Senin, 17 September 2012

Meriam Koloni di Markoni


Kondisi meriam yang kurang terawa
Ada yang berbeda bila bersepeda pagi hari sebelum matahari terbit. Selain udara segar, debu-debu jalan masih enggan terbang menyapa. Apalagi di daerah pebukitan, sejuk. Ke Puncak Markoni Atas adalah tujuan gowes kali ini. Untuk melihat cagar budaya situs peninggalan koloni Jepang, yaitu sebuah meriam yang digunakan saat Perang Dunia II.

Tidak banyak masyarakat di kota ini yang tahu kalau di Jl Puncak Markoni Atas, Rt 07 Kelurahan Damai, Kecamatan Balikpapan Selatan, provinsi Kalimantan Timur, terdapat meriam besi sepanjang 9 meter dengan moncong berdiameter 55 cm.

Ketika masih duduk di kelas dua SMP, saya sudah pernah bermain di meriam ini. Karena kawan sebangku, Umardani, tinggal tak jauh dari tempat ini. Pulang sekolah kami bermain di sekitar meriam. Ada juga tiga sahabat lain yang tinggal di kawasan tersebut,  Doddy, Deddy dan Stevy. (Apa kabarnya kalian? Sudah tiga puluh tahun lebih kita tak berjumpa).

Meriam tampak dari depan
Orangtua Umardani memiliki pohon kecapi. Sambil ngemut bici kecapi, kami berlari-lari di bukit sekitar meriam Jepang ini. Tak pernah terpikir dalam benak kami, bahwa benda peninggalan zaman perang saat Jepang menduduki Balikpapan itu adalah sebuah benda yang harus dijaga dan  dilindungi.

Sayangnya, peninggalan sejarah ini belum mendapatkan sentuhan yang maksimal. Kabarnya, pemerintah kota sudah mengajukan agar cagar budaya ini dapat perlindungan resmi dari pemerintah pusat. Di tempat ini dulu ada dua meriam, kini tinggal satu.

Di atas meriam terdapat dua batang bentangan kayu besi (kayu ulin) selebar 40 cm sisa gelagar atap pelindung. Begitu juga di kiri kanan masih ada tiang-tiang pondasi dari kayu ulin. Kayu asli Kalimantan ini memang diketahui berumur panjang. Sementara badan meriam terselimuti korosi (berkarat). Bangkai meriam  Yokohama yang diperkirakan dibuat tahun 1935 ini sempat terkubur, dan kemudian digali kembali oleh warga September 2010.

Badan meriam dipenuhi karat, belum ada perawatan
Bila memperhatikan diameter moncong meriam ini, bisa kita bayangkan betapa dasyatnya peluru yang dimuntahkan. Dari atas bukit ini, tentara Jepang pada saat itu membombardir kapal-kapal tentara sekutu Australia yang merapat di pantai Balikpapan.

Menurut informasi, meriam ini dibawa tentara Jepang tanggal 1 Maret 1942, dan dipasang 15 Mei 1942. Sementara pertempuran  terjadi sejak 20 Agustus 1943 hingga 15 Juli 1945. Dari kedasyatan meriam ini konon 10 kapal sekutu dikaramkan di pantai Balikpapan.

Sesungguhnya tak terlalu sulit untuk bersepeda menuju meriam peninggalan tentara negeri matahari terbit tersebut. Namun karena sekira 30 tahunan tidak pernah ke tempat ini, terjadi disorientasi. Rumah-rumah penduduk semakin padat. Dulu, ketika kecil, kami bebas berlari-lari di antara ilalang untuk menuju meriam.
Ironinya, ketika saya bertanya kepada salah seorang warga tentang keberadaan meriam tersebut, tak mendapat jawaban rinci. ‘’Saya nggak tahu mas. Rasanya gak ada meriam di sekitar sini,’’ ujar pria paro baya yang pagi itu sedang berkemas-kemas. Saya lantas berpikir, pasti orang yang saya temui ini bukan penduduk asli (pendatang), atau bukan warga lama Puncak Markoni Atas.

Medan yang lumayan sulit ditempuh dengan sepeda
Saya mendapat jawaban pasti sesaat kemudian, setelah menemui seorang ibu rumah tangga yang sedang mencuci pakaian. ‘’Lewat jalan setapak mas, terus naik ke atas bukit,’’ tukasnya sembari menatap ke arah yang dimaksud.

Lewati jalan setapak dengan sepeda, tentu tak ada persoalan. Nyantai saja. Namun hambatan membentang ketika berhadapan dengan bukit kecil setinggi kira-kira 15 meter. Rasanya sulit mendaki dengan sepeda. Selain kontur tanah tak beraturan, sudut kemiringan juga agak menyulitkan. Jalan satu-satunya adalah memikul sepeda. Dan itu mau tak mau, harus dilakukan!

Pemandangan dari Puncak Markoni Atas
Meski peluh bercucuran, akhirnya sampai juga saya di lokasi meriam Jepang ini. Tanpa menunggu, saya langsung membasahi kerongkongan dengan bekal air putih. Ada rasa lega.
Di ketinggian bukit ini disambut sepoi angin dan pemandangan pantai Balikpapan yang indah.  Berbeda dengan tigapuluh tahun lalu, bila mata memandang jauh tampak pasir putih pantai membentang. Kini yang ada; padat rumah penduduk, pusat pertokoan, dan beberapa gedung bertingkat menjulang ke langit.

Untuk menuju ke tempat ini bisa melewati poros Jl Jenderal Sudirman atau dari Jl Mayjen Sutoyo (Gunung Malang). Dari Jl Sudirman, menuju Jl Markoni, menelusuri jalan mendaki Markoni Atas. Sebelum menelusur  Jl Puncak Markoni  Atas, di sebelah kanan jalan terdapat tempat ibadah umat Buddha, Wihara Eka Dharma.
Saat pendakian landai Jl Puncak Markoni Atas terdapat bangunan Open House, semacam resto. Tempat entertainment  yang cukup representative milik pengusaha Yusi Ananda tersebut kini sedang direnovasi.
Kemudian saya menjajaki jalan setapak untuk sampai di tujuan utama. Suasana hening. Hanya sekira 10 menit saya berada di meriam ini, sempat terlintas kenangan masa-masa kecil dahulu. 

Turnaround Cycling Community yang semangat
Dari lokasi meriam tak ada jalan terusan. Jadi harus berbalik arah. Ketika mengayuh sepeda dengan jalan menurun, saya berjumpa dengan rombongan gowes Turnaround Cycling Community dari Pertamina. Mereka over track menuju jalan setapak, menembus Jl Mayjen Sutoyo Gunung Malang, namun saya arahkan agar menyempatkan untuk melihat meriam peninggalan Jepang tersebut. Delapan anggota rombongan mengaku tak pernah tahu keberadaan benda cagar budaya tersebut. Mereka tampak antusias. (*)

Sabtu, 15 September 2012

Tak Harus Fitamin Khusus


Profil Haji Muhammad Nurbaini

Cepat akrab. Itu kesan pertama jika berjumpa dengan kakek yang satu ini. Ia tulus menyapa dengan senyum bagi siapa saja yang melintas bersepeda di dekatnya. Haji Muhammad Nurbaini, namanya. Penampilannya tak loyo, meski usianya kini lebih 70 tahun. Tak perlu sungkan berkenalan  bila Anda bertemu, dan tanyakan kiat-kiat tentang kebugaran tubuh.

Haji M Nurbaini
Hampir di setiap event bersepeda massal, ia pun tak pernah ketinggalan ambil bagian.  Termasuk Gowes Spektakular di Samarinda, ibukota provinsi Kaltim, bulan Juli 2012. Termasuk Gowes Spektakuler di Balikpapan yang berlangsung Mei 2012. Tak ketinggalan Gowes HUT Bhayangkara ke-66 yang diikuti sekitar sepuluh ribu peserta, juga bulan Juli 2012.

Di lingkungan pesepeda, ia cukup terkenal. Biasa dipanggil Haji Alamak. Meski nama aslinya adalah Haji Muhammad Nurbaini. ‘’Dipanggil Haji Alamak agar mudah saja. Alllaaamaaaak…begitu,’’ katanya sembari mengumbar tawa.

Boleh dibilang, Haji Alamak satu-satunya peserta tertua yang masih eksis bila eda event bersepeda massal. Usianya menginjak 70 tahun. Meski umurnya menjelang senja, bukan berarti secara fisik bapak yang satu ini juga menyurut. Anda pasti akan terkejut apabila melihat kecepatan Haji Alamak menggenjot sepeda. Ia justru bisa mengalahkan yang berusia 30 sampai 40 tahunan.

Joged bareng Gubernur Kaltim
Fisiknya memang tangguh. Setiap hari ia bersepeda. Berangkat kerja pun naik sepeda. Dari rumahnya di Jl Prajamuda, belakang SMA Negeri 5 di kawasan Balikpapan Selatan, ia mengayuh sepeda ke tempat kerjanya di Kelurahan Kariangau, Balikpapan Utara, yang jaraknya sekitar 20 km.  Naik turun jalan berbukit sudah menjadi lahapannya setiap hari. 
‘’Saya ada motor, tapi saya lebih memilih naik sepeda. Biar tubuh sehat,’’ kata kakek lima cucu ini. Ia bekerja sebagai petugas keamanan di salah satu perusahaan swasta di Kawasan Industri Kariangau (KIK).

Penghobi olahraga yudo, sepakbola, dan berenang ini mengaku sejak kecil memang sudah akrab dengan sepeda pancal. ‘’Kalau naik sepeda saya lebih suka medan yang menantang, seperi off road,’’ kata mantan Kopasus yang purna tugas tahun 1984 ini dan pernah bertugas di Cijantung, Jakarta dan Awang Long, Samarinda.

Bapak berpenampilan kurus dan berkulit hitam ini tampak bugar. Meski raut wajah tuanya tak bisa tersembunyikan. Rambut peraknya menghiasi kepala, namun tatap matanya tetap tajam. ‘’Anak saya umur 43 tahun  kalau mau menjahit, minta tolong saya untuuk memasukkan benang ke lubang jarum,’’ ujarnya memberikan gambaran bahwa penglihatannya masih sempurna.

Selalu tampil dengan kacamata hitam
Ada resep agar tetap bugar? Misalnya fitamin atau makanan suplemen? ‘’Oh, tidak ada. Saya makan sehari-hari biasa saja, tahu tempe,’’ katanya enteng. Yang penting, lanjutnya, jangan stress. Enjoy aja. ‘’Ada penyakit, jangan dipikirkan. Cepat lupakan,’’ ujar Haji Alamak yang acap tampil di panggung hiburan untuk berjoged bila ada event-event sepeda massal.

Enerjik pantang menyerah
Tak saja kegiatan bersepeda massal di Balikpapan yang ia ikuti, tapi juga di Samarinda bahkan sampai ke Sangatta, Kabupaten Kutai Timur.  ‘’Saya pernah bersepeda dari Balikpapan menuju Samarinda bersama teman-teman. Tembus enam jam,’’ katanya. Selama menempuh perjalanan kurang lebih 115 kilometer itu, ia mengaku ada waktu jeda untuk istirahat, sambil menunggu anggota rombongan lainnya.

Bila diperhatikan sekilas sepeda yang dipakai Haji Alamak, sungguh tak bisa disebut istimewa. Ia hanya punya sepeda satu-satunya, Poligon Xtrada 2.0 warna merah. Tak ada aksesori khusus, kecuali lampu muka dan belakang. 
‘’Lampu ini untuk tanda agar kendaraan di depan dan belakang bisa melihat kita dari jauh,’’ kata Haji Alamak yang tak jarang bersepeda malam.
Menurutnya, bersepeda yang baik lebih dititikberatkan pada teknik bersepedanya. Tentu ini tak sekadar teori. ‘’Selebihnya ditunjang dengan fisik, terutama pada kaki dan lutut,’’ urai anggota A-Team Balikpapan Community ini.

Hiiiii....teler juga ya?
 Kepada penulis, ia mengaku ingin mengganti sepedanya dengan yang baru. Mau dijual? ‘’Ya sih, tapi nggak tahu berapa harganya?’’ ujarnya. Apakah Anda tertarik? 
Tapi ada yang menarik, sepeda Pak Tua yang satu ini suspensi depan baru diganti. Ini hadiah doorprize ketika mengikuti gowes offroad ulangtahun Blue Bike Community, 28 Oktober lalu 2012 lalu.
Shock baru diganti
''Shock ini memang sudah lama mau saya ganti. Eh, dapat hadiah. Kebetulan...'' ujarnya. 

Memang, untuk urusan safety sepeda  kakek yang satu ini selalu memprioritaskan. Terbukti, di sepedanya kini dipasang lampu depan, belakang, lampu rem hingga lampu reting. Mantap ya pak. (*)


Rabu, 29 Agustus 2012

Mencari Nyali di Bendali


Sinar matahari masih hangat meraba kulit. Memaksa meneteskan peluh. Suara deru kendaraan lalu lalang di Jl Ruhuy Rahayu tak bosan meriuh sore itu. Sebagian pengendara berpacu cepat, agar segera tiba di rumah untuk rehat. Tampak dari mereka berwajah lelah.

