Jumat, 05 Oktober 2012

BGB Jeli, Semua Ditangani Sendiri


 Jeli membaca peluang. Mungkin kalimat itu yang pas buat Achmad Subirin, pemilik Borneo Green Biker (BGB). Dengan modal yang relatif tidak besar, ia bersama istrinya mencoba mengais rezeki lewat penyewaan sepeda di arena Car Free Day, Lapangan Merdeka Balikpapan. Pendapatannya lumayan buat nambah belanja dapur.

Peluang penyewaan sepeda di CFD
Pagi-pagi sekali saban hari Minggu Achmad Subirin sudah sibuk dengan sejumlah sepedanya. Ia tampak tekun, menyusun dan memajang sepeda-sepedanya di arena Car Free Day (CFD), yaitu arena bebas kendaraan bermotor. Lokasinya persis di ujung Jalan Sport, Lapangan Merdeka Balikpapan. Kemudian ia memasang standing banner promosi, dan membentang spanduk bertuliskan: Disewakan. Spanduk ini diikat memanjang di sepeda. Ia dibantu adik-adik dan keluarga lainnya. 

Penyewaan sepeda ini bukan pekerjaan utama Subirin. Sejatinya ia adalah seorang pekerja lokasi di lingkungan migas, dengan pola kerja dua minggu di lokasi dan satu minggu off. Bila libur ia manfaatkan untuk menggelar penyewaan sepeda. Dan bila ia sedang bekerja ke lokasi, usaha jasa ini dipercayakan kepada adik-adiknya. Namun untuk urusan keuangan dan pencatatan, tetap dihandel sang istri.

Mengisi waktu libur
Penyewaan sepeda ini baru dimulainya setelah Lebaran Idul Fitri 2012 lalu. ‘’Saya terinspirasi penyewaan sepeda di kota-kota besar, seperti Bandung, Jakarta dan Yogja,’’ ujar Achmad Subirin ketika bincang dengan penulis.

Ia mengamati, selama ini di arena CFD banyak sekali warga berolahraga dengan sepeda santai. Dan ini peluang untuk membuka penyewaan sepeda. Berawal modal Rp 12 juta, ia memesan sepeda tandem sebanyak lima unit di Yogyakarta. ‘’Saya pesan dan desain sendiri. Bahan yang digunakan juga besi yang kuat, konstruksinya kokoh. Sengaja dibuat seperti itu karena untuk disewakan,’’ katanya. Bobot sepeda custom jenis tandem ini sekitar 25 kilogram. 

Selain sepeda tandem untuk berboncengan, ada juga sepeda single yang disewakan. Yang single ini sepeda pabrikan dengan berbagai merek. Ada dua jenis, mountain bike (MTB) dan jenis family, sepeda dengan keranjang di depan. Setelah melihat prospek penyewaan membaik, Achmad Subirin kini menambah unit sepeda rentalnya khusus untuk anak-anak. ‘’Peminat sepeda anak-anak memang ada,’’ ujarnya.

Kalau belum terbiasa tandem perlu dipandu dulu
Tarif sewa untuk sepeda tandem Rp 25 ribu per jam, dan Rp 15 ribu untuk setengah jam. Sedangkan sepeda single Rp 10 ribu. Setiap penyewa harus menitipkan KTP-nya atau tanda pengenal lain. Setelah dicatat baru bisa memakai sepeda. ‘’Boleh juga nitip handphone,’’tukasnya. Ia enggan menyebutkan total omsetnya dalam sehari. Namun ia mengakui lumayan untuk nambah belanja dapur.

Beberapa penyewa sepeda BGB  ini selalu ada yang baru. Namun beberapa di antaranya juga pelanggan. Karena sering berjumpa di arena CFD, antara konsumen dan pemilik penyewaan tampak sudah akrab. Meski begitu, tarif sewa tetap dipatok sesuai ketentuan. Tapi ada juga penyewa yang toleransi. Waktu sewa belum habis, ia sudah mengembalikan sepedanya. ‘’Capek mas, cukup setengah jam aja. Gak kuat kalau satu jam,’’ kata Linda, salah seorang penyewa. BGB pun tak kaku terhadap hal-hal seperti ini.

