Rabu, 15 April 2015

Sesat di Bukit Komendur

Aston Balikpapan Hotel & Residence di Jalan Sudirman, Pasar Baru, Balikpapan, memang memiliki venue dengan keunggulan view pantai. Pelataran apartemen di kawasan Grand Sudirman ini sungguh asik dijadikan tempat berkumpul bagi komunitas. Puluhan anggota Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post pun bersepeda bareng di sana, Rabu (25/2).

RGC sebelum gowes di pelataran Aston Balikpapan

INI sudah kali kesekian Aston Balikpapan menjadi host RGC. Karena letaknya di jantung kota, sangat memudahkan bagi anggota RGC untuk menuju muster point. Para pegiat mountain bike ini pun lebih banyak yang memilih bersepeda dari rumah masing-masing untuk menuju Aston.

Rute yang ditempuh sore itu onroad Jalan Jenderal Sudirman ke arah Pelabuhan Semayang. Dari Aston hanya sekira 4,5 Km. Kemudian mendaki tanjakan mercusuar di Tukong Hill atau Gunung Komendur. Menggowes sampai ke bukit lumayan memeras keringat, namun saat berada di ketinggian ini terhibur pemandangan laut Teluk Balikpapan yang indah dan terkesan damai. Karenanya, pantas pula bila Balikpapan berhasil mengalahkan Paris sebagai Kota Paling Dicintai di Dunia versi WWF (World Wildlife Fund).


Terhenti di situs makam di Tukong Hill.
Bubuhan RGC lalu merangsak ke jalan setapak yang rindang pepohonan menuju situs makam Adji Kemala Gelar Adji Pangeran Kerta Intan bin Sultan Adji Mohamad Sulaiman. Cagar budaya ini merupakan makam putra Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-19 Adji Mohammad Sulaiman yang memerintah tahun 1850 hingga 1899.

Buntu, maka kembali putar arah
Ada imbauan di makam yang diselemuti kain kuning ini tak boleh mengenakan pakaian kuning dan merah. Syukurnya tak ada anggota RGC menggunakan jersey dengan warna yang dimaksud. Sampai di makam ini, iring-iringan terhenti beberapa saat. Pasalnya tak ada jalan tembus. ‘’Wah, kita tersesat nih,” celetuk seorang anggota rombongan.

Tak ada akses jalan, kecuali trek turunan ekstrem di kawasan hutan kota itu yang lama tak dilewati. Ada beberapa rintangan seperti batang pohon yang melintang. “Kami pernah lewat jalan ini, dulu masih bagus. Sekarang sudah sulit dilewati,” ujar Untung, goweser yang memandu rombongan untuk mencicipi trek terjal tersebut.

Turunan sepeda pun harus dituntun
Hanya beberapa pesepeda menerjang single track dengan kemiringan tajam itu, namun sebagian besar mengurungkan niat untuk ikut menerobos. Pilihannya adalah kembali arah kemudian melintas di pemukiman warga di Kampung Pelayaran.

Tujuan  rombongan selanjutnya adalah mendaki ke kompleks perumahan Pertamina di Gunung Dubbs, kemudian melintas ke Prapatan dan Jalan Tanjungpura, Jalan Pierre Tendean, lantas menyusuri Jalan A Yani (Gunung Sari) dan berakhir di arena kolam renang Aston. Sampai di finish petang. Ada jamuan menggugah selera dari manajemen hotel bintang empat yang memiliki keunggulan view laut tersebut. Rombongan rehat sembari bercengkerama ditemani sepoi angin pantai dan pemandangan langit senja.


Hanee newbie RGC ikut tuntunbike
NEWBIE
Di sela-sela rehat, leader Yoyok Prihandoyo mengatakan rute gowes mingguan RGC ini sebenarnya dibagi menjadi dua.  Ada rute panjang untuk anggota lama, dan ada jalur pendek untuk pendatang baru (newbie). Durasi gowes kurang lebih 90 menit, dengan jarak tempuh rata-rata mencapai 20 Km. Trek yang dilintasi kombinasi onroad dan offroad.

Jadi, katanya, bagi penghobi sepeda yang ingin bergabung namun alergi dengan jalan berbukit, gak masalah. Disarankan untuk memilih rute newbie.