Waduk Bendali II di Balikpapan. Ada rasa tenang.
Sepulang dari kantor sore itu, saya kembali ke rumah untuk bersiap-siap bergowesria. Tujuan bersepeda kali ini adalah Bendungan Pengendali (Bendali) II yang letaknya di Kelurahan Sepinggan, Balikpapan Selatan. Bendali untuk mengantisipasi banjir kota Balikpapan ini diresmikan oleh M. Jusuf Kalla, tanggal 9 Februari tahun 2007.

Waduk seluas 37,65 hektare ini sengaja dibuat pemerintah kota, dengan maksud untuk menampung luapan air, yang bila debet hujan tinggi dan berlangsung lebih dari empat jam berpotensi akan terjadi banjir di kota, terutama di Kelurahan Sepinggan. Aliran sungai kecil dari waduk ini hilirnya di Sungai Sepinggan, persis di samping Bandar Udara Sepinggan.

Trek menuju Bendali II dengan sepeda tidak terlalu sulit. Jaraknya tak begitu jauh bila ditempuh dari Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC) atau sering disebut Dome yang terletak di Jl Ruhuy Rahayu, Kelurahan Gunung Bahagia. Namun bila mengambil rute dari jantung kota, terasa agak jauh. Dari bilangan The Plaza Balikpapan misalnya, tentu dibutuhkan tenaga ekstra. Sebab, untuk menuju ke Bendali II, ada beberapa jalur yang mesti dilewati. Sebut saja, Jl Jenderal Sudirman, Jl MT Haryono, kemudian menuju Jl Ruhuy Rahayu.

Ada pedesterian, taman dan gazebo di sekitar Bendali II
Secara jarak sebenarnya tak begitu jauh. Sekira 15 km. Namun medan yang harus ditempuh lumayan berat. Setidaknya, ada dua jalan tanjakan di Jl MT Haryono yang menghadang, dan satu jalan menanjak di Jl Ruhuy Rahayu. Namun tanjakan ini bukan menjadi masalah berarti bagi mereka yang rajin bersepeda jarak jauh.
Untuk memperpendek jarak tempuh, ada alternatif lain. Yaitu rute berawal dari Mal Balikpapan Baru yang terletak di kompleks perumahan elit Balikpapan Baru. Kalau mau lebih dekat, bisa mengambil ancang-ancang dari BSCC atau Dome di Jl Ruhuy Rahayu. Jaraknya cukup pendek. Dan saya mencoba di jarak pendek ini.

Untuk menuju Bendali II dari Dome, kita hanya butuh waktu sekira 15 menit. Dari Jl Ruhuy Rahayu depan Dome, menuju Jl Abdi Praja (di belakang SMA Negeri 5), kemudian mengarah ke perumahan Perusda. Ke arah kanan, ada sedikit tanjakan untuk kemudian menyisir Jl Delima. Setelah itu  arah menurun menuju Jl Safir VI, melewati perumahan penduduk.
Pintu air dan pengukur ketinggian air
Dari sini akan nampak jalan kecil menanjak. Lagi-lagi bagi yang biasa memacu sepeda bukan menjadi persoalan. Tentu, bagi yang tidak biasa, mau tak mau harus menuntun sepedanya untuk menuju bukit di mana pintu gerbang Bendali II berdiri kokoh. Saya termasuk yang tak mampu. Meski jarak dari Dome ke Bendali II relatif pendek, namun cukup memeras peluh hingga bercucuran.

Udara di sekitar Bendali II cukup segar. Baik pagi hari maupun sore hari. Masyarakat sekitar banyak memanfaatkan waduk ini untuk jalan-jalan sore. Ada juga yang sekadar menyalurkan hobinya memancing. Tak jarang juga dimanfaatkan oleh para fotografer profesional untuk dijadikan objek Prewedding. Ada pula yang syuting untuk video klip. Tahun 2009, saya pernah memanfaatkan pemandangan waduk ini untuk stock shoot sebuah  video klip kelompok musik lokal.