Akrab dengan konsumen
Menariknya, bila ada kerusakan sepeda Subirin langsung menghendel sendiri. Ia membawa perkakas bengkel sepeda. Begitu ada trouble, ia cekatan memperbaiki saat itu juga. Suatu ketika ada sepeda yang rantainya putus saat disewa, Subirin pun langsung menggantikan dengan sepeda yang lain, dan kemudian memperbaiki rantai yang putus. Alumnus SMA Negeri 1 Balikpapan ini tampaknya benar-benar ingin memberikan layanan terbaik buat konsumennya.

Bila diperhatikan, tempat penyewaan milik Achmad Subirin ini terbilang ramai. Bahkan terkadang harus kualahan memenuhi derasnya permintaan konsumen. Penyewa pun sampai ngantri segala. Untuk mendukung promosi usaha ini, BGB mempunyai akun di jejaring sosial seperti facebook dan twitter.

Setelah Subirin sukses, kini muncul penyewaan sepeda lainnya di lokasi berbeda, dekat Tugu Australia.  Tapi masih di arena CFD. Destinasi di Lapangan Merdeka ini memang membuka prospek jasa penyewaan sepeda seperti ini. Ya biasalah, dimana ada peluang maka ramai-ramai menjemputnya. Hanya saja, waktu jualnya relatif pendek. Yaitu dari pagi pukul 06.00 hingga batas akhir CFD pukul 09.00 Wita. Bagaimana kalau hujan? Ya, otomatis bubar-lah. Dan ini sungguh tak diharapkan.

Memperbaiki rantai putus
Jauh sebelum penyewaan Borneo Green Bike, sebenarnya saya sudah punya ide untuk membuat penyewaan sepeda di CFD. Niat itu saya utarakan dengan kawan sekantor Umar Baki dengan maksud joint. Hitung-hitung belajar untuk jadi intreprenuer. Tapi ide tinggal ide. Kalau gak ada realisasinya, sama juga bo’ong. Bagaimana mas Umar? (*)

Kamis, 04 Oktober 2012

Gembira di Gowes Ceria


Ribuan pecinta sepeda berkumpul di halaman parkir Stadion Madya Sempaja, Samarinda. Untuk satu tujuan; gowes ceria spektakuler dengan hadiah utama sebuah mobil Suzuki Ertiga serta seratus lebih sepeda gunung. Inilah perhelatan sepeda yang dibanjiri hadiah.

Ancang-ancang di garis start sebelum menggowes
Pagi itu pukul 05.00 Wita ribuan penggowes mulai berdatangan ke Stadion Madya Sempaja. Mereka bukan saja dari kota Samarinda, tapi juga Bontang, Tenggarong, Sangatta, Penajam Paser Utara dan Balikpapan. Event ini diselenggarakan oleh Kaltim Post, media cetak pertama dan terbesar di Kalimantan Timur yang tercatat paling rajin menggelar event gowes.

Untuk mengikuti acara tersebut, saya sudah berada di kota Samarinda pada malam harinya. Jarak Balikpapan ke Samarinda sekitar 115 kilometer. Tiba malam pukul 23.05 Wita, langsung istirahat, dan subuh pukul 04.30 sudah siap-siap menuju lokasi acara. Di Hotel MJ tempat kami menginap juga banyak peserta yang ambil bagian di acara tersebut. 

Gowes Ceria Spektakuler memperingati Hari Lingkungan Hidup ini diperkirakan diikuti enam ribu lebih pesepeda. Luar biasa. Pesertanya beragam. Ada anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan sampai kakek pun ikut menggowes. Para pejabat tak ketinggalan, seperti Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak yang ikut berbaur di antaraa peserta. Bendera start diangkat pukul 06.45 Wita.

Nyantai yang penting sampai
Begitu membeludaknya peserta, sampai-sampai lokasi start terasa padat. Peserta tumpah ruah. Saking rapatnya, sehingga sulit mencari celah untuk mendahului. Sampai sekira satu kilometer, barulah kepadatan jarak antar peserta agak renggang. Saat itulah baru bisa menyalip.

