. Lagian permukaan jalan aspal mulus. Kalau pun banyak tanjakan, elevasinya tak seganas di Tahura Bukit Soeharto itu. Landai-landai saja meskipun tetap mempertaruhkan daya tahan fisik. Yang agak menggoda kami adalah terik matahari yang membakar kulit tanpa henti. “Panasnya bisa sampai 39 derajat,” ujar goweser Bebet yang berbadan tambun.


Penulis saat di pertengahan jalan ke Negeri Sembilan
Pada awal iring-iringan menuju Port Dickson, para sahabat goweser ini ‘’anteng-anteng saja’’. Termasuk tiga gowesist Sugiarti, Srianti, dan Evi. Ketangguhan tiga perempuan pesepeda ini baru teruji pada jarak 50-an kilometer.

Jalan lengang dengan kiri dan kanan pemandangan perkebunan kelapa sawit sepanjang puluhan kilometer itu ternyata tak cukup menghibur kami dari rasa letih. Bahkan dahaga berkepanjangan kian akrab ketika sinar matahari siang seakan persis di atas ubun-ubun. Syukurnya sebagian besar pegiat MTB ini mengenakan penutup kepala yang sudah dipersiapkan oleh Supriyanto dari Graffiti Collection. Kain pelindung itu sangat membantu.

Rehat sejenak menunggu suplai air
Karena iring-iringan sempat terpisah menjadi beberapa kelompok kecil, rombongan touring ini sempat beberapa kali berhenti untuk regroup. Kemudian genjot lagi semampunya. Syukurnya, tim sweeper roda empat sekali menghampiri kami untuk menyuplai minuman penambah energi. Sedikit lega.
Bekal air kami memang relatif tak cukup, sehingga sempat berhenti di pertengahan jalan untuk membeli minuman. Bahkan sempat mencicipi pisang dan tape singkong di salah satu kedai pinggir jalan. Lumayan untuk pemanis lidah. Tapi…perjalanan masih jauh.

Tetap hati-hati di jalan raya Kuala Lumpur
Karena pemandangan monoton kami pun diserang rasa jenuh. Apalagi terik siang itu benar-benar menguji mental. Para goweser yang menggunakan roadbike secara fisik sedikit terbantu. Sementara bagi yang menggunakan sepeda gunung tak ada pilihan terbaik. Tetap harus berjuang sebatas kemampuan yang ada. Memang, mobil ambulans dan bus wisata selalu mengekor jauh di belakang.

Dua rekan kami yang sempat terpisah rombongan, Prihandoyo dan Bandono sempat dicegat petugas lalu lintas, lalu mendapat arahan. “Hati-hati banyak lori,” ujar petugas. “Apa itu lori?” tanya Bandono bingung. Ternyata lori adalah truk berbadan besar. Oalah..

EVAKUASI
Jonathan angkat tangan memberikan arahan

Ketahanan fisik peserta Tour de Malsin memang dipertaruhkan. Satu per satu para sahabat goweser ini pun terpaksa “menyerah” dan harus dievakuasi. Ada yang tak berhasrat melanjutkan, ada yang diserang kram kaki, lalu ada yang bingung terhenti di persimpangan jalan kehilangan jejak pemandu arah, serta ada yang bocor ban. Akhirnya hanya lima goweser menyempurnakan perjalanan dari Kuala Lumpur-Putra Jaya-Negeri Sembilan, yakni Trias, Ronny, Jack, Anshari dan Supriadi.

Mensiasati letih berteduh di bahan pohon
Setiba di kawasan perniagaan di Port Jackson pukul tiga lebih, kami langsung menyantap menu ayam goreng KFC sembari rehat sejenak. Perjalanan masih jauh, sekira 90 km menuju A Famosa Resort, Melaka. Karena sebagian besar tenaga goweser terkuras, akhirnya Etape 2 ini disepakati harus disudahi  hingga Port Dickson saja. Dari sini kami menggunakan bus menuju A Famosa Resort.

Setibanya di resort terpadu seluas 520 hektare itu hari jelang petang. Kami disambut pemandangan danau dan padang golf nan luas, dan sejumlah tower-tower apartemen. Sesaat berlalu kami pun langsung rehat di kamar ber-AC dengan fasilitas TV layar datar. Sekadar membersihkan badan dan bertukar pakaian, lalu sempatkan berbaring sejenak.