Sebelum menjadi Bendali, lahan di sekitar ini merupakan dataran rendah yang diapit dua bukit. Kini, setelah Bendali II dibangun, tempat ini dapat dijadikan objek wisata. Sayangnya, wadah ini belum tersentuh maksimal oleh instansi berkompeten. Bentangan bendungan yang dijadikan jalan memanjang dengan pagar kiri-kanan juga dapat dijadikan untuk objek foto. Begitu juga dengan taman di bawah bendungan, dimana ada sejumlah tanaman dan pos-pos kecil. Sayangnya kurang terawat. Ilalang subur merambat di sana-sini.
Bendali II ini mempunyai tiga pintu air, yang dapat dikendalikan sewaktu-waktu bila debet air meninggi. Batas terendah kedalaman air di waduk ini sekitar enam meter. Selain itu, di kawasan ini ada bangunan kayu semacam gazebo. Di tempat ini sering dimanfaatkan untuk acara-acara seremonial, seperti pekan penghijauan dan lain-lain. Kawasan Bendali II tersebut dibawah pengawasan atau pemeliharaan Kodim 0905/Bpp.

Selain dimanfaatkan waga sekitar RT 113 Kelurahan Sepinggan untuk memancing, air waduk juga difungsikan untuk keperluan sehari-hari. Masyarakat menggunakan pompa air, yang kemudian disalurkan ke water treatment.
Di Bendali II sebenarnya ada larangan untuk berenang. Namun tak jarang anak-anak usia SD bersenang-senang di tempat ini. Karena airnya cukup dalam, waduk ini dianggap berbahaya bagi anak-anak. Peristiwa naas terjadi 16 Desember 2009, dimana seorang bocah tewas tenggelam di tempat ini.

Pohon Mente
Pemandangan Bendali II masih asri, dikelilingi rimbun pohon dan tanaman hasil penghijauan. Letaknya juga berbatasan dengan perumahan Regency. Bila berkunjung ke tempat ini, tentu ada suasana yang berbeda. Cukup tenang, karena agak jauh dari jalan, tak ada suara deru kendaraan.
Berlama-lama di wadah ini memang ada kenikmatan tersendiri. Ada rasa damai. Namun ketika petang perlahan segera beranjak malam, suasana di sekitar waduk kian terasa sepi. Hening menghadang. Saya tak punya nyali untuk meramaikan suasana hati.

Ada cerita mistik dari warga sekitar. Di sebelah kiri gerbang Bendali II terdapat gundukan tanah dimana terdapat pohon jambu mente (jambu monyet) yang daunnya lumayan rindang. Saat proyek Bendali II dimulai, tak ada yang berhasil merobohkan pohon tersebut. Bahkan kabarnya, ada pekerja yang sakit setelah mencoba menebangnya. Walahualam. (*)

Lapang di Meriam Jepang


Minggu pagi itu cuaca cerah seperti diharapkan. Biru langit ditutupi bingkai-bingkai awan putih bergelombang. Meskipun jauh di ufuk barat mendung mencoba mewarnai, namun itu bukan berarti pertanda hujan segera datang. Rasa penasaran kian memuncak pagi itu. Ingin segera melihat meriam peninggalan tentara Jepang saat Perang Dunia II yang meletus tahun 1943. 

Meriam menghadap ke timur
 Mengambil ancang-ancang dari Lapangan Merdeka, Jl Jenderal Sudirman, lumayan berkeringat bila bersepedaria ke tempat tersebut. Melewati Jalan Yos Sudarso (Jalan Minyak), lantas menelusuri jalan Letjen Suprapto hingga ke depan Lapangan Foni, samping Plaza Kebun Sayur. Tak jauh dari situ, berbelok ke arah kanan, yaitu Jalan Hasanudin. Jaraknya kira-kira 8 Km.

Bersepeda dari rute ini, hampir tak ada hambatan berarti. Ada sedikit tanjakan menantang di Jl Yos Sudarso, sekitar sumur minyak Mathilda, yang menjadi asal usul sejarah nama Kota Balikpapan.

Tantangan berikutnya, yaitu di Jalan Hasanudin yang sedikit mendaki. Bagi pesepeda handal, jalan mendaki ini tentu menjadi rute perjalanan yang asik-asik saja.  Namun, nafas akan terasa ngos-ngosan bila tidak terbiasa menempuh jalan mendaki. Dan, siap-siap menuntun sepeda. Saya termasuk yang sempat menyerah, sekalipun panjangnya tanjakan hampir tuntas saya lewati. Ada kesalahan teknis, karena lambat mengantisipasi. Akhirnya stop sebentar, tarik nafas, kemudian melanjutkan pendakian. 

Setibanya di atas bukit, tempat meriam Jepang ini bertengger, kaos di badan saya terasa melekat di kulit. Banjir peluh tak dapat terhindarkan. Sesaat kemudian, tenggorokan sudah terasa segar, basah oleh air bekal.
Sebenarnya sudah lama saya tidak berkunjung ke tempat ini. Lama sekali, tahun 1990. Meriam yang kini menjadi situs benda cagar budaya tersebut berada RT 033 Kelurahan Baru Tengah, Kecamatan Balikpapan Barat. Berada di antara pemukiman penduduk, tak begitu jauh dari Asrama Bukit (Askit), kompleks asrama tentara.
Detil meriam
Ketika berkunjung di tahun itu, di tempat ini rasanya ada dua bangkai meriam. Bentuknya pun tak secantik sekarang. Meriam besi ini diselimuti korosi (karatan) berwarna kecoklat-coklatan, dan ada tumbuhan lumut di sana-sana. 

Tahun 1990 dimana saya aktif sebagai kuli tinta, sempat memanfaatkan latar belakang meriam Jepang ini untuk foto session grup musik lokal  yang cukup terkenal di kota  ini, yaitu Air Borne Band. Grup cadas yang satu ini penampilannya memang agak ‘’sangar’’ ketika di atas panggung. Karena itu saya mengambil foto mereka untuk melengkapi penulisan profilnya di koran Harian Manuntung (media cetak lokal), dengan latar belakang meriam tua. Saya rasa karakternya cukup mengena. Terkesan sangar.

Pemandangan di sekitar meriam peninggalan Jepang kala itu juga tak serapi sekarang. Bangkai meriam ini di sekitarnya ditumbuhi ilalang, bahkan sebagian juga terdapat (maaf) kotoran ayam. Beberapa tahun berselang, ada kabar kalau meriam ini tinggal satu. Ada yang menyebut dipotong-potong warga untuk dijadikan besi tua dan dijual. Sangat disayangkan.

Meriam ini memang berada di atas bukit. Strategi Jepang kala itu meletakkannya di bukit agar leluasa memukul serangan laut tentara sekutu dari Australia. Dari atas bukit ini memang bebas memandang ke arah laut lepas. Apalagi bila diperhatikan, secara teknis meriam dengan dua laras ini mempunyai kemampuan berputar ke semua arah. Seperti jarum jam yang duduk di satu sumbu. Karena itu tak heran, bila konon tentara Jepang sempat melakukan perlawanan hebat melawan tentara sekutu dari tempat ini. Penyerbuan tentara sekutu dari arah laut dibombardir Jepang dari atas bukit tersebut. Meskipun pada akhirnya Jepang harus menyerah dan angkat kaki dari negeri ini setelah Herosima dan Nagasaki luluhlantak dibom atom oleh sekutu.

Masih kokoh meski ada beberapa bagian yang hilang
Di wilayah ini masyarakat lebih mengenal dengan sebutan Gunung Meriam. Ihwal nama itu tak lain karena di tempat tersebut terdapat meriam peninggalan Jepang. Situs cagar budaya tersebut kini terawat dengan baik.  Meskipun ada bagian-bagian kecil meriam yang sudah tak utuh. Bila berada di  samping meriam terasa lapang, tidak seperti dua puluh satu  tahun silam. 
Meriam dicat warna hijau. Sekitarnya diberi pagar pembatas, dan ada papan peringatan dari Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata kota Balikpapan. Bila sore, tak jarang anak-anak warga sekitar memanfaatkan lahan kecil sekitar meriam untuk bermain sepak bola. 

Duapuluhsatu tahun lalu, ketika berada di tempat ini, saya pernah terbersit dalam pemikiran, seandainya meriam peninggalan Jepang ini terawat baik dan dijadikan situs cagar budaya, tentu akan menjadi aset pariwisata kota. Kini, meriam itu sudah dilindungi oleh peraturan pemerintah kota seperti diharapkan. Ada rasa bangga. Tentu, perawatan peninggalan Perang Dunia II ini masih bisa ditingkatkan agar menjadi magnet pariwisata.

Lingkungan sekitarnya juga sudah banyak berubah. Persis di samping meriam Jepang ini, sekarang juga sudah ada reservoir air PDAM yang dibangun tahun 1999. Air ini untuk melayani distribusi masyarakat sekitar. Setahun kemudian (2000) perusahaan air minum milik daerah itu membangun pompa boster di lokasi yang sama untuk meningkatkan layanannya kepada masyarakat dengan kapasitas 1,2 liter per detik. (*)