Rute gowes kali ini lumayan puanjaaang. Melintasi Jalan Wahid Hasyim, Jalan M Yamin, Jalan dr Sutomo, Jalan Pahlawan, lalu ke arah Jalan Bhayangkara, Jalan Basuki Rahmat 2,  Jalan Agus Salim, kemudian ke Jalan Gatot Subroto, Jalan S Parman, dan kembali ke Jalan M Yamin,  dan terakhir melewati Jalan KH Wahid Hasyim hingga ke halaman parkir Stadion Madya Sempaja.  Sebagian jalan yang dilewati berdebu. Sayangnya, rute ini tidak melintasi jalan di pinggiran Sungai Mahakam.

Sepanjang jalan terasa sesak oleh peserta. Ada juga beberapa di antaranya yang harus menuntun sepeda ketika berada di tanjakan. ‘’Sudah lama nih gak naik sepeda. Jadi gak kuat,’’ kata salah seorang peserta. Ia terkesan berusaha memberikan alasan kenapa mendorong sepeda. 

Rutenya kurang menantang
Ada juga peserta yang jepret sana jepret sini dengan kamera handphone-nya, sembari turun dari sepeda. Agak narsis. Mungkin juga ini semacam alasan, tak kuat menanjak, lalu turun dari sepeda dan merogoh handphone. Pemandangan lainnya, ada peserta turun dari sepeda saat nanjak, lalu menunduk memperhatikan gir dan rantai sepeda. Seakan-akan sepedanya yang tak support untuk mendaki. Ada-ada saja.

Ada pula yang sok tangguh memacu sepeda dengan cepat sekali. Setelah itu berhenti, terduduk di pinggir trotoar. Ada juga yang nyantai-nyantai saja, seperti kelompok ibu-ibu. ‘’Gak usah laju-laju mas, yang penting sampai ke finish,’’ tukas seorang ibu, ketika saya terburu-buru menyalip. 

Praktis, rute yang ditempuh kurang menantang. Tapi ini baik, karena pesertanya beragam. Saya yang mengambil start nyaris di deretan terakhir berusaha untuk memacu cepat sepeda. Selain medan jalannya tak begitu berat, ada rasa narsis ingin dekat-dekat dengan rombongan pejabat. Kebetulan mereka berada di barisan terdepan dan dikawal oleh petugas pembuka jalan.
Gowes Ceria yang banjir hadiah
Tapi apa lacur? Insiden kecil terjadi. Praaakk…saya menyenggol gerobak tukang sayur yang kebetulan melintas di depan Pasar Segiri. Ampun!  Untungnya gak terjatuh, meskipun sepeda sempat oleng. Huhh... Jalan di tanjakan itu memang agak menyempit, karena beberapa angkutan kota turun naik penumpang. Lagian tidak nampak petugas pengatur jalan.

Saya kembali memacu laju sepeda dengan nafas yang tersengal-sengal. Tak pakai tengok kiri kanan, terus meluncur. Agak memaksa. Iring-iringan peserta begitu panjang. Terus menggenjot, tapi kok belum ketemu rombongan pejabat ya? Tapi saya tak putus asa, terus memacu. Dan akhirnya tersusul juga, tapi persis di Jalan M Yamin. Ini hampir dekat garis finish di Stadion Sempaja. Agak lega sih. Rombongan pejabat ini tak laju-laju amat.
Begitu masuk garis finish, otomatis berbarengan dengan rombongan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak. Ada juga Walikota Samarinda Syaharie Jaang, Direktur Utama BPD Kaltim Zainuddin Fanani, Chairman Kaltim Post H Zainal Muttaqin, dan CEO Kaltim Post Ivan Firdaus. Sampai di stadion disuguhi pisang rebus, ubi rebus, dan kacang rebus. Muantaaap.