Santap malam di A Famosa Resort
Dua jam kemudian rombongan menyantap lahap makan malam di Huang Did Chinese Restaurant di club house dengan menu oriental menggugah selera. Meski perut kenyang, letih kami malam itu serasa belum sirna. (*)

Minggu, 14 Juni 2015

Peluh di Putra Jaya

Gowes Tour de Malsin 2015 Etape 1 


Goweser menyelesaikan  Etape 1 di Putra Jaya.
Banyak pengalaman bisa dipetik para pegiat sepeda dari Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post ketika menjajal Tour de Malsin 2015 kerjasama dengan Garuda Indonesia. Perjalanan gowes lintas dua negara dari Kuala Lumpur ke Singapura selama empat hari (14-17 Mei) itu meski terasa berat, namun tetap saja sarat ceria.

MENGINGAT Tour de Malsin 2015 dominasi  rute yang ditempuh adalah on the road, maka bubuhan RGC yang ambil bagian di even tersebut dua pekan sebelumnya sudah mempersiapkan diri. Seperti latihan endurance dengan mencopot ban yang biasa digunakan untuk jalur off road diganti menjadi ban khusus on road alias beraspal.

 Di Bandara Sepinggan sebelum bertolak ke Malaysia.
Maklum, RGC sejauh ini lebih akrab dengan trek alam bebas. Cross training saban Minggu pagi itu selalu mengambil titik awal parkiran ACE Hardware Jl Sudirman Balikpapan, lalu gowes on road menuju Jl Mulawarman, Gunung Tembak. Pulang pergi sekira 50an Km.
Sebagian besar peserta tur kali ini memang menggunakan sepeda mountain bike (MTB) dengan lebar ban 1.25 hingga 1.50 inch.

Di pesawat Garuda menuju Jakarta.
Sedangkan rim atau velg mayoritas ukuran 26 inch. Selebihnya dengan rim berdiameter 27,5 inch dan 700 mm untuk roadbike. Ada tiga goweser menunggang roadbike sesuai peruntukannya pada Tour de Malsin. Rute yang dipatok untuk tur ini adalah; Kuala Lumpur-Malaka-Johor Bahru-Singapura.

Kamis, 14 Mei 2015 pukul 09.00 Wita rombongan tur sudah berkumpul di Bandara Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan. Jumlah peserta ada 23 goweser. Mereka membawa sepeda kesayangan masing-masing. Menumpang pesawat air bus Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA565, take off pukul 10.25 Wita menuju Jakarta.

Ambil bagasi  di bandara Kuala Lumpur.
Kemudian melanjutkan penerbangan ke Kuala Lumpur pukul 13.50 WIB dengan pesawat Boeing 737-800 nomor penerbangan GA816.

Sore sekira pukul 17.35 rombongan masih sibuk dengan urusan keimigrasian di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Selepas petang bus Rakyat Travel yang kami tumpangi meluncur mulus ke Restoran Minmax, Darby Park, Jalan Binjai. Lokasinya tak jauh dari menara kembar Petronas yang menjadi ikon Malaysia. Perut yang sudah keroncongan disambut hangat sup asparagus, berselang kemudian santapan menu oriental tersaji di atas roundtable. Suguhan makan malam yang nikmat dan  mengundang selera sungguh pas di lidah para goweser.

Makan malam di Minmax Kuala Lumpur
Sebelum menuju hotel, kami sempat menyapa twin tower Petronas dengan kamera. Lalu, hanya butuh beberapa menit rombongan tur sudah tiba di lobby Hotel Ibis Styles di Jalan Metro Pudu 2, Fraser Business Park. Hotel bintang tiga memiliki 500 kamar ini hanya 10 menit dari pusat kota. Jaraknya 79 Km dari bandara Kuala Lumpur. Setelah loading barang dan mendapat kunci kamar, kami langsung sibuk “atraksi” merakit sepeda masing-masing di teras hotel. Para goweser ini sangat terampil. Tak butuh waktu lama sepeda sudah siap pakai. “Setelah pulang dari Malaysia, kayaknya semua bisa buka bengkel sepeda di Balikpapan,” canda Supriyanto, goweser yang juga owner Grafity Collection Balikpapan.
Dekat menara Petronas sebelum ke hotel.