Hati-hati saat turunan menukik
Ia mengakui, rute yang ditempuh RGC setiap gowes bareng Rabu memang tak pernah lepas dari santapan tanjakan, dan trek ekstrem. “Tapi tidak semua tanjakan harus dilewati goweser. Yang belum mampu, tak perlu malu untuk menuntun sepeda ke atas. Begitu juga pada saat trek menurun yang curam, kalau belum berani ya jangan dilewati. Sepeda digiring saja,” sarannya.

Dikatakan, setiap gelaran RGC selalu ada tim sweeper yang mengawal iring-iringan gowes.  Bila sepeda anggota ada yang bermasalah akan diatasi bersama. “Mereka yang tertinggal di belakang pun selalu ditunggu oleh sweeper,” ujar Yoyok.

Rehat di anjungan Aston ditemani sepoi angin
Ia juga berharap agar anggota RGC terus mendukung tertib berlalu lintas. “Selama perjalanan rombongan tidak dibenarkan memacu cepat sepedanya, khususnya bila berada di perkampungan warga.’’

Tempat berkumpul atau muster point RGC ini saban minggunya berganti-ganti. “Tergantung kesepakatan dan undangan dari anggota rombongan. Biasanya pemberitahuan lewat Kaltim Post, SMS atau broadcast di smartphone dan sosial media,” katanya.

Yoyok mengatakan, selain gowes bersama pada Rabu sore pukul 17.00 Wita, RGC juga kerap menggelar ekstra gowes pada hari Minggu atau hari libur nasional. “Ekstra gowes biasanya mengambil rute panjang keluar kota,” ujarnya.

Keanggotaan RGC terbuka umum dan segala usia. “Siapa saja yang punya hobby bersepeda bisa bergabung,” kata Yoyok. Anggota RGC kini berjumlah seratus lebih, terdiri dari berbagai kalangan, seperti pengusaha, eksekutif muda, pejabat, pekerja profesional, anggota TNI dan Polri, kalangan akademisi, artis, mahasiswa, pelajar, hingga atlet sepeda. Mereka juga terhimpun dari beberapa komunitas MTB, seperti Blue Bike Community (BBC), A-Team, Mudhog, Bike Bike Saja (BBS), Kawan Bike Shop (KGS), Aquatic 128, Hobic, Astra Gowes Community (AGC), Bank Permata, Le Grandeur, Blue Sky Hotel, Grand Jatra, Aston Balikpapan, Prudential, dan IBM. (yas)

Kamis, 26 Februari 2015

Uji Nyali di Trek Terjal

Selain melatih syahwat andrenalin dan mengasah keterampilan memegang kendali menaklukkan trek menurun, pesepeda downhill (DH) juga memerlukan kelenturan tubuh. Mereka merenda kesenangan pada trek terjal dengan rintangan menantang..
Dropoff dengan receiver hingga 7 meter

BILA anda seorang goweser, trek menantang mana yang akan dipilih: tanjakan atau turunan? Keduanya sama-sama membutuhkan skill. Namun, lintasan turunan akan menjadi pilihan pasti bagi downhillers. Mereka anti tanjakan dan akrab dengan trek-trek curam. Sepeda di-loading ke atas bukit tinggi, kemudian berselancar bebas dengan kecepatan tertentu. Rem dipergunakan pada saat diperlukan saja.


Latihan dengan panjang trek terbatas
Meluncur dengan cepat bukan berarti mulus begitu saja. Tapi ada rintangan ekstrem drop off tinggi yang harus dilompati, tikungan berm dengan kemiringan tertentu, dan obstacle yang harus diterabas. Keterampilan mengendalikan sepeda memang sangat dibutuhkan. Selebihnya bernyali.

“Bukan sekadar meluncur di turunan, tapi dengan teknik kendali dan pedaling yang baik. Sepeda dipancal pada kecepatan terkontrol, dengan emosi yang terjaga. Kelenturan tubuh dan endurance juga sangat diperlukan,” ujar Ketua Balikpapan Freeride (BFR) Pandji Arga.


Loading dengan tuntun sepeda
Bermain DH, katanya, juga mesti didukung dengan sepeda yang mumpuni. Setidaknya kepakeman rem. Salah menggunakan rem depan pun bisa over the bar (OTB) alias jumpalitan. Selebihnya harus didukung dengan keamanan diri yang baik, seperti helm full face, kacamata goggles, sarung tangan (full finger gloves), pelindung kaki, serta body protector.

BFR saban Minggu berlatih di lintasan mini downhill, kawasan Bendungan Pengendali (Bendali) 3, Jalan MT Haryono Dalam. Pada trek alam di lahan milik masyarakat ini BFR sekadar pinjam pakai. “Kebetulan bukit yang ada di situ sudah layak untuk dijadikan trek downhill. 

Sebagian elevasi kami tata agar sesuai standar kompetisi. Itu pun dengan anggaran swadaya para anggota,” katanya. Ia menyebut, rintangan latihan yang ada di trek Bendali 3 salah satunya drop off setinggi 2 meter dengan receiver sepanjang 7 meter. Ini cukup untuk memenuhi standar kompetisi tingkat nasional.


Ingin berprestasi fasilitas terbatas
Sayangnya, lanjut Pandji, panjang lintasan yang ada belum memenuhi syarat. Hanya sekitar 600 meter. Loading ke atas bukit juga dilakukan dengan manual alias tuntunbike. “Kami butuh panjang trek satu hingga dua kilometer untuk latihan,” pungkasnya.

BFR sedang menjajaki untuk membuat trek DH di lahan milik Pemkot, seperti di kawasan hutan kota. “Kami ingin meminjam lahan, tapi tidak akan merusak vegetasi hutan. Seperti menebang pohon. Lintasan sepeda akan didesain menyesuaikan dengan kontur yang ada. Ini justru lebih menarik dan alami,” katanya. Ia berharap dengan ketersediaan lintasan DH yang standar kelak akan melahirkan atlet-atlet freeride dari daerah.


Meskipun minimalis BFR tetap eksis berlatih
BFR memang satu-satunya komunitas pesepeda DH di Kota Minyak sejak 2006. Sebelumnya bernama Borneo Freeride. Anggotanya hanya 20-an orang. Ada pelajar, mahasiswa, pelaku bisnis hingga profesional muda.  “Jumlah anggota kami terus bertambah. Semula hanya beberapa orang, kini sudah mencapai 20-an pesepeda,” ujar Pandji.

Menurutnya, peminat freeride di Balikpapan sebenarnya cukup banyak. Hanya saja mereka lebih sekadar hobi, bukan untuk prestasi. “Di BFR kami melakukan pembinaan untuk para junior. Selain berlatih bersama juga acap kali kami memberikan coaching. Terutama bagi pemula,” ujar Pandji.


Penulis mencoba trek Bendali
Beberapa rider di BFR pun sering tampil di sejumlah ekshibisi dan perlombaan downhill, baik yang diselenggarakan di Kalimantan maupun di Pulau Jawa. “Beberapa kejuaraan telah kami ikuti. Ini untuk menambah pengalaman kawan-kawan BFR,” tukasnya.

Menurut Pandji, perhatian pemerintah atas cabor sepeda yang satu ini cukup baik. “Pengurus ISSI Balikpapan juga memfasilitasi kami untuk perlengkapan berlatih dan pertandingan, seperti satu unit sepeda downhill,” katanya.

Meskipun komunitas freeride di Balikpapan terbilang masih kecil, namun Pandji berharap BFR bisa menjadi wadah pembinaan prestasi. “Niatan kami ke depannya seperti itu. Agar kelak ketika ada kejuaraan tingkat lokal maupun nasional, tak mesti meminjam atlet downhill dari luar. Akan kita buktikan bahwa putra daerah juga mampu tampil,” ujarnya.

Pandji Arga ketua BFR
Banyak yang mengakui bermain sepeda DH memang membutuhkan nyali lebih. Terutama saat akan melintasi turunan curam yang mendebarkan bagi pemula. Namun menurut Risa Suseanty, si ratu downhill Indonesia, dengan latihan yang benar dan proteksi yang maksimal, maka akan memupuskan keraguan itu. “Turunan terjal itu bukanlah hal yang menakutkan,” kata brand ambassador Thrill Agent ini. (*)


Sebagian trek di Bendali masih hijau

Selasa, 24 Februari 2015

Libas Bukit Pasir Tanjung Harapan

Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post Balikpapan kembali meniti trek panjang. Kali ini touring ke pantai wisata Tanah Merah, Kelurahan Tanjong Harapan, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Kumpulan komunitas pegiat sepeda gunung ini menaklukkan tantangan dengan menempuh sekira 100an Km.

Udara segar di sekitar Tanjong Harapan. 
MINGGU (15/2) pagi pukul 07.00 Wita bubuhan RGC sudah berkumpul di parkiran Ace Hardware, pusat perkakas serba ada di Jalan Jenderal Sudirman. Ada 15 goweser siap-siap menjelajah ke arah timur Balikpapan. Tujuannya adalah pantai wisata Tanah Merah di Kelurahan Tanjong Harapan, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Jalur offroad  butuh endurance prima.

Dari belasan penunggang mountainbike (MTB) itu, ternyata hanya 10 goweser yang menyelesaikan touring Balikpapan-Samboja pergi pulang. Selebihnya memutuskan kembali saat pertengahan jalan lantaran terbentur waktu terkait urusan pribadi.
Trek becek perlu teknik

Pagi yang cerah mendukung perjalanan pegiat MTB ini. Mereka menelusuri puluhan kilometer trek beraspal  di Jalan Sudirman-Jalan Marsma Iswahyudi-Jalan Mulawarman, hingga menapaki enam kilometer jalan cor-coran di kawasan perkampungan warga  pantai Ambalat (Amborawang Darat). Obyek wisata ini merupakan perbatasan antara Balikpapan dan Kutai Kartanegara (Kukar).
Licin mesti hati-hati
Dari Ambalat inilah iring-iringan goweser menjelajahi trek offroad. Mereka menyisir jalan double track di sekitar bukit-bukit kecil berpasir putih yang membelah di antara bentang hutan savana. Tampak pula pemandangan bongkahan-bongkahan tanah dengan lubang besar sisa galian penambangan pasir.

Perjalanan lintas alam mengasikkan ini menyemangati rombongan kecil tersebut untuk segera sampai di pantai Tanah Merah, Tanjong Harapan. Tak ada tantangan berat, kecuali trek berpasir yang agak sulit digowes. Sebagian pesepeda tuntunbike, selebihnya memaksa melibas trek pasir basah sisa hujan. Memancal di medan seperti ini tentu memerlukan energi lebih, pasalnya kedua roda sepeda sedikit terbenam air. 
Melintasi single track di lereng pasir 
Selain tenaga dan keseimbangan prima, penggowes juga butuh kesabaran ekstra.
Di kawasan ini sebelumnya banyak masyarakat menambang pasir kuarsa atau pasir silika yang diperuntukkan material pembangunan, atau keperluan sandblasting untuk pembersihan kerak karat.
Melewati jalur berpasir ini ternyata berisiko juga. Butiran pasir basah itu merekat di rantai, crank, dan sprocket. Kayuhan sepeda akhirnya diiringi suara gerisik yang tak nyaman, dan hal ini ditengarai bisa membuat rantai cepat haus.
Mendaki hutan dan padang savana  .
Setiba di pantai Tanah Merah, pegiat sepeda ini langsung membersihkan sepeda masing-masing. Saat rehat rombongan RGC juga sempat berjumpa dengan tim MTB dari Senipah, dan makan siang bareng di salah satu kedai di pantai wisata tersebut. Ditemani sepoi angin pantai, mereka menyantap Bakso dan Soto Banjar. Lumayan untuk menambah tenaga.


Antri lewati jembatan ulin
Untuk menghindari risiko kerusakan sepeda lantaran medan berpasir tadi, akhirnya rombongan kecil ini memutuskan kembali ke Balikpapan melalui jalur onroad alias beraspal.

Menempuh puluhan kilometer dari Samboja dengan  menaklukkan beberapa tanjakan, bubuhan RGC yang sempat diterpa dehidrasi ini baru tiba di Balikpapan ketika matahari sudah meninggi. 


RGC dan kawan-kawan MTB dari Senipah 
Mereka pun langsung menghadiri undangan santap siang di Kawan Bike Shop (KBS) Sepinggan yang kebetulan sedang ada hajatan. Sekaligus ‘’opname’’ empat sepeda yang perlu dioprek-oprek lantasan trouble. Di KBS ada hidangan makan berat dan pemupus dahaga. Lega juga. (*)


Penulis di gerbang Tanjong Harapan

Jumat, 20 Februari 2015

Melumat Bukit Karet Penajam

 Setelah menggasak trek hijau menantang di kawasan Balikpapan Timur akhir Desember dan awal Januari lalu, bubuhan Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post kembali menggeber jalur offroad di perkebunan karet dan kelapa sawit. Rute seksi kali ini berada di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

Setelah sarapan siap-siap gowes bareng
BERSEPEDA bareng dipatok Minggu, 25 Januari lalu. Para sahabat goweser ini memancal sepeda dari kediaman masing-masing untuk berkumpul di pelabuhan Kelotok Kampung Baru, pagi pukul 06.30 Wita. 

Ada 25 pesepeda. Kami hanya menggunakan carteran satu kapal kayu untuk limabelas menit menyeberangi Teluk Balikpapan, tujuan pelabuhan Penajam.


Berdoa bersama sebelum menantang offroad
Gowes sekira 4 Km dari pelabuhan, kami berjumpa kawan-kawan pegiat MTB Penajam yang sebagian tergabung di Penbic (Penajam Bike Community). 

Kami dijamu sarapan kue tradisional dan teh hangat. Setelah berdoa bersama, rombongan dikoordinir leader RGC Yoyok Prihandoyo berjumlah 35 goweser ini pun mulai beriringan memancal sepeda menuju jalur offroad. Rekan Penbic-lah yang memandu rute.

Memasuki kawasan kebun karet
Lintasan double track yang kami jajaki adalah kawasan perkebunan karet. Suasananya mirip perkebunan  di Kabupaten Tabalong, Kalsel, ketika kami meramaikan event cross country HUT ke-47 Tabalong November lalu. Hanya saja, pelintasan sekitar perkebunan milik perusahaan swasta yang kami lalui jauh lebih tertata. Lebih mulus. Obstacle pun tak sebanyak ketika di Tabalong.

Turun naik bukit juga mewarnai touring kami kali ini.  Beberapa tanjakan menantang dilumat penggila sepeda gunung tersebut dengan sempurna. Rombongan sempat beberapa kali rehat sembari menunggu sejumlah pesepeda yang membuntut di belakang iring-iringan.

Lewati jembatan Penajam menuju pelabuhan
Tak banyak tantangan ekstrem. Hanya rintangan kecil seperti sungai dan downhill curam yang membutuhkan teknikal, lantaran permukaan tanah licin habis hujan. 

Ada juga trek menurun yang tak rata, karena obstabcle alam yang terbentuk dari sisa gerusan air. Selebihnya jalur single track padang ilalang dan perkebunan kelapa sawit.

Bersyukurlah tanah sepanjang jalur yang kami lalui basah memadat. Kalau tidak, pegiat MTB ini bakal dihadang trek pasir kering yang agak sulit digowes. Namun secara keseluruhan lintasan di perkebunan ini sungguh mengasikkan. “Bisa dijadikan trek untuk event cross country,” ujar Doddy Christian yang aktif memandu rombongan paling depan.
Rehat sembari menunggu yang lain

Bagi dua kawan kami di RGC, Sugianto Untung dan Anshari kawasan tersebut sungguh tak asing. Pasalnya, kedua warga Balikpapan ini sehari-harinya bekerja di PPU. “Sebagian jalan sudah pernah kami lewati,” ujar Untung yang diamini Anshari.

Jalur offroad yang lumayan menguras energi ini sempat membuat beberapa newbie di RGC keteteran. “Rasanya saya sudah gak kuat lagi,” ujar Ridwan, junior RGC yang nyaris pingsan dan diserang kram kaki saat menjelajah puluhan kilometer di perkebunan hijau tersebut.

Rintangan sungai kecil
Perjalanan rombongan RGC dan Penbic ini sempat tersendat beberapa waktu lantaran salah satu goweser mengalami trouble. “Anting RD sepeda Pak Umar patah,” ujar Herson Acun mengabarkan. Setelah dioprek-oprek goweser gaek Sanuri menjadi single gear, akhirnya sepeda pun kembali berfungsi.

“Ya beginilah rasanya pakai single gear, genjot sepeda gak bisa cepat,” ujar Umar yang juga manager IT Kaltim Post Balikpapan. Untuk mempercepat iring-iringan, Sanuri melakukan aksi tandem, alias mem-push sepeda Umar dari belakang.
Dari Tanjung Jumlai menuju Nipah Nipah

Tujuan utama rombongan ini adalah pantai wisata Tanjung Jumlai. Setelah rehat makan siang dan bercengkerama, tim gowes yang sempat dihalau hujan ini kembali memacu sepeda masing-masing tujuan pelabuhan Penajam. Rute yang ditempuh melulu onroad, alias jalur beraspal.

Kami berpisah dengan kawan-kawan goweser PPU di Km 4, dan selanjutnya dijamu oleh keluarga Jaejae, anggota RGC, di Km 1 untuk menyantap buah durian, rambutan, dan jagung rebus. Sambutan hangat yang bersahaja.

Menyebrang ke Balikpapan dengan klotok
Kami kembali menyeberang dengan kapal kelotok ke pelabuhan Kampung Baru ketika hari menjelang sore. Setiba di Balikpapan masing-masing goweser langsung mengayuh sepeda masing-masing. Total perjalanan gowes persahabatan kali ini plus minus 100 Km. (yas@kaltimpost.net)

Selasa, 13 Januari 2015

Menerjang Trek Menantang di Timur Hijau

Survei lokasi selalu menjadi aktivitas awal bubuhan Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post ketika akan merancang event off-road bagi komunitas pesepeda gunung. Dua pekan berturut-turut para penggila mountain bike ini menerabas kawasan hijau di timur Balikpapan untuk meniti jalur hidden track.


Trek terjal dan licin sulit digowes
JADWAL survei dipatok Minggu pagi, 14 Desember lalu. Rombongan kecil RGC ini memancal sepeda ke arah  matahari terbit. Menuju pantai wisata Lamaru, Kecamatan Balikpapan Timur, untuk menelusuri lintasan menantang di kawasan Teritip. Iring-iringan berjumlah belasan pesepeda dipimpin Prihandoyo. Mereka menapaki medan beraspal di sepanjang Jalan Mulawarman, lantas merangsak rute off-road di kawasan Sumur Gas Lamaru 1 di Jalan Rantau Bakula.

Meski letih tetap tersenyum
Trek tanah basah sisa hujan semalam sempat mencemaskan. Ini memang selalu mengkhawatirkan pegowes. Sebab jalan yang dilintasi bakal licin, lalu membuat penggemar sepeda gunung ini bergumul dengan lumpur. Syukurnya, saat berada di lokasi kenyataannya tidak seekstrem yang dibayangkan.
Mereka melintasi lokasi pembangunan sirkuit balap Teritip, searah kemudian jalan menurun menyeberangi sungai kecil lalu disambut tanjakan single track. Sesaat kemudian meluncur beriringan melantas perkebunan karet. Naik turun bukit pun kian diakrabi.
Meski letih tetap tak menyerah

Jalan bebatuan yang mengancam ban sepeda slip berhasil diatasi penggila mountain bike ini, meskipun kayuhan sepeda melambat. Rintik gerimis menyertai selama perjalanan juga tak menghela semangat, justru pegowes kian termotivasi menyelesaikan rintangan demi rintangan.

Mereka memancal dengan kecepatan sedang melahap sekira 25 km. Menapak bukit-bukit di kawasan Gunung Binjai, dan kembali ke Lamaru untuk rehat makan siang.

LAPANGAN TEMBAK
Survei pekan berikutnya pada 21 Desember 2014. Ada 18 pegiat sepeda dalam rombongan kecil. Mereka dari komunitas Aquatic 128, Rodalink, BNI 46, BBS, BBC, dan Kobelco. Kali ini muster point-nya di pertigaan traffic light kompleks Balikpapan Baru. Pagi itu gerimis kecil sudah menyapa, tak berbeda seperti pekan lalu.

Lega ketika berada di lahan terbuka
Loading awal mereka harus melumat trek beraspal sepanjang 15 km. Sedangkan perjalanan off-road diawali dari Lapangan Tembak Rider, di Jalan Mulawarman, Kelurahan Manggar. Dari sini, rombongan melibas single track pematang di sekitar perkebunan warga. Beberapa kilometer pencinta MTB ini melewati sederet tantangan kecil, yang mengharuskan tuntun bike dan memikul sepeda masing-masing.
Menempuh puluhan kilometer tetap bersama

Cukup memerlukan endurance yang baik ketika melewati belasan kilometer jalan double track nan seksi. Pada jalan bebatuan ini membuat goweser terhambat untuk memacu cepat tunggangannya. Pasalnya, jalur macadam yang basah memaksa mereka ekstra hati-hati. Bila tidak fokus, risiko tergelincir mengancam. Terutama di jalur menurun yang kiri-kanannya rindang hutan. Beberapa sahabat goweser pun mengalaminya. Ada yang terjungkal, tergelincir, sampai terperosok ke semak-semak. Rem dan keseimbangan badan seolah tak akurat, lantaran kontur tanah yang licin sulit diprediksi. Tantangan lainnya jalan berlumpur yang sukar diterjang dengan sepeda.

Newbie Sarah Yunike
Survei lokasi kawasan timur kali ini melantas jalur berbeda dengan pekan lalu, namun tetap di kawasan perkebunan karet. “Jalur yang kita lewati ini bisa direkomendasi untuk rute event cross country,” ujar Prihandoyo, leader RGC yang akrab dipanggil Yoyok.

Menyisir lereng ladang, melewati setapak perkampungan warga di sekitar Gunung Binjai, iring-iringan pesepeda ini menempuh belasan kilometer hingga mencapai Bukit Pringgodani untuk kemudian menyelesaikan tahapan trek di sekitar Kelurahan Amborawang. Tak jauh dari kawasan ini sudah masuk di garis batas Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara.

Meski kedinginan tetap saja semangat
Jarak yang ditempuh pegiat sapida tinjak dari pagi hingga siang itu plus-minus sekira 60-an kilometer. “Bila dari kota jarak yang ditempuh sekitar 80-an kilometer,” ujar Untung, goweser RGC yang juga guru olahraga di Penajam Paser Utara.

WADUK MANGGAR
Survei berikutnya Minggu 4 Januari lalu. Rute perpaduan on-road dan off-road yang ditempuh kali ini berbeda. Titik awal dari seputaran traffic light Balikpapan Baru, kemudian menelusuri lintasan beraspal Jalan MT Haryono-Jalan Syarifuddin Yoes, lalu menuju jalan permukiman depan Polda Kaltim, dan langsung menerabas jalur terbuka di kawasan HER untuk meniti trek tunggal di sekitar instalasi pengolahan air PDAM Km 8.

Pecah ban segera teratasi
Sebelumnya para goweser ini sempat mengubek-ubek trek becek. Ini yang membuat roda sepeda seperti “donat”. Tanah liat tak diundang menggumpal di sisi fork depan, rantai, sprocket, disk brake, dan crankset. Sepeda pun tidak bisa dikayuh. Perjalanan terhenti beberapa saat untuk telaten membersihkan sepeda masing-masing.

Tujuan touring ini adalah Waduk Manggar di Km 12 jalan Soekarno-Hatta. Dari waduk ini lantas menelusuri setapak dengan berbagai tantangan, seperti jalan licin yang sulit diprediksi. Single track beralas kepingan kayu ulin memaksa mereka ekstra hati-hati, wajib soft-pedal. Kalau tidak, ancaman tergelincir mengintai.

Rintangan yang menyulitkan untuk digowes
Dan benar, beberapa sahabat goweser terperosok dan jatuh-bangun. Lintasan ini memang memaksa goweser untuk aksi portage alias memikul sepeda. Ada pula sejumlah obstacle kecil yang tetap membutuhkan konsentrasi. Beberapa tantangan bukit kecil mesti dilewati dengan teknik spin.

Trouble pun sempat mewarnai perjalanan. Salah satu sepeda harus dioprek-oprek jadi single gear lantaran rear derailleur yang patah. Sudah pasti kayuhan melambat dan memerlukan tenaga ekstra.

Rehat di tepi Waduk Manggar
Tim ramping RGC beranggotakan sepuluh pesepeda, masing-masing; Doddy, Doger, Gandhy, Umar, Ryon, Sanuri, Bebet, Wawan, Yoyok, dan Trias ini menyudahi gilasan trek off-road-nya di Kelurahan Manggar, dengan menapak jalan-jalan double track yang sedang tahap pengerasan. Setelah rehat di kedai Cak Man Manggar, pegiat MTB pun kembali meniti on-road ke arah kota. Perjalanan pagi lumayan melelahkan itu sekitar 70-an kilometer. (*)


Beriringan kembali ke jalur onroad menuju kota



Senin, 12 Januari 2015

Rem Blong di Tabalong

Penggila sepeda gunung Balikpapan mendapat tantangan berbeda. Kali ini mereka menjajal trek panjang perkebunan karet di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Cross country Sarabakawa-Kalimantan 2014 diikuti seribu lebih goweser. Menempuh jarak sekira 49 Km.


Tak ada alternatif jalur, sungai pun diseberangi
Ada enam komunitas MTB (mountain bike) dari Balikpapan yang ambil bagian di event memeriahkan HUT Tabalong ke-49 yang jatuh tanggal 1 Desember 2014 tersebut. Masing-masing, Kawan Bike Shop (KBS) Team, Aquatic 128, Mud-hogs, A-Team, Hospital Bicycle (Hobic), Blue Bike Community (BBC), Komunitas Gowes Balikpapan (KGB), dan Nekadxbike Community. Pegiat sepeda ini biasa berhimpun di Rabu Gowes Community (RGC) Kaltim Post.

Untuk menuju Tabalong rombongan goweser Kota Minyak ini menempuh jalur darat kurang lebih tujuh jam, dari Balikpapan-Penajam Paser Utara (PPU), melintas Tanah Grogot Kabupaten Paser, dan menuju Tanjung, Kalsel.


Semangat sebelum gowes offroad
Sebagian besar rombongan menginap di Aston Tanjung City. Hotel ini letaknya di jalan Mabuun, Kecamatan Murung Pudak, tak jauh dari tugu Tanjung Puri Mabuun yang menjadi icon Tabalong.

Dari hotel sekira 2 Km menuju tempat perhelatan di Lapangan Pendopo Bersinar Pembataan. Acara prakarsa Polres Tabalong itu sendiri berlangsung Minggu pagi (23/11), pukul 08.00 Wita. Seribu lebih pesepeda berkumpul di Pendopo. Mereka datang dari Kaltim, Kalbar, Kalteng, Jatim dan Kalsel sebagai tuan rumah.

Ada yang mengikuti funbike jarak pendek sekira 9 Km, dan ada yang mengambil tantangan di cross country dengan rute sepanjang 40 km lebih. Puluhan peserta dari Balikpapan menjajal sepeda lintas alam.



Melintasi sumur minyak Tabalong
Untuk rute sepeda santai melewati Kelurahan Pembataan, Kelurahan Sulingan, Desa Tanta Hulu, Tanjung Selatan dan kembali ke Pendopo. Sedangkan trek cross country melantas jalan-jalan setapak di Desa Masukau, perkebunan karet, Desa Kambitin dan berakhir di Lapangan Pendopo Bersinar.

Bagi pegowes Balikpapan, rute offroad yang dijajal tersebut bukan termasuk kategori ekstrem. Jalannya flat, tanpa tantangan tanjakan yang meletihkan. “Teman-teman di Balikpapan biasa dengan gowes tanjakan, justru di Tabalong rutenya datar saja,” ujar Prihandoyo, leader RGC.


Bila digowes jembatan goyang kiri goyang kanan
Meski begitu, stamina bubuhan Balikpapan tetap terkuras di saat membabat trek tanah, bebatuan dan beraspal. Sebagian besar mereka memacu cepat tunggangannya. Menggilas double track bebas hambatan, kemudian meranggas di jalur single track perkebunan karet yang padat.

Di perkebunan tersebut banyak ditemui tikungan tajam yang licin. Ini memerlukan technical mumpuni. Turunan pendek di apit pepohonan yang banyak menyembul akar pohon membuat sepeda seakan-akan remnya blong.

“Banyak akar pohon karet, kalau tidak hati-hati bisa jatuh,” ujar Julak Yayan, pesepeda gaek yang acap menjuarai ekshibisi MTB di luar Kalimantan.


Antre tuntunbike di jembantan gantung
Dan benar adanya. Bukan satu dua orang saja goweser Balikpapan harus terpelanting. Jatuh-bangun, kemudian melanjutkan perjalanan dengan lebih berhati-hati menerobos perkebunan rindang yang suasananya terkesan agak serem. “Saya terpental setelah menabrak “sesuatu” yang besar di kebun karet,” kata Desta Dinnatan.

Di tengah perkebunan luas ini sudah ada belasan peserta tuan rumah harus rehat, lantaran diserang kram kaki. Sebagian drop. Bahkan goweser Bebetkarebat dari RGC harus ‘’rela’’ terjun ke sungai kecil. “Saya gak nyangka ada kayu menghalang di jembatan, ban depan tergelicir. Kