Selasa, 19 Januari 2016

Melumat Trek Petung

Perpaduan lintasan perbukitan dan single track pada perkebunan kelapa sawit dan karet menjadi suasana yang kental pada gowes bareng (gobar) garapan PMBC (PPU Mountain Bike Community). Sejumlah klub sepeda ambil bagian melumat trek menantang yang membentang di Petung.


Bersiap start di lapangan Petung
GOBAR kali ini mengambil lokasi di Kelurahan Petung, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Bukan saja diikuti pesepeda tuan rumah, tapi juga goweser tamu asal Balikpapan. Ratusan peserta dari sejumlah klub mountain bike ambil bagian, seperti Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post, Mudhog, A-Team, KGB, Jetusi, KTO, Anugerah, Oilcity Sapidaan dan Pertamina Goweser Community. Sementara goweser Benuo Taka ada Penbic, Blubis, Gowar, LBC dan Gotaser dari Tanah Grogot.

Mengawali jalur onroad
Untuk menuju Petung, kami pesepeda dari Balikpapan harus menyeberangi Teluk Balikpapan. Ada yang menggunakan jasa perahu kelotok dari Demaga Kampung Baru, dan ada pula yang menggunakan penyeberangan feri dari Dermaga Kariangau.

Pagi pukul 05.00 Wita bubuhan pegiat MTB Kota Minyak ini sudah bergerak. ‘’Subuh kami sudah gowes dari rumah menuju pelabuhan Kampung Baru,’’ ujar Bandono dari RGC.
Sembari menunggu kedatangan sahabat goweser lainnya, kami menyeruput kopi hangat di kedai dermaga. Belum banyak aktivitas di pelabuhan rakyat itu. Hanya cahaya sunrise di garis laut menemani. Sekian menit kemudian mesin kelotok pun berbunyi, lantas kami menyeberang ke Penajam dengan transportasi tradisional yang memang kami charter Rp 200 ribu untuk satu kali trip.  


Blusukan masuk perkampungan
Setiba di Dermaga Penajam surya mulai terangi pagi. Tanpa tergesa-gesa kami langsung bersemangat memancal sepeda masing-masing menuju muster point lapangan Petung. Jaraknya sekira 18 Km.

Minggu pagi itu cuaca cerah. Meskipun sehari sebelumnya wilayah selatan Kaltim ini diguyur hujan merata. Ratusan peserta sudah berkumpul di lapangan Petung untuk persiapan gowes bareng. Panitia PMBC menyediakan sarapan pagi menu jajanan pasar. Ada pelengkap kopi dan teh panas. Lumayan untuk menghangatkan perut.


Menantang angin di padang ilalang
Rute yang ditempuh pagi itu diawali trek beraspal sekira 3 kilometer. Setelahnya lebih banyak lintasan offroad. Meskipun menyita enerji gobar kali ini cukup menyenangkan. Beberapa trek menantang mesti ditakkukkan para goweser tanpa ragu. Bukit-bukit kecil yang menukik, dan jalur single track yang membutuhkan skill menjadi tantangan tersendiri. Mereka berselancar lincah di sejumlah jalur kelokan di antara pepohonan kelapa sawit. Tapi ada saja goweser yang terperosok.

Syukurnya matahari pagi tak begitu menyengat. Rimbun perkebunan karet setidaknya juga menjadi penghibur goweser. Melantas trek tunggal di tengah sebentang sabana yang dipadati ilalang juga mengundang ceria. Beberapa peserta memanfaatkan rehat di kawasan ini. Selebihnya pemandangan hijau nan luas di perkebunan kelapa sawit yang lumayan menyejukkan mata, serta ladang milik penduduk dan bentangan huma.


Semangat saling kejar
Trek lintas alam di Petung memang tak melulu landai, ada pula beberapa tanjakan menantang yang memaksa keringat mengucur deras. Pada bukit-bukit tak bersahabat ini memaksa goweser menyerah untuk tuntunbike.
Lintasan lainnya yang cukup menantang ketika melewati anak sungai. Ada sebagian pegiat sepeda yang berhasil melintasi, namun lebih banyak yang memikul sepeda. Malah sejumlah peserta memanfaatkan air bening yang mengalir itu bersenang-senang mandi dan mencuci sepeda. “Airnya segar banget,” tukas Desta yang nyemplung mandi di sungai tak dalam itu.

Tantangan etape terakhir yang lumayan membutuhkan kesabaran ketika harus melewati double track bebatuan sekira dua kilometer. Di sini butuh ketahanan fisik prima, terutama saat fokus pengendalian handle bar. Padahal sebagian besar enerji goweser sudah terkuras.


Rehat di padang sabana
Pegiat MTB dari Mudhog dengan jersey kuning rata-rata tiba lebih awal di garis finis, kemudian disusul sahabat-sahabat dari Penbic, KGB, RGC, dan Jetusi. Sampai digaris finis kami disambut hiburan electone.
Sebagian besar peserta mengakui, dari sejumlah aktivitas gowes offroad yang pernah digeber di PPU sepanjang tahun 2015, trek alam di kawasan Kecamatan Petung ini bisa menjadi pilihan untuk lokasi kegiatan jambore sepeda gunung. Setidaknya pendapat ini yang dikemukakan bubuhan MTB dari Balikpapan.


Tantangan lintasi sungai
‘’Jalurnya sangat menantang,” ujar Yoyok Prihandoyo, leader RGC yang ambil bagian di gobar PMBC. ‘’Beberapa single track-nya juga membutuhkan teknik yang baik,” timpal Ridwan dari klub Mudhog.
Jarak lintasan yang dilalui ratusan goweser di Petung ini tak seberapa jauh, hanya sekira 30an kilometer. Namun terasa lebih panjang bagi goweser Balikpapan, karena mereka mengayuh sepeda pulang-pergi dari rumah masing-masing menuju Petung.

Setelah rehat dan makan siang dengan menu lalapan, kami sudahi gobar yang cukup mengesankan ini. Meskipun terasa lelah, keakraban antara goweser PPU dan Balikpapan tetap mewarnai gobar pada pekan kedua Desember lalu itu. Sukses untuk PMBC. (*)

Searah jarum jam: Panitia Gotaser, KGB, Gowar, Blubis, A-Team dan RGC

Selasa, 12 Januari 2016

Meretas Bukit Tana Paser

Ratusan pegiat mountain bike (MTB) empat kabupaten/kota kembali merajut silaturahmi lewat kegiatan gowes bareng di Tanah Grogot, Kabupaten Paser. Bikers tamu yang ambil bagian dari Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Banjarmasin. Mereka melahap rute menantang di perkebunan kelapa sawit.

RGC rehat di tengah perjalanan
PAGI itu cuaca lumayan bersahabat. Pecinta sepeda gunung mulai berkumpul di Taman Puteri Petong di Jalan Kandilo Bahari. Taman seni budaya dengan bangunan pilar berwarna melulu ungu ini salah satu obyek wisata di Tanah Grogot. Para pegiat saling sapa. Berjabat tangan, dan saling rangkul. Mencerminkan persahabatan antar goweser.

Panitia Gobar Gotaser (gowes bareng grogot tana paser) menjamu sarapan pagi dengan kudapan ala tradisional, plus minuman panas. Lumayan untuk menghangatkan perut. Ada juga hiburan elekton.

Sensasi di jembatan gantung
Kemana rute gobar kali ini? Jarak tempuhnya hanya 30an kilometer. Perpaduan trek onroad dan offroad. Ketika bendera start diangkat, iring-iringan sepeda ini langsung melaju dipandu petugas patwal Polres Paser Tanah Grogot.

Keringat mulai membasahi jersey ketika para riders ini melahap trek offroad. Mereka meretas jalur terbuka dari Desa Tanah Priuk, Desa Sangkuriman, Desa Dami, SP II Suatang Ketebang, Suatang, hingga Pasir Balengkong.

Lintasan alam sepanjang jalan cukup bersahabat. Artinya, tak ada lini ekstrem yang mengancam dan berisiko bagi goweser. Bukit-bukit kecil pun asyik didaki. Begitu pula jalur single track-nya yang menantang andrenalin para pegiat untuk bermain lincah.
Hati-hati di turunan curam

Agar goweser tak lepas dari jalur panitia menabur potongan kertas di sepanjang trek sebagai penanda. ‘’Tapi saya sempat tersesat, dan harus kembali ke rute  semula,’’ kata Supriyanto, goweser gaek dari RGC Balikpapan.

Sekalipun tak ada medan lintasan yang kelewat berat,  rute gobar kali ini cukup asyik. ‘’Single track-nya bagus untuk latihan kecepatan dan kelenturan tubuh. Banyak kelokan yang memerlukan keseimbangan,” komentar Ridwan, riders dari Mudhog Balikpapan.

Ratusan pesepeda ini mulai menoreh sensasi ketika harus melantas jembatan sepanjang dua kilometer di pinggiran sungai. Jembatan ulin setinggi 50 sentimeter dan lebar dua meter itu ketika dilewati para goweser menimbulkan suara sangat berisik, karena susunan kepingan papan terhentak roda sepeda. Riuh tapi tetap mengasikkan. Tak kalah sensasi ketika iring-iringan pesepeda ini melewati jembatan gantung yang membelah sungai.

Tetap semangat
Begitu pula ketika menjajaki jalur double track di kiri-kanan perkebunan kelapa sawit. Ratusan tanaman produktif di sekitar trek itu menawarkan kenyamanan tersendiri. Udaranya sejuk, lantaran sinar surya tak seganas biasanya.

Langit pagi itu memang tidak membiru. Sedikit tertutup kabut. Namun hamparan hijau sepanjang mata memandang seakan memupuskan dehidrasi. Ouw, sayangnya ada pemandangan yang agak merisaukan. Banyaknya pepohonan berbatang hitam bekas lahapan api. Apakah akibat dibakar karena pembukaan lahan oleh warga, atau terbakar karena adanya hot spot. Entahlah. Yang pasti, pohon-pohon nahas itu tercerabut dari kehidupannya. Aroma padang terbakar pun begitu melekat.

Merayap di jembatan ulin
Mendapati kondisi alam yang ada semangat ratusan goweser tetap tak terpatahkan. Mereka selalu terpacu untuk menyelesaikan adventure kali ini. Terlepas dari berbagai hal tersebut, menurut beberapa goweser, rute offroad di Tana Paser ini sungguh menyenangkan. Panitia pun sigap. Tim sweeper tangguh. Nyaris tak ada goweser yang tercecer di gowes bareng 8 November 2015 itu.

Gowes hutan terbakar
Hujan sempat mendera rombongan di saat melintas aspal mengarah destinasi akhir taman Putri Petung. Karena basah lantai keramik taman seni itu menjadi licin. Beberapa pesepeda yang kurang hati-hati pun tergelincir. Namun tak membuat cedera. Sampai di garis finis para pegiat ini dijamu makan siang, dan hiburan musik.

Menurut ketua panitia Hamid Hasyim, kegiatan yang didukung Bank Kaltim ini diikuti sekitar 300 pesepeda. Di antaranya dari Pelangi Tanah Paser, Sadel Batu Kajang (PT. Kideco Jaya Agung), LBC Longikis, BLubis Babulu, Waru Community, Penbic Penajam, dan Pobic Penajam.


Ada juga goweser dari PMBC Petung, RGC Balikpapan, Mud Hogs Balikpapan, Anugerah Bike Balikpapan, KGB Balikpapapn, KTO Balikpapan, D Joss Balikpapan, Navy Blue Balikpapan, dan Sapida Amuntai Com. Banjarmasin. (*)
Panitia Gotaser beri pelayanan terbaik



Puas Jelajah Gunung Intan

Sahabat goweser dua kota; Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU) kembali menggeber gowes bareng. Rute menantang kali ini menyisir perpaduan trek perkebunan kelapa sawit, dan  pematang sawah di kawasan Gunung Intan, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Siap-siap memulai gowes bareng.
UNTUK kali kesekian komunitas mountain bike (MTB) di PPU mengundang pegiat sepeda Kota Minyak untuk gowes bareng (Gobar). Giliran Blubis (Babulu Bike Society) jadi tuan rumah.

Aktivitas penghujung bulan itu sudah dimulai pukul tiga dinihari. Puluhan pegowes Balikpapan loading sepeda masing-masing, lalu bersiap untuk menyeberangi Teluk Balikpapan menuju dermaga Penajam. Di pagi buta itu sebagian kecil menggunakan perahu kelotok dari Pelabuhan Kampung Baru.

Sebagian besar lagi memanfaatkan jasa feri penyeberangan di Pelabuhan Kariangau. Ada yang membawa truck, pick up, double cabin, hingga sepeda motor yang dilengkapi breaket sepeda.


Letih tapi tetap semangat
Selama menikmati penyeberangan via feri dimanfaatkan goweser untuk sekadar rehat memejamkan mata. Selebihnya selintas mengobrol.
Pukul 6 pagi bubuhan goweser Balikpapan sudah menginjakkan kaki di Penajam. Dari dermaga menuju lokasi acara di Babulu Darat sekira 50an kilometer. Kami tidak memancal sepeda dari sini, tapi loading dengan kendaraan roda empat.

Setiba di lokasi acara pegiat sepeda dari Balikpapan ini disambut hangat para sahabat di Babulu. Di venue sudah tersedia menu sarapan pagi. Ada ubi-ubian, kacang rebus, gorengan, wadai, susu, teh, hingga kopi panas yang langsung menghangatkan perut kami yang sudah berjuang melawan dingin sejak pukul tiga dinihari.


Tahap awal masih enerjk menggowes
Pagi yang cerah itu ada suguhan panggung kecil dengan dua penyanyi elekton Tunas Harapan. Hiburan ringan yang berhasil mengusir kepenatan kami.

Para penggila MTB pagi itu sudah berkumpul, siap dengan sepeda dan jersey kebanggaan masing-masing komunitas. Tim tuan rumah Blubis sibuk mengatur acara. Mereka juga mengundang komunitas satu daratan, yakni Penbic, Goweser Waru, Pobic, Gotaser, PMBC, D Jos 148, Pobic, LBC, dan Pertamina MOR VI.

Sedangkan dari Balikpapan ada Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post, Komunitas Gowes Balikpapan (KGB), Kawan Bike Shop (KBS), Mudhogs, Jetusi, Komunitas Tugu Ostrali (KTO), A-Team, dan PGC.

Rehat sejenak di kebun kelapa sawit

Lintasan yang dilalui gobar ini belum familiar bagi sekira 60an goweser Balikpapan. Rutenya perpaduan double track, dan single track di antara bukit-bukit perkebunan kelapa sawit, ladang dan persawahan. “Tahap pertama ada sekitar 10 kilometer offroad. Medannya turun naik bukit. Setelah itu jalan biasa, onroad,” ujar panitia penyelenggara sebelum bendera start diangkat.

Memang benar, hanya sekira satu kilometer dari titik awal menuju trek offroad rombongan pesepeda gunung ini sudah dihadang tanjakan ‘’selamat datang’’. Ada yang tak mampu mendaki, lalu stuck di tengah jalan. Ini yang membuat iring-iringan goweser menjadi terhenti. Gak perlu panik. Aksi tuntunbike pun tak terelakkan.


Tetap enjoy meski tuntunbike
Namun ada saja sebagian goweser lincah yang merangsak naik. Mereka semangat untuk berusaha lolos ke atas bukit meninggalkan kawan-kawannya yang mendorong sepeda.

Ada beberapa tanjakan serupa dan menukik dengan karakter permukaan tanah yang tak rata mesti ditaklukkan puluhan goweser. Kondisi di lintasan ini memang memerlukan teknikal mumpuni. Bukan itu saja, medan pasir putih yang membutuhkan keseimbangan sempurna juga menghadang penggemar cross country ini.

Tuan rumah Blubis yang kompak
Hamparan pasir kuarsa tersebut tampak aman, namun bila roda kehilangan traksi niscaya sepeda bakal oleng, lalu terhenti.
Jalur yang mengasikkan ketika puluhan pesepeda ini melintasi single track di pematang sawah nan luas. Ada suasana yang berbeda. Udaranya juga segar. Beberapa penggila MTB di trek ini bebas memacu cepat tunggangannya.

Kawasan yang dilintasi gobar ini adalah desa Gunung Intan. Di sini memang tak ada intan, tapi suasana pedesaan yang damai memberikan kami semangat untuk terus mengayuh pedal. Sebagian goweser juga memanfaatkan pemandangan untuk berselfiria.

Terima piagam dari panitia 
Jarak jelajah petualangan gobar ini sekira 30an kilometer. Begitu sampai ke garis finish, rombongan dihibur elekton dan sajian nasi pecel serta buah-buahan pengusir dahaga. Para sahabat goweser menilai jamuan Blubis sangat baik.

“Rute gowes di Babulu mengasikkan. Kalau bisa buat jambore sepeda di sini,” ujar Ridwan, goweser Balikpapan yang datang ke muster point lebih awal. Ia bersama perwakilan komunitas lainnya naik ke panggung menerima piagam kenangan dari ketua Blubis H Rahman Fauzi.

Komunitas Gowes Balikpapan (KGB)

Usulan jambore sepeda di Babulu disambut kawan-kawan Blubis. Sayangnya di kecamatan ini dimaklumi tak ada tempat penginapan. 
"Goweser tak perlu penginapan hotel, cukup tidur di tenda saja. Yang penting adalah gowesnya," ujar Yoyok, leader RGC Kaltim Post. 

Para sahabat goweser mengaku puas dengan bersepeda bareng 30 Agustus 2015 itu, dan menilai ini adalah pelaksanaan gobar yang cukup berkesan. (*)
Komunitas Waru selalu aktif gobar
LBC Longikis yang pantah menyerah

Senin, 11 Januari 2016

Sabar Menakar Rute Blusukan

Trek offroad Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post kali ini tanpa diwarnai turunan curam dan bukit-bukit ekstrem. Melainkan blusukan keluar masuk kampung, menelusuri gang kecil, menelikung jalan setapak hingga menerabas ladang, lalu meniti single track pematang. Bermula dari kota Balikpapan menuju pantai wisata Ambalat, Kutai Kertanegara. Cross country sekira 100 Km yang cukup menguras tenaga.

Suasana sepi di tengah tambak
TUJUAN turing bubuhan RGC Minggu memang pantai wisata Ambalat (Amborawang Laut) yang masuk kawasan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Sekitar ATM Balikpapan Baru (BB) menjadi tempat berkumpul 19 penggowes. 

Pukul 06.30 Wita mereka mulai mancal sepeda, melalui Jalan Ruhuy Rahayu, kemudian menjajaki kawasan Her Sepinggan. Dari sini, penggila mountain bike ini melulu melintas jalan-jalan kecil di kawasan perumahan warga.
Bila biasanya menuju pantai Ambalat melewati rute full onroad beraspal, kali ini rombongan kecil tersebut mencoba trek yang berbeda dan penuh sensasi. Iring-iringan gowes dipandu Julak Yayan, pesepeda gaek Balikpapan yang rajin mengoleksi gelar jawara di kejuaraan MTB Race baik tingkat lokal dan nasional.

Menyebrangi sungai menuju tambak
Berkecepatan sedang, rombongan minimalis ini menjajal jalan-jalan berkelok yang tak biasa, single track menukik, masuk gang sempit, merapat di sela-sela setapak rumah warga, menerobos pagar, melompati parit, melintas jembatan kecil non-permanen, menyasak perkebunan warga, hingga masuk ke cluster perumahan elit.

Mengubek-ubek di kawasan Kelurahan Sepinggan, Batakan, hingga Kelurahan Manggar, stamina sahabat goweser RGC ini tampak masih prima. Namun enam pegiat dipaksa ‘’menyerah’’ kembali ke kota lantaran persoalan waktu dan kendala teknis.

Menguji keseimbangan di batang pinang
Pagi dengan cuaca bersahabat itu sungguh menyenangkan bagi mereka. Ada kejutan-kejutan kecil, seperti menikmati buah Cempedak ketika melintas di perkebunan warga. “Cempedak ini sudah masak, aromanya begitu terasa,” ujar Umar Baki, goweser BBC yang memungut buah cempedak berguguran. 
Rasanya manis. Lumayan untuk menghela dahaga. Semua goweser pun menyantap tanpa permisi.


Mesti antre satu persatu
Julak Yayan yang memandu di depan memang terkesan tanpa lampu reting. Ia stabil memacu sepeda dengan kecepatan sedang. Ini yang  sempat membuat sebagian anggota RGC keteteran. Namun sejumlah tantangan kecil yang memerlukan teknikal, seperti rintang akar pohon, batu-batu laterit, dan jalur sempit di lereng bukit dengan kemiringan tertentu menjadi keasyikan tersendiri. Semua dilewati dengan sempurna.
Rombongan RGC ini terasa agak lega ketika berada di kawasan Kelurahan Manggar. Pasalnya, sempat mengaspal jalan raya. Rute onroad mulus dilintasi sekira dua kilometer. Perjalanan blusukan keluar masuk perkampungan ini seakan menghindari jalan besar.

Julak Yayan memimpin di pematang
Sekira pukul 9 pagi, rombongan mulai menyisir permukiman nelayan yang tak jauh dari pantai wisata Manggar. Menggowes di bawah rindang pohon nyiur, mereka terpaksa menghirup aroma yang kurang sedap, lantaran harus melantas di sela-sela bedeng dan tempat penjemuran ikan asin yang diproduksi warga setempat.

Dari pantai Manggar, mereka terus menyasak ke arah matahari terbit. Kali ini melintasi situs budaya Makam Jepang yang juga menjadi objek wisata lokal. Tak ada pilihan lain, tantangan kecil seperti jembatan batang pohon pinang pun mesti dilalui. Perlu keseimbangan.


Harus seimbang
Kemudian arah keluar jalan raya Mulawarman menuju kawasan penangkaran buaya di Kelurahan Teritip. Tak jauh dari sini kembali merangsak masuk ke ladang sekitar pemukiman petani. Sampai di kawasan pesisir pantai ini surya pagi mulai meninggi. Jersey masing-masing penggowes pun sudah basah merata melekat di kulit tubuh.

Tujuan berikutnya adalah kawasan tambak ikan di Kelurahan Amborawang. Mereka sempat rehat beberapa saat mengusir dehidrasi, lalu tancap gas lagi. Perlu menakar kesabaran ketika melintasi single track di pematang dan tanggul. Antar goweser tak perlu saling menyalip. Harus fokus. Bila lepas kendali di jalur gili-gili ini langsung nyebur ke air. Disinilah ketenangan teruji.
Di kawasan tersebut juga ada tambak kepiting soka. Sayangnya ketika melintas tak tampak petani memetik panen. Suasana sepi dan lengang. Hanya semilir angin berpadu terik matahari menyengat yang menyapa.


Makan cempedak mengusir dahaga
Tantangan mengasikkan bukan saja jalur tunggal pematang, tapi juga rawa-rawa pepohonan nipah dan tanaman perdu yang tumbuh liar di antara hutan mangrove. Ini mesti diterabas. Sekalipun aksi angkat sepeda tak luput. Beruntung tak jauh dari medan berat ini rombongan singgah di perkampungan untuk merapatkan barisan, kemudian membasahi tenggorokan dengan es kelapa muda. Segar dan menyenangkan.

Akhirnya iring-iringan ini tiba juga di ujung pantai Ambalat. Tim menyisir pelan di pasir pantai dengan tenaga lelah tersisa. Ada semangat menyapa ketika sampai di tempat tujuan, kemudian disambut rasa lega. Acara selanjutnya mengisi perut di kedai pantai, ada gado-gado dan soto. Mereka tampak tak sabar untuk memulihkan tenaga dengan asupan. Ada pula yang langsung telentang lalu tertidur sesaat.

Mampir di Telaga Dub
Tantangan tidak sampai disini. Masih ada perjuangan, yaitu kembali ke kota Balikpapan. Dari tempat wisata ini mereka menggasak jalur-jalur seksi, perkampungan warga, perkebunan karet, sampai ke perkebunan jeruk. Rasa hati ingin berhenti lalu memetik buahnya, tapi lebih terdorong rasa ingin cepat pulang yang lebih kuat. Matahari pun sudah seperti di ubun-ubun.
Melintasi persawahan

Rombongan sempat berhenti di Telaga Dub yang masih terletak di kawasan Ambalat, Kukar. Lalu menyisir sawah milik petani disana. Akhirnya cross country jalur berbeda 19 April 2015 itu disudahi. Rombongan kembali ke kota melintas jalan raya Mulawarman yang mesti diselesaikan sepanjang tiga puluh enam kilometer. Total perjalanan kali ini hingga 90an kilometer. Namun mencapai  100 km bagi anggota rombongan yang menggowes dari rumah masing-masing. (*)


Minggu, 03 Januari 2016

Gasak Rute Baru di Waru

Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post yang menghimpun sejumlah komunitas sepeda gunung kembali menggelar ekstra gowes. Kali ini menggasak rute menantang di Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).


Di Waduk Waru sekira 35 Km dari demaga Penajam
MINGGU pagi 7 Juni pukul 05.00 Wita langit Balikpapan masih diwarnai halilintar dan gelegar suara geledek. Tampaknya cuaca kurang bersahabat. 

Sebagian sudut kota mulai diguyur hujan tak merata. Jadwal berkumpul bubuhan ergecer –sebutan anggota RGC-- pukul 05.30 Wita di pelabuhan kelotok Kampung Baru untuk menyeberang ke PPU pun terancam batal!

‘’Untuk jam ngumpul kita lihat nanti cuacanya, sekarang masih hujan. Kita bisa start jam tujuh atau lebih di pelabuhan Kampung Baru,” begitu komentar leader RGC Prihandoyo pukul 04.58 Wita di grup BBM (BlackBerry Messenger) RGC yang beranggotakan hampir seratus goweser.


Antre Melintas jembatan kecil 
Meskipun rintik hujan masih setia membasahi kota, rombongan kecil ergecer sudah berkumpul di pelabuhan Klotok pukul tujuh lewat. Ada duapuluhan pesepeda saling tunggu di kedai kopi sekadar menghangatkan tubuh.  Ketika hujan mulai reda, kami pun bergegas untuk menaikkan sepeda satu persatu ke perahu kayu untuk segera menyeberang Teluk Balikpapan menuju  dermaga PPU.

Setiba di pelabuhan PPU sahabat goweser dari Penbic (Penajam Bicycle) sudah menyambut. Mulailah kami gowes beriringan. Jumlahnya ada 32 pesepeda. Tujuan ekstra gowes kali ini adalah Kelurahan Waru yang jaraknya sekira 25 km. Perjalanan melulu onroad ini tak begitu berat, hanya ada beberapa tanjakan sedang yang perlu ditaklukkan pegiat MTB ini.


Di Dermaga Sungai Tunan
Rombongan goweser dua kota ini meluncur dengan kecepatan rata-rata 30 km per jam. Nyaris tak pedulikan hujan yang menyapa, tetap konsisten mengayuh. Tak butuh waktu lama mereka pun tiba di kediaman Nawa di Jalan Bangun Mulyo Rt 12 No. 68, Waru. Nawa adalah ergecer perempuan asal PPU yang bekerja di Balikpapan.

Suasana di pemukiman ini terasa lengang. Jauh dari hiruk-pikuk kendaraan. Setelah rehat sejenak sembari menenggak teh hangat dan bubur kacang, beberapa menit kemudian rombongan turing ini melanjutkan perjalanan offroad menuju Waduk Waru di Desa Mata Air yang jaraknya hanya sekira 6 km. Bagi ergecer, ini adalah trek baru yang belum pernah dilewati. Karena trek belum familiar ada beberapa sahabat yang tergelincir. Malah ada yang terjerembab ke kubangan.


Bersama sahabat di Waru
Udara di sekitar waduk seluas 10 hektare ini lumayan segar. Tempat wisata ini juga menjadi sumbar air PDAM dan irigasi areal pertanian. Tak lama di situ kami pun harus kembali ke kediaman Nawa untuk menyantap makan siang bareng, sekaligus acara tiup lilin kue ulangtahun Nawa.

PESISIR
Siang itu rombongan ergecer kembali ke Balikpapan tidak melintasi rute yang dilewati semula, melainkan melantas pesisir sekitar Pantai Nipah Nipah. Kami sempat mampir di Pantai Corong dan Tanjung Tengah di kawasan Pantai Tanjung Jumlai sekadar menikmati sepoi angin, serta ke Dermaga Sungai Tunan.


Di Pantai Corong
Melulu melintas jalur onroad beraspal puluhan kilometer, tak pelak kami pun mulai diserang rasa jenuh. Apalagi terik matahari mulai menyengat. Ergecer Anshari akhirnya memandu rombongan untuk menerabas jalur offroad yang hijau. Ia cukup paham medan disini, maklumlah karena setiap harinya bertugas di PPU meskipun berdomisili di Balikpapan. Sekalipun pendek rute offroad ini lumayan memberikan sensasi. Iring-iringan menyusuri single track dan meniti jembatan yang mewajibkan pikul sepeda.

Membelah Teluk Balikpapan
Setelah itu kembali ke jalur onroad, kami pun langsung memancal sepeda menuju dermaga PPU untuk kembali menyeberang ke Kota Minyak. Namun sebelum membelah  Teluk Balikpapan dengan perahu kelotok kami dijamu minum dan santap buah oleh goweser Penbic Ahmad Murani. Plus minus perjalanan RGC dari Balikpapan ke PPU sekira 90an kilometer. (*)

Minggu, 30 Agustus 2015

Sensasi di Jembatan Perbatasan

Gowes Tour de Malsin 2015 Etape 3 


Pada hari ketiga Tour de Malsin 2015 rombongan pesepeda Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post sedianya menyelesaikan etape 3 menempuh jarak hanya sekira 60an kilometer dari Johor Bahru, Malaysia ke Singapura. Sayangnya, enerji pegiat sepeda gunung ini justru tercerabut oleh persoalan perizinan lintasan, bukan lantaran letih otot memancal sepeda.

Di benteng A Famosa Melaka 
SABTU 16 Mei pukul 06.00 kami berkumpul di restoran A Famosa Resort di kawasan Alor Gajah Jalan Raya North-South, Melaka, untuk menyantap sarapan yang serba komplit. Wajah para sahabat ‘’ergecer’’ –sebutan anggota RGC-- tampak ceria. Istirahat semalam memang dimanfaatkan maksimal. Pagi itu para pesepeda sudah mentereng dengar jersey warna dasar merah berlogo Kaltim Post, Garuda Indonesia dan Accor Hotels.com.

Pada hari ketiga Tour de Malsin ini sedianya kami ekstra gowes ke obyek wisata peninggalan Portugis di Melaka. Namun karena ribetnya untuk mengurusi loading sepeda dalam truk boks, akhirnya kami putuskan untuk naik bus saja ke tempat tersebut. Toh jaraknya tak kelewat jauh. Hanya sekira 5 kilometer.
Di depan tugu Ratu Victoria Melaka

Di tempat wisata sejarah ini sekira pukul 9 pagi. Kami sekadar mengambil foto depan tugu air mancur Ratu Victoria di sekitar bangunan merah peninggalan arsitektur Belanda bernama Stadthuys. Kemudian bergambar di depan puing gerbang bangunan tua Porta de Santiago yang dikenal sebagai benteng pertahanan A Famosa, saksi sejarah masa kejayaan Portugis disana.


Siap melintas Johor Bahru ke Singapura. 
Dari destinasi ini kami melanjutkan pelancongan ke Johor Bahru dengan bus pariwisata. Jaraknya 273 Km. Perjalanan darat sekira tiga jam benar-benar dimanfaatkan sahabat goweser untuk relaksasi. Apalagi pemandangan kiri-kanan jalan perkebunan sawit yang menjenuhkan membuat kelopak mata kami terasa berat.

Sebelum tiba di tempat check point keimigrasian, rombongan lebih dulu makan siang bareng menu nasi lemak dan teh tarik di foodcourt  yang berada di ujung timur kota semenanjung Malaysia itu. Beberapa di antara kami menyempatkan  untuk bertukar ringgit ke dolar Singapura di money changer.


Menunggu verifikasi paspor di Johor Bahru
DIHADANG MASALAH
Kami tak menyana kalau perjalanan kali ini terusik masalah. Gak ada tanda-tanda bakalan ribet. Semua mulus saat di Johor Bahru Kastam Checkpoint. Begitu juga ketika masuk ke perbatasan Singapura.  Verifikasi paspor keimigrasian di Woodlands Check Point juga lancar.  Kecuali langkah tiga kawan kami sempat terhenti untuk pemeriksaan lebih jauh karena ada yang membawa handy talky. Kami pun menunggu belasan menit.
Yang ini sungguh di luar dugaan. Truk pembawa sepeda kami yang mengekor bus jauh di belakang harus terhambat di check point gate Imigrasi Johor Bahru. Puluhan sepeda dalam truk itu tertahan di parkiran gedung Imigrasi Sultan Iskandar Muda lantaran dianggap tak berdokumen! Wadow..


Gowes malam di Jembatan Selat Johor
Jonathan yang dipercaya sebagai leader Tour de Malsin sudah kasak-kusuk agar sepeda dalam truk bisa lolos ke Singapura. Tapi apa lacur, petugas setempat tetap ngotot, lantas memberikan alternatif  bahwa untuk melintas dari Johor Bahru ke Singapura sepeda harus ditunggangi masing-masing oleh pemiliknya. Alamaaak!

Akhirnya rombongan kembali ke tempat makan siang di Johor Bahru tadi, agar bisa mengambil sepeda masing-masing untuk dipancal menuju Singapura. Okelah kalau begitu. Kami pun harus mengulang verifikasi paspor. Hebat, dalam waktu relatif singkat itu kami sudah pulang pergi Malaysia-Singapura-Malaysia-Singapura lagi.  Waktu tersita disini. Capek sih, tapi tetap harus semangat. Kami sedikit “GR” alias gede rasa ketika


 Di teras restoran Satay By The Bay  
antre check point seorang petugas mengira kami adalah rombongan atlet sepeda Sea Games 2015 yang dihelat di Singapura 5-16 Juni itu?
JALUR SEPEDA
Hari jelang petang. Janji untuk gowes bareng wali kota Balikpapan Rizal Effendi dan rombongan Garuda Indonesia di Singapura otomatis ter-delay. Padahal direncanakan sore.
Kami gowes perlahan dari Johor Bahru ke tempat check point keimigrasian sudah pukul 06.35. Sampai disini, masih juga terhambat. Kami tak diperbolehkan bersepeda  ke Singapura karena melintasi jalur bebas hambatan. Oalah byung.., rasanya seperti dipingpong.


Walikota serahkan piagam Tour de Malsin 
Setelah negosiasi berulang kali, akhirnya iring-iringan bersepeda diperbolehkan menjajal lintas batas dua negara tersebut. Saat itu matahari senja mulai menguning, langit pun perlahan mulai menggelap. Kompak lampu sepeda kami nyalakan.
Ada rasa lega ketika kami diperbolehkan melintasi perbatasan Malaysia-Singapura. Gowes melewati jembatan sepanjang satu kilometer di atas Selat Johor itu ada sensasi tersendiri. Ini sungguh berbeda ketika kami gowes melewati Jembatan Dondang di Kutai Kertanegara dimana pemandangannya lebih banyak hutan mangrove delta Mahakam.

Jembatan perbatasan negeri tetangga itu menawarkan pemandangan indah. Lampu-lampu gemerlap di Woodlands dari kejauhan yang mencerminkan potret metropolis Negeri Singa cukup melegakan hati.

Tim Garuda Indonesia di Marina Bay
Namun sayang seribu sayang. Persis di ujung jembatan Selat Johor yang dibangun 1923 itu  iring-iringan sepeda kami disemprit, lalu dipaksa berhenti oleh petugas Singapura. Kenapa? Perjalanan gak boleh diteruskan! Padahal peluh belum membanjir.

Alasannya; ‘’basikal’’ dilarang melewati jalur cepat ini. Negosiasi di pinggir jalan dengan belasan petugas di sana sampai satu jam lebih, tetap juga tak berhasil. Konyol juga. Akhirnya kami kembali duduk manis dalam bus seraya menelan kecewa. Sepeda pun harus diangkut truk yang sengaja didatangkan. Suer, enerji kami seakan-akan terkuras oleh  persoalan seperti ini.

Gowes pagi di kawasan Marina Bay  
Akhirnya peserta tur baru bisa bertemu rombongan wali kota Rizal Effendy, General Manager Garuda Indonesia Balikpapan Josep A Saul di Satay By The Bay sekira pukul sebelas malam. Foodcourt makanan halal ini tak jauh dari kawasan Marina Bay Singapura. Kami langsung “balas dendam” menyantap malam menu steamboat dan sea food sepuasnya yang harga seporsi 29 dolar  Singapura. Di sela-sela dinner itu orang nomor satu di Pemkot Balikpapan tersebut juga menyerahkan piagam penghargaan Tour de Malsin kepada tiga perwakilan peserta, Soeny, Prihandayo dan Sumantri Wibisono alias Jack Baronet.

Malam itu tak ada kesempatan untuk istirahat panjang. Setiba di hotel Ibis Novena, Irrawady Road, tempat kami menginap hampir pukul dua malam. Kesibukan Singapura mulai redup.
Kami berkemas packing sepeda. Sebagian goweser menyempatkan waktu sempit berbelanja tengah malam di Mustafa Center kawasan little India.

Di depan Hard Rock Singapura 
Pukul 4 pagi kami sudah sarapan dan bersiap meluncur ke bandara Internasional Changi mengejar penerbangan pagi via Garuda Indonesia GA 823 pukul 06.55 untuk kembali ke Tanah Air. Kami terbang satu pesawat dengan Walikota Rizal Effendi.

Empat rekan kami, Soeny, Srianti, Felix dan Evi tetap bertahan di ‘’negeri seribu satu larangan’’ itu untuk keperluan lain, dan keesokannya gowes seharian mengitari Marina Bay dan pusat perbelanjaan Orchard Road. Ketika kami di Singapura, republik seluas 716 km persegi itu masih tetap getol menggeber sejumlah program gaet wisata lewat Singapura Tourism Board-nya. (*)