Iwan menerima simbolis kunci Ertiga
Ribuan peserta ini dihibur musik dari B-One. Sebelum pembagian doorprize, beberapa pejabat naik ke panggung, joget dan pamer suara. Gubernur menyumbangkan 2 lagu, berjudul Ini Rindu dan Cucak Rowo. Acara benar-benar meriah. Sebagian peserta pun ikut berjogetria.
Satu demi satu hadiah dicabut. Karena banyak, jadi lumayan memakan waktu. Bayangkan saja, hadiah sepeda gunung ada 105 unit, 2 sepeda motor, lemari es, televisi, dan puluhan peralatan elektronik. Sementara grand prize-nya satu unit mobil Suzuki Ertiga. 

Lantas siapa yang berhak memboyong Ertiga? Doorprize utama ini dicabut oleh gubernur, namun disimpan di dalam amplof. Pada puncak acara baru dibacakan kemudian. Yang beruntung mendapatkan mobil Suzuki Ertiga adalah Iwan Budiono. Selain Budiono, Muhammad Nur, warga Jalan P Suryanata juga mendapat satu unit sepeda motor Mio Sporty. 

Tak terasa hari sudah siang. Peserta pun bubar masing-masing. Ada yang tampak girang karena membawa pulang hadiah. Secara keseluruhan gowes ceria minggu pertama Juli 2012 itu benar-benar meriah. Sukses. Salut untuk panitia. Acara ini didukung oleh BPD Kaltim, Pemkot Kaltim, Pemkot Samarinda, Big Mall Samarinda, PT Surya Timur Sakti Jatim, dan Wim Cycle. Okey, sampai jumpa di gowes spektakuler lainnya. (*)


Tak Ada Firasat

Iwan Budiono benar-benar terperanjat. Ia melemparkan topinya ke udara bertanda kegirangan. Pria berbadan gempal inilah yang paling beruntung pada event Gowes Ceria Spektakuler. Ayah satu anak ini membawa pulang hadiah utama mobil Suzuki Ertiga.

Rezeki nomplok, langsung tancap
 Begitu nomor tiket doorprize di tangannya dengan nomor 0114389 disebutkan oleh pembaca acara, tangan Iwan gemetar. Ia amati baik-baik, apakah benar yang disebutkan tersebut kupon yang sedang dipegangnya.


Sontak, seraya berteriak kegirangan Iwan berlari tergesa-gesa menuju panggung. Ia acungkan tangannya ke atas sembari memegang kupon. Kawan-kawannya di Bankaltim Funbike Community pun ikut tenggelam dalam histeria kegembiraan.

Simbolis kunci hadiah utama itu langsung diberikan kepadanya oleh Direktur Kaltim Post Rusdiansyah Aras. 

“Rasanya masih gak mungkin saya dapat hadiah mobil. Saya  gak ada firasat apa-apa, gak ada mimpi aneh-aneh,” ucap pria berusia 34 tahun yang tinggal di Perumahan Pondok Sambutan Permai BM 3 ini.
Apakah hadiah mobil Ertiga mau dijual, atau dipakai sendiri? “Ya, mobil ini nanti mau saya pakai untuk bekerja,” ucapnya. Ia langsung bergaya duduk di dalam mobil baru tersebut, kemudian difoto.
Sehat ia dapatkan, gembira diraih, dan rezeki mobil di tangan. Komplit dah. Selamat ya Wan. (*)




Selasa, 02 Oktober 2012

Perlu Pamit di Kebun Sawit


buah manggis dalam kerudung
kebelet pipis jadi bingung…
…sayur pakis dijual di pasar
mau pipis, kebun sawit (pun) disasar


Pohon sawit di Karang Anyar
Paling nggak nyaman ketika sedang gowes kebelet pipis. Suer! Ini yang saya alami ketika bersepeda muter-muter kota. Bingung. Lantas apa yang harus diperbuat? Tak ada toilet umum, juga tak ada tempat yang pas. Uih… makin ditahan, makin tak nyaman. Gimana dong?

Sementara kaki terus mengayuh pancal sepeda. Makin kebelet pipis, makin laju menggenjot sepeda, berharap akan berjumpa dengan toilet tempat buang hajat. Kalau saja berada di sekitar fasilitas umum atau pusat perbelanjaan, tentu bukan masalah. Tapi yang terjadi saya sedang berada di jalan raya. Pagi-pagi sekali. Jalan pun belum ramai seliweran kendaraan.

Inilah risikonya bila mau gowes tak buang air kecil dulu. Ya begini jadinya. Begitu kebelet jadi bingung sendiri. Toh nggak mungkin kan pipis di celana? Hi.., jorok!
Rasa ingin pipis itu sebenarnya sudah saya rasakan sejak awal mengayuh sepeda. Tapi rasa itu diabaikan.  Paling-paling akan ketemu tempat pipis di saat perjalanan nanti. Begitu yang ada dalam pikiran. Celakanya, sudah mengayuh sepeda sampai lima kilometer, belum juga ketemu toilet. Oalah. Bisa kacau!

Tumbuh subur
Rasa kebelet sudah menggoda saat melintasi Jalan A Yani. Rasa-rasanya kantung kemih mau pecah saja.Dan rasa itu makin memuncak ketika berada di bundaran tugu nol kilometer di Muara Rapak. Saya mengayuh sepeda sekencang-kencangnya sembari merapatkan sedikit kedua selangkangan. Dengan cara seperti itu setidaknya sedikit mengurangi rasa ingin pipis. Apa iya bisa begitu? Yang namanya kebelet, tetap saja kebelet. Nggak bisa ditawar-tawar.

Sepeda pun meluncur cepat. Persis berada di pertigaan traffic light Karang Anyar, Jl Yos Sudarso, saya tengok kiri tengok kanan. Tanpa disuruh saya langsung menerabas masuk ke kebun kelapa sawit. Kebun? Ya, kebunlah, bukan pasar!  Di sini ternyata ada kebun kelapa sawit. Pagi itu masih sepi sekali. Sejurus kemudian, seer...pipis deh. Saya buang air kecil di tempat itu tak perlu pamit. Sebab tak ada orang. Yang penting: lega uey…

Sungguh, ini pengalaman yang paling berharga. Setidaknya kalau ingin gowes jarak jauh harus buang air kecil dulu. Kalau tidak, ya begini kejadiannya. Ini peringatan keras bagi penggowes maniac. Jangan kencing sembarangan. Ingat itu!

Siapa yang akan memetik?
Di bawah rindang kebun sawit itu udaranya sejuk. Tapi kok ada ya kebun seluas ini di tengah kota? Kebun ini milik siapa? Di situ ada sekitar 420 pohon sawit yang sudah tinggi dan sepertinya sudah beberapa kali dipanen. Tersusun rapi. Berbaris dengan jarak sekitar 9 sampai 10 meter antar pohon.  Sepertinya mengabaikan pola tanam sawit segi tiga sama sisi.

Puluhan pohon saya lihat masih ada yang berbuah. Warnanya cokelat. Saya nggak tahu persis, apakah kebun ini sudah pernah dipetik buahnya. Kalau ya, dijual kemana? Dan, siapa yang memetik? Anda ada yang tahu?

Setahu saya, tanah seluas ini dulunya adalah kompleks perumahan karyawan Pertamina. Pernah terbakar sekitar tahun 80an. Kemudian dibongkar dan diratakan. Setelah itu, lahan ini dijadikan buffer zone kilang minyak Pertamina UP V Kalimantan, dan ditanami pohon kelapa sawit. Lahan yang kosong itu kini hijau dengan ratusan pohon sawit. Tumbuh subur dan berbuah.

Pohon sawit ini terus berbuah
Andaisaja ada sejumlah lahan kosong di dalam kota Balikpapan yang ditanami pohon kelapa sawit, alangkah baiknya.  Selain jadi kawasan hijau dan menjadi daerah tadah hujan, buah sawit juga bisa mendatangkan keuntungan.

Memang,harga jual tandan buah segar kelapa sawit di Kalimantan kini cenderung fluktuatif.  Dan tahun ini terjadi penurunan tajam. Menurut info, harga jualnya di bawah Rp 1.500 per kilogram. Hal itu seiring dengan menurunnya harga jual tiga komoditas ekspor unggulan, yaitu batubara, karet dan minyak kelapa sawit mentah. Padahal, ketiga komoditi ini tahun lalu menyumbang devisa 32,80 miliar dolar AS, atau lebih dari 16 persen dari total ekspor nasional. Katanya, ini dampak krisis ekonomi global. Tentu, harga jual kelapa sawit yang turun  tidak ada hubungannya dengan kebelet pipis. Ha ha.ha.. hi… hi…. Hust! (*)

Haru Biru di Lamaru Baru


Cahaya pagi mulai menjemput siang. Butir-butir keringat jatuh tak berbekas, beriringan laju putaran roda sepeda. Mengayuh melintasi jalan panjang, kemudian berpacu menerobos sinar mentari dari timur. Pasir putih membentang menyapa, ditingkangi sepoi angin bertiup yang tak pernah tertoreh. Di sana, di Pantai Lamaru.

Pantai Lamaru yang luas membentang
Pagi-pagi di penghujung September 2012, saya kembali mengayuh sepeda ke ujung timur kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Tujuannya adalah Pantai Wisata Lamaru. Lumayan jauh. Jaraknya sekira 26 kilometer dari pusat kota. Tak ada halang merintang. Aspal jalan pun mulus. Debu-debu sisa semalam terseret angin pagi. Menjelma kesejukan.

Memacu sepeda dengan kecepatan sedang terukur, saya menikmati perjalanan kali ini. Meskipun sendiri, suasana perjalanan di sepanjang Jl Mulawarman cukup menghibur. Rasa lelah nyaris tak menghinggap di badan. Apalagi rasa penasaran kian memuncak. Penasaran akan Pantai Wisata Lamaru yang kini berwajah baru.

Ada rindu menjemput pantai
Setiba di gerbang pantai wisata tersebut, hati terasa kian lega. Jalan ke arah pantai semakin baik. Meskipun belum berlapis aspal, batu-batu kecil tergelar rapi.  Jalan ini jauh lebih baik dibanding sepuluh tahun terakhir. Pantai wisata ini dikelola swasta. Milik HM Jos Soetomo, pebisnis dari kelompok usaha hotel Bumi Senyiur. Lahan seluas 13 ribu hektare itu kini dikelola secara profesional, dan memancing daya tarik pemburu wisata pantai. Tertata apik. Ada permainan banana boat, kereta kuda, all-terrain vehicle (ATV), club car (golf car) serta flying fox dan fasilitas lainnya. Kedai-kedai siap saji tertata rapi.
 
Pantai Lamaru memang menyimpan sejuta kenangan. Di pantai ini, 20 tahun lalu, masih tampak lengang. Biru ombak dan bulir-bulir gelombang pecah yang terbias sinar matahari bagaikan mutiara yang terhampar di pasir putih membentang. Garis horizontal  terpajang luas dari ufuk timur ke ufuk barat. Ratusan batang pohon cemara menjulang tegak, rimbun daunnya diterpa angin melahirkan bunyi. Duh, ada keindahan tersembunyi.

Hamparan karang kecil mewarnai Lamaru
Saya punya kenangan manis ketika bersama rombongan production house dari TVRI Nasional, untuk membesut pemandangan indah Pantai Lamaru yang landai. Penggarapan program tayangan musik diproduseri Isti Dary Sofia dengan bintang tamu artis bersuara emas, Yuni Shara. Mba Yun –ketika itu, belum setenar sekarang.  Ihwal; pantai Lamaru sudah terpromosikan secara nasional.

Sekian tahun kedepan Pantai Lamaru yang semula sepi, tumbuh dengan pondok warung pantai. Bangunan sederhana dengan tiang bambu beratapkan daun nipah. Mengabaikan estetika.
Bila laut pasang turap untuk memancing

Meski begitu, potensi wisata pantai mulai menyeruap. Di hari-hari penghunjung pekan, pantai ini semakin mematri pengunjungnya. Anak-anak berlari girang dan berkecipak air di pantai. Ada juga yang senang berenang dan sekadar menikmati semilir angin yang tak kenal lelah. Pemandangan lain, nelayan tua mencari nener (bibit ikan bandeng) di genangan air payau. Selain menyaji rezeki, Lamaru juga memberi kesan damai.

Pagi itu, pikiran saya benar-benar dibalut masa-masa lalu Lamaru. Sekian detik menerawang, dan kemudian hilang dihempas angin. Sungguh, pantai ini menggali imajinasi.

Pantai Lamaru sekarang tetap menyimpan keindahan tersendiri. Di pantai itu kini ada bentangan turap sepanjang 120 meter yang  memisahkan antara pasir pantai dan garis ilir sungai. Kala sore menjelang petang, banyak warga membunuh sepi dengan memancing ikan di sini. Bongkahan batu gunung tersusun rapi dan direkat kayu ulin itu tampak kokoh, meski diterjang ombak bertubi.

Jadi pembatas pantai Lamaru dan bibir sungai
Tak ada lagi warung-warung penduduk sekitar sini, sejak pantai wisata ini ditutup awal November 2011 lalu.  ‘’Sejak ditutup itu kami tidak bisa berjualan seperti dulu lagi,’’ kata Wati, wanita paro baya.
Namun bukan bertanda nasib penjaja makanan ini kian muram.  Setelah pantai Lamaru diperbaharui dan terbuka umum tahun 2012, Wati justru berjualan pada tempat yang jauh lebih baik. Dengan bangunan semi permanen dan fasilitas yang sangat baik pula. 

‘’Alhamdulillah, sekarang bisa berjualan lagi,’’ katanya saat bincang sembari menyuguhkan es kelapa muda. Bila dulu ia berjualan di pantai tak perlu menyewa, sekarang dipatok tarif Rp 350 ribu sebulan. Itu belum termasuk fasilitas lemari pendingin.
Ada udang di balik terumbu

Wanita yang sempat tiga bulan bolak-balik ke kota untuk mengikuti kegiatan program lifeskill khusus gakin (keluarga miskin) dari pemerintah kota ini mengaku bersyukur, dua anaknya kini menjadi pegawai pengelola  pantai wisata tersebut dengan pendapatan yang lumayan. 

Kehadiran pantai Lamaru dengan wajah baru ini, sedikitnya turut memecahkan persoalan perekonomian warga sekitar. Ada keharuan menyeruak. Bahkan, retribusi pantai Lamaru menjadi salah satu andalan atas Pendapatan Asli Daerah (PAD) Balikpapan. Pengelola pun tetap mempertahankan eksotik pantai, termasuk memelihara peninggalan bersejarah yang ada di lokasi pantai, semisal bangker Jepang peninggalan Perang Dunia II.

Peninggalan bangker Jepang yang terawat
Sekarang pantai Lamaru lebih representatif. Tarif masuk Rp 5 ribu per orang. Namun terhitung 1 Oktober 2012 lalu, dinaikkan menjadi Rp 8 ribu, sudah termasuk free pemakaian toilet. Sedangkan mobil roda empat dikenakan Rp 15 ribu.

Hari itu saya berdiri di ujung pantai, melawan dorongan angin. Lantas menikmati bersepeda di pasir pantai yang basah nan lenggang.  Ada kegembiraan tak tertakar.  Pegal kedua pangkal kaki pun tak terasakan. Kemudian berpijak di hamparan karang-karang muda terpahat alam.  Aroma khas biota laut terasa merayap ke hidung. Di sela bebatuan ada riak-riak kecil. Ada pula suara tak tik tak tik, pertanda ada udang batu bersembunyi di balik terumbu.

Waktu memang menyembunyikan keasyikan di pantai. Tak terasa matahari sudah berdiri tegak. Siang itu saya bergerak pulang ke kota.

Kini pantai Lamaru tak punya cerita lagi tentang pencari nener. Tak ada lagi warung-warung beratapkan daun nipah. Semua tergantikan dengan suara motor ATV, speedboat, mobil golf dan ringkik kuda.
Bayang-bayang masa lalu seakan melambai ketika saya meninggalkan pantai dengan ratusan pohon kelapa, ladang petani dan rumah-rumah penduduk. Saya mengayuh cepat sepeda dan tak menoleh lagi ke belakang. Menitipkan rindu laut pada pantai dalam ketenangan hati. (*)

Pantai Lamaru baru yang kian memanjakan pengunjung dengan berbagai hiburan.