Jumat pagi (15/5) pukul 05.00 waktu setempat morning call berkali berdering, menghentak istirahat kami. Persis satu jam kemudian para sahabat goweser sudah menyantap sarapan pagi bergizi di restoran Ibis. Kami pun sudah siap dengan perlengkapan bersepeda, serta mengenakan jersey cantik garapan Luwai Garment berdasar kuning. Ada dua jersey kami kenakan selama tur dengan warna berbeda.

Merakit sepeda masing-masing
Di bagian depan dan belakang jersey ada tulisan besar Accor Hotels.Com, serta logo Garuda Indonesia, Kaltim Post dan Luwai Garment di dada depan. Sedangkan di lengan kanan gambar bendera Merah Putih, dan kiri logo Pemkot Balikpapan.

Lalu di punggung belakang ada kalimat ‘’We Love Balikpapan’’. Tulisan ini bermaksud untuk mempromosikan Balikpapan sebagai kota paling dicintai di dunia versi WWF. Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi dan General Manager Garuda Indonesia Area Balikpapan Joseph A Saul pun bersepeda menyambut ketibaan rombongan Tour de Malsin 2015 ini di Singapura.


Siap-siap gowes dari Hotel Ibis Styles Kuala Lumpur 
PUTRA JAYA
Satu unit lead car, dua marshall sudah stand by di parkiran hotel untuk memandu rombongan menjajaki Etape 1, yaitu menuju Putra Jaya yang kesohor sebagai pusat administrasi Malaysia. Jarak tempuh hanya sekira 30an Km dari Kuala Lumpur. Coach captain Yahya dan sweeper Hadi Hussien pun siap meluncur dengan motor besarnya.

Pagi itu langit cerah. Sinar matahari masih malu-malu. Para goweser sudah tak sabar melesatkan sepeda. Setelah berdoa, iring-iringan turing pun berselancar di jalan beraspal menuju Putra Jaya dengan kecepatan rata-rata 20 Km per jam. Meski sempat terpisah dua kelompok lantaran irama memancal yang berbeda, rombongan kembali re-group di sejumlah titik. Leader RGC Prihandoyo beberapa kali mengingatkan agar rombongan tak terpisah dengan menakar kecepatan bersepeda.

Pagi cerah mendukung semangat goweser
Kepadatan arus lalu lintas di Kuala Lumpur membuat goweser yang tergabung di Rabu Gowes Community ini jadi sedikit kagok. Apalagi kendaraan berbadan besar berseliweran dengan kecepatan tinggi. Pesepeda butuh konsentrasi dan ekstra hati-hati, seperti itu pula yang diingatkan oleh pemandu jalan.

Memang tak ada pilihan rute lain yang lebih aman untuk menuju Putra Jaya, kecuali tetap meniti jalan besar itu. Pun tak ada jalur khusus untuk pesepeda, padahal arus lalu lintas di sana satu jalur. Karenanya, kami sedikit kurang bebas melantas di jalan padat kendaraan ini.
Penutup wajah untuk menghindari debu 

Tujuan akhir Etape 1 ini adalah Putra Square yang terkenal itu. Taman dengan bangunan masjid megah ini menjadi simbol kebanggaan aspirasi Malaysia menjadi negara maju. Semua goweser berhasil menyelesaikan Etape 1 dengan gembira, meskipun peluh mulai membasahi badan.

Wajarlah, sebab pagi itu kami sudah bermandi sinar surya yang mulai menembus jersey jelang iring-iringan tiba di taman indah tersebut.
Rehat sejenak sembari menenggak bekal minum, para goweser kompak berfoto bareng. Ada juga yang jepret sana jepret sini sembari  ber-selfi-ria dengan kamera smarphone masing-masing.

Meski perempuan tak mau kalah 
Sebelum melanjutkan Etape 2, gowesist Sugiarti mendapat masalah. Ban sepedanya bocor! Sudah dioprek-oprek untuk diganti tapi tak berhasil. Ternyata pentil ban cadangan berbeda dengan ujung pompa. Ya sudahlah. Jalan keluarnya adalah ganti sepeda. Beres. (*)


Rabu, 15 April 2015

Sesat di Bukit Komendur

Aston Balikpapan Hotel & Residence di Jalan Sudirman, Pasar Baru, Balikpapan, memang memiliki venue dengan keunggulan view pantai. Pelataran apartemen di kawasan Grand Sudirman ini sungguh asik dijadikan tempat berkumpul bagi komunitas. Puluhan anggota Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post pun bersepeda bareng di sana, Rabu (25/2).

RGC sebelum gowes di pelataran Aston Balikpapan

INI sudah kali kesekian Aston Balikpapan menjadi host RGC. Karena letaknya di jantung kota, sangat memudahkan bagi anggota RGC untuk menuju muster point. Para pegiat mountain bike ini pun lebih banyak yang memilih bersepeda dari rumah masing-masing untuk menuju Aston.

Rute yang ditempuh sore itu onroad Jalan Jenderal Sudirman ke arah Pelabuhan Semayang. Dari Aston hanya sekira 4,5 Km. Kemudian mendaki tanjakan mercusuar di Tukong Hill atau Gunung Komendur. Menggowes sampai ke bukit lumayan memeras keringat, namun saat berada di ketinggian ini terhibur pemandangan laut Teluk Balikpapan yang indah dan terkesan damai. Karenanya, pantas pula bila Balikpapan berhasil mengalahkan Paris sebagai Kota Paling Dicintai di Dunia versi WWF (World Wildlife Fund).


Terhenti di situs makam di Tukong Hill.
Bubuhan RGC lalu merangsak ke jalan setapak yang rindang pepohonan menuju situs makam Adji Kemala Gelar Adji Pangeran Kerta Intan bin Sultan Adji Mohamad Sulaiman. Cagar budaya ini merupakan makam putra Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-19 Adji Mohammad Sulaiman yang memerintah tahun 1850 hingga 1899.

Buntu, maka kembali putar arah
Ada imbauan di makam yang diselemuti kain kuning ini tak boleh mengenakan pakaian kuning dan merah. Syukurnya tak ada anggota RGC menggunakan jersey dengan warna yang dimaksud. Sampai di makam ini, iring-iringan terhenti beberapa saat. Pasalnya tak ada jalan tembus. ‘’Wah, kita tersesat nih,” celetuk seorang anggota rombongan.

Tak ada akses jalan, kecuali trek turunan ekstrem di kawasan hutan kota itu yang lama tak dilewati. Ada beberapa rintangan seperti batang pohon yang melintang. “Kami pernah lewat jalan ini, dulu masih bagus. Sekarang sudah sulit dilewati,” ujar Untung, goweser yang memandu rombongan untuk mencicipi trek terjal tersebut.

Turunan sepeda pun harus dituntun
Hanya beberapa pesepeda menerjang single track dengan kemiringan tajam itu, namun sebagian besar mengurungkan niat untuk ikut menerobos. Pilihannya adalah kembali arah kemudian melintas di pemukiman warga di Kampung Pelayaran.

Tujuan  rombongan selanjutnya adalah mendaki ke kompleks perumahan Pertamina di Gunung Dubbs, kemudian melintas ke Prapatan dan Jalan Tanjungpura, Jalan Pierre Tendean, lantas menyusuri Jalan A Yani (Gunung Sari) dan berakhir di arena kolam renang Aston. Sampai di finish petang. Ada jamuan menggugah selera dari manajemen hotel bintang empat yang memiliki keunggulan view laut tersebut. Rombongan rehat sembari bercengkerama ditemani sepoi angin pantai dan pemandangan langit senja.


Hanee newbie RGC ikut tuntunbike
NEWBIE
Di sela-sela rehat, leader Yoyok Prihandoyo mengatakan rute gowes mingguan RGC ini sebenarnya dibagi menjadi dua.  Ada rute panjang untuk anggota lama, dan ada jalur pendek untuk pendatang baru (newbie). Durasi gowes kurang lebih 90 menit, dengan jarak tempuh rata-rata mencapai 20 Km. Trek yang dilintasi kombinasi onroad dan offroad.

Jadi, katanya, bagi penghobi sepeda yang ingin bergabung namun alergi dengan jalan berbukit, gak masalah. Disarankan untuk memilih rute newbie.

Hati-hati saat turunan menukik
Ia mengakui, rute yang ditempuh RGC setiap gowes bareng Rabu memang tak pernah lepas dari santapan tanjakan, dan trek ekstrem. “Tapi tidak semua tanjakan harus dilewati goweser. Yang belum mampu, tak perlu malu untuk menuntun sepeda ke atas. Begitu juga pada saat trek menurun yang curam, kalau belum berani ya jangan dilewati. Sepeda digiring saja,” sarannya.

Dikatakan, setiap gelaran RGC selalu ada tim sweeper yang mengawal iring-iringan gowes.  Bila sepeda anggota ada yang bermasalah akan diatasi bersama. “Mereka yang tertinggal di belakang pun selalu ditunggu oleh sweeper,” ujar Yoyok.

Rehat di anjungan Aston ditemani sepoi angin
Ia juga berharap agar anggota RGC terus mendukung tertib berlalu lintas. “Selama perjalanan rombongan tidak dibenarkan memacu cepat sepedanya, khususnya bila berada di perkampungan warga.’’

Tempat berkumpul atau muster point RGC ini saban minggunya berganti-ganti. “Tergantung kesepakatan dan undangan dari anggota rombongan. Biasanya pemberitahuan lewat Kaltim Post, SMS atau broadcast di smartphone dan sosial media,” katanya.

Yoyok mengatakan, selain gowes bersama pada Rabu sore pukul 17.00 Wita, RGC juga kerap menggelar ekstra gowes pada hari Minggu atau hari libur nasional. “Ekstra gowes biasanya mengambil rute panjang keluar kota,” ujarnya.

Keanggotaan RGC terbuka umum dan segala usia. “Siapa saja yang punya hobby bersepeda bisa bergabung,” kata Yoyok. Anggota RGC kini berjumlah seratus lebih, terdiri dari berbagai kalangan, seperti pengusaha, eksekutif muda, pejabat, pekerja profesional, anggota TNI dan Polri, kalangan akademisi, artis, mahasiswa, pelajar, hingga atlet sepeda. Mereka juga terhimpun dari beberapa komunitas MTB, seperti Blue Bike Community (BBC), A-Team, Mudhog, Bike Bike Saja (BBS), Kawan Bike Shop (KGS), Aquatic 128, Hobic, Astra Gowes Community (AGC), Bank Permata, Le Grandeur, Blue Sky Hotel, Grand Jatra, Aston Balikpapan, Prudential, dan IBM. (yas)

Kamis, 26 Februari 2015

Uji Nyali di Trek Terjal

Selain melatih syahwat andrenalin dan mengasah keterampilan memegang kendali menaklukkan trek menurun, pesepeda downhill (DH) juga memerlukan kelenturan tubuh. Mereka merenda kesenangan pada trek terjal dengan rintangan menantang..
Dropoff dengan receiver hingga 7 meter

BILA anda seorang goweser, trek menantang mana yang akan dipilih: tanjakan atau turunan? Keduanya sama-sama membutuhkan skill. Namun, lintasan turunan akan menjadi pilihan pasti bagi downhillers. Mereka anti tanjakan dan akrab dengan trek-trek curam. Sepeda di-loading ke atas bukit tinggi, kemudian berselancar bebas dengan kecepatan tertentu. Rem dipergunakan pada saat diperlukan saja.


Latihan dengan panjang trek terbatas
Meluncur dengan cepat bukan berarti mulus begitu saja. Tapi ada rintangan ekstrem drop off tinggi yang harus dilompati, tikungan berm dengan kemiringan tertentu, dan obstacle yang harus diterabas. Keterampilan mengendalikan sepeda memang sangat dibutuhkan. Selebihnya bernyali.

“Bukan sekadar meluncur di turunan, tapi dengan teknik kendali dan pedaling yang baik. Sepeda dipancal pada kecepatan terkontrol, dengan emosi yang terjaga. Kelenturan tubuh dan endurance juga sangat diperlukan,” ujar Ketua Balikpapan Freeride (BFR) Pandji Arga.


Loading dengan tuntun sepeda
Bermain DH, katanya, juga mesti didukung dengan sepeda yang mumpuni. Setidaknya kepakeman rem. Salah menggunakan rem depan pun bisa over the bar (OTB) alias jumpalitan. Selebihnya harus didukung dengan keamanan diri yang baik, seperti helm full face, kacamata goggles, sarung tangan (full finger gloves), pelindung kaki, serta body protector.

BFR saban Minggu berlatih di lintasan mini downhill, kawasan Bendungan Pengendali (Bendali) 3, Jalan MT Haryono Dalam. Pada trek alam di lahan milik masyarakat ini BFR sekadar pinjam pakai. “Kebetulan bukit yang ada di situ sudah layak untuk dijadikan trek downhill. 

Sebagian elevasi kami tata agar sesuai standar kompetisi. Itu pun dengan anggaran swadaya para anggota,” katanya. Ia menyebut, rintangan latihan yang ada di trek Bendali 3 salah satunya drop off setinggi 2 meter dengan receiver sepanjang 7 meter. Ini cukup untuk memenuhi standar kompetisi tingkat nasional.


Ingin berprestasi fasilitas terbatas
Sayangnya, lanjut Pandji, panjang lintasan yang ada belum memenuhi syarat. Hanya sekitar 600 meter. Loading ke atas bukit juga dilakukan dengan manual alias tuntunbike. “Kami butuh panjang trek satu hingga dua kilometer untuk latihan,” pungkasnya.

BFR sedang menjajaki untuk membuat trek DH di lahan milik Pemkot, seperti di kawasan hutan kota. “Kami ingin meminjam lahan, tapi tidak akan merusak vegetasi hutan. Seperti menebang pohon. Lintasan sepeda akan didesain menyesuaikan dengan kontur yang ada. Ini justru lebih menarik dan alami,” katanya. Ia berharap dengan ketersediaan lintasan DH yang standar kelak akan melahirkan atlet-atlet freeride dari daerah.


Meskipun minimalis BFR tetap eksis berlatih
BFR memang satu-satunya komunitas pesepeda DH di Kota Minyak sejak 2006. Sebelumnya bernama Borneo Freeride. Anggotanya hanya 20-an orang. Ada pelajar, mahasiswa, pelaku bisnis hingga profesional muda.  “Jumlah anggota kami terus bertambah. Semula hanya beberapa orang, kini sudah mencapai 20-an pesepeda,” ujar Pandji.

Menurutnya, peminat freeride di Balikpapan sebenarnya cukup banyak. Hanya saja mereka lebih sekadar hobi, bukan untuk prestasi. “Di BFR kami melakukan pembinaan untuk para junior. Selain berlatih bersama juga acap kali kami memberikan coaching. Terutama bagi pemula,” ujar Pandji.


Penulis mencoba trek Bendali
Beberapa rider di BFR pun sering tampil di sejumlah ekshibisi dan perlombaan downhill, baik yang diselenggarakan di Kalimantan maupun di Pulau Jawa. “Beberapa kejuaraan telah kami ikuti. Ini untuk menambah pengalaman kawan-kawan BFR,” tukasnya.

Menurut Pandji, perhatian pemerintah atas cabor sepeda yang satu ini cukup baik. “Pengurus ISSI Balikpapan juga memfasilitasi kami untuk perlengkapan berlatih dan pertandingan, seperti satu unit sepeda downhill,” katanya.

Meskipun komunitas freeride di Balikpapan terbilang masih kecil, namun Pandji berharap BFR bisa menjadi wadah pembinaan prestasi. “Niatan kami ke depannya seperti itu. Agar kelak ketika ada kejuaraan tingkat lokal maupun nasional, tak mesti meminjam atlet downhill dari luar. Akan kita buktikan bahwa putra daerah juga mampu tampil,” ujarnya.

Pandji Arga ketua BFR
Banyak yang mengakui bermain sepeda DH memang membutuhkan nyali lebih. Terutama saat akan melintasi turunan curam yang mendebarkan bagi pemula. Namun menurut Risa Suseanty, si ratu downhill Indonesia, dengan latihan yang benar dan proteksi yang maksimal, maka akan memupuskan keraguan itu. “Turunan terjal itu bukanlah hal yang menakutkan,” kata brand ambassador Thrill Agent ini. (*)


Sebagian trek di Bendali masih hijau

Selasa, 24 Februari 2015

Libas Bukit Pasir Tanjung Harapan

Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post Balikpapan kembali meniti trek panjang. Kali ini touring ke pantai wisata Tanah Merah, Kelurahan Tanjong Harapan, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Kumpulan komunitas pegiat sepeda gunung ini menaklukkan tantangan dengan menempuh sekira 100an Km.

Udara segar di sekitar Tanjong Harapan. 
MINGGU (15/2) pagi pukul 07.00 Wita bubuhan RGC sudah berkumpul di parkiran Ace Hardware, pusat perkakas serba ada di Jalan Jenderal Sudirman. Ada 15 goweser siap-siap menjelajah ke arah timur Balikpapan. Tujuannya adalah pantai wisata Tanah Merah di Kelurahan Tanjong Harapan, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Jalur offroad  butuh endurance prima.

Dari belasan penunggang mountainbike (MTB) itu, ternyata hanya 10 goweser yang menyelesaikan touring Balikpapan-Samboja pergi pulang. Selebihnya memutuskan kembali saat pertengahan jalan lantaran terbentur waktu terkait urusan pribadi.
Trek becek perlu teknik

Pagi yang cerah mendukung perjalanan pegiat MTB ini. Mereka menelusuri puluhan kilometer trek beraspal  di Jalan Sudirman-Jalan Marsma Iswahyudi-Jalan Mulawarman, hingga menapaki enam kilometer jalan cor-coran di kawasan perkampungan warga  pantai Ambalat (Amborawang Darat). Obyek wisata ini merupakan perbatasan antara Balikpapan dan Kutai Kartanegara (Kukar).
Licin mesti hati-hati
Dari Ambalat inilah iring-iringan goweser menjelajahi trek offroad. Mereka menyisir jalan double track di sekitar bukit-bukit kecil berpasir putih yang membelah di antara bentang hutan savana. Tampak pula pemandangan bongkahan-bongkahan tanah dengan lubang besar sisa galian penambangan pasir.

Perjalanan lintas alam mengasikkan ini menyemangati rombongan kecil tersebut untuk segera sampai di pantai Tanah Merah, Tanjong Harapan. Tak ada tantangan berat, kecuali trek berpasir yang agak sulit digowes. Sebagian pesepeda tuntunbike, selebihnya memaksa melibas trek pasir basah sisa hujan. Memancal di medan seperti ini tentu memerlukan energi lebih, pasalnya kedua roda sepeda sedikit terbenam air. 
Melintasi single track di lereng pasir 
Selain tenaga dan keseimbangan prima, penggowes juga butuh kesabaran ekstra.
Di kawasan ini sebelumnya banyak masyarakat menambang pasir kuarsa atau pasir silika yang diperuntukkan material pembangunan, atau keperluan sandblasting untuk pembersihan kerak karat.
Melewati jalur berpasir ini ternyata berisiko juga. Butiran pasir basah itu merekat di rantai, crank, dan sprocket. Kayuhan sepeda akhirnya diiringi suara gerisik yang tak nyaman, dan hal ini ditengarai bisa membuat rantai cepat haus.
Mendaki hutan dan padang savana  .
Setiba di pantai Tanah Merah, pegiat sepeda ini langsung membersihkan sepeda masing-masing. Saat rehat rombongan RGC juga sempat berjumpa dengan tim MTB dari Senipah, dan makan siang bareng di salah satu kedai di pantai wisata tersebut. Ditemani sepoi angin pantai, mereka menyantap Bakso dan Soto Banjar. Lumayan untuk menambah tenaga.


Antri lewati jembatan ulin
Untuk menghindari risiko kerusakan sepeda lantaran medan berpasir tadi, akhirnya rombongan kecil ini memutuskan kembali ke Balikpapan melalui jalur onroad alias beraspal.

Menempuh puluhan kilometer dari Samboja dengan  menaklukkan beberapa tanjakan, bubuhan RGC yang sempat diterpa dehidrasi ini baru tiba di Balikpapan ketika matahari sudah meninggi. 


RGC dan kawan-kawan MTB dari Senipah 
Mereka pun langsung menghadiri undangan santap siang di Kawan Bike Shop (KBS) Sepinggan yang kebetulan sedang ada hajatan. Sekaligus ‘’opname’’ empat sepeda yang perlu dioprek-oprek lantasan trouble. Di KBS ada hidangan makan berat dan pemupus dahaga. Lega juga. (*)


Penulis di gerbang Tanjong Harapan

Jumat, 20 Februari 2015

Melumat Bukit Karet Penajam

 Setelah menggasak trek hijau menantang di kawasan Balikpapan Timur akhir Desember dan awal Januari lalu, bubuhan Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post kembali menggeber jalur offroad di perkebunan karet dan kelapa sawit. Rute seksi kali ini berada di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

Setelah sarapan siap-siap gowes bareng
BERSEPEDA bareng dipatok Minggu, 25 Januari lalu. Para sahabat goweser ini memancal sepeda dari kediaman masing-masing untuk berkumpul di pelabuhan Kelotok Kampung Baru, pagi pukul 06.30 Wita. 

Ada 25 pesepeda. Kami hanya menggunakan carteran satu kapal kayu untuk limabelas menit menyeberangi Teluk Balikpapan, tujuan pelabuhan Penajam.


Berdoa bersama sebelum menantang offroad
Gowes sekira 4 Km dari pelabuhan, kami berjumpa kawan-kawan pegiat MTB Penajam yang sebagian tergabung di Penbic (Penajam Bike Community). 

Kami dijamu sarapan kue tradisional dan teh hangat. Setelah berdoa bersama, rombongan dikoordinir leader RGC Yoyok Prihandoyo berjumlah 35 goweser ini pun mulai beriringan memancal sepeda menuju jalur offroad. Rekan Penbic-lah yang memandu rute.

Memasuki kawasan kebun karet
Lintasan double track yang kami jajaki adalah kawasan perkebunan karet. Suasananya mirip perkebunan  di Kabupaten Tabalong, Kalsel, ketika kami meramaikan event cross country HUT ke-47 Tabalong November lalu. Hanya saja, pelintasan sekitar perkebunan milik perusahaan swasta yang kami lalui jauh lebih tertata. Lebih mulus. Obstacle pun tak sebanyak ketika di Tabalong.

Turun naik bukit juga mewarnai touring kami kali ini.  Beberapa tanjakan menantang dilumat penggila sepeda gunung tersebut dengan sempurna. Rombongan sempat beberapa kali rehat sembari menunggu sejumlah pesepeda yang membuntut di belakang iring-iringan.

Lewati jembatan Penajam menuju pelabuhan
Tak banyak tantangan ekstrem. Hanya rintangan kecil seperti sungai dan downhill curam yang membutuhkan teknikal, lantaran permukaan tanah licin habis hujan. 

Ada juga trek menurun yang tak rata, karena obstabcle alam yang terbentuk dari sisa gerusan air. Selebihnya jalur single track padang ilalang dan perkebunan kelapa sawit.

Bersyukurlah tanah sepanjang jalur yang kami lalui basah memadat. Kalau tidak, pegiat MTB ini bakal dihadang trek pasir kering yang agak sulit digowes. Namun secara keseluruhan lintasan di perkebunan ini sungguh mengasikkan. “Bisa dijadikan trek untuk event cross country,” ujar Doddy Christian yang aktif memandu rombongan paling depan.
Rehat sembari menunggu yang lain

Bagi dua kawan kami di RGC, Sugianto Untung dan Anshari kawasan tersebut sungguh tak asing. Pasalnya, kedua warga Balikpapan ini sehari-harinya bekerja di PPU. “Sebagian jalan sudah pernah kami lewati,” ujar Untung yang diamini Anshari.

Jalur offroad yang lumayan menguras energi ini sempat membuat beberapa newbie di RGC keteteran. “Rasanya saya sudah gak kuat lagi,” ujar Ridwan, junior RGC yang nyaris pingsan dan diserang kram kaki saat menjelajah puluhan kilometer di perkebunan hijau tersebut.

Rintangan sungai kecil
Perjalanan rombongan RGC dan Penbic ini sempat tersendat beberapa waktu lantaran salah satu goweser mengalami trouble. “Anting RD sepeda Pak Umar patah,” ujar Herson Acun mengabarkan. Setelah dioprek-oprek goweser gaek Sanuri menjadi single gear, akhirnya sepeda pun kembali berfungsi.

“Ya beginilah rasanya pakai single gear, genjot sepeda gak bisa cepat,” ujar Umar yang juga manager IT Kaltim Post Balikpapan. Untuk mempercepat iring-iringan, Sanuri melakukan aksi tandem, alias mem-push sepeda Umar dari belakang.
Dari Tanjung Jumlai menuju Nipah Nipah

Tujuan utama rombongan ini adalah pantai wisata Tanjung Jumlai. Setelah rehat makan siang dan bercengkerama, tim gowes yang sempat dihalau hujan ini kembali memacu sepeda masing-masing tujuan pelabuhan Penajam. Rute yang ditempuh melulu onroad, alias jalur beraspal.

Kami berpisah dengan kawan-kawan goweser PPU di Km 4, dan selanjutnya dijamu oleh keluarga Jaejae, anggota RGC, di Km 1 untuk menyantap buah durian, rambutan, dan jagung rebus. Sambutan hangat yang bersahaja.

Menyebrang ke Balikpapan dengan klotok
Kami kembali menyeberang dengan kapal kelotok ke pelabuhan Kampung Baru ketika hari menjelang sore. Setiba di Balikpapan masing-masing goweser langsung mengayuh sepeda masing-masing. Total perjalanan gowes persahabatan kali ini plus minus 100 Km. (yas@kaltimpost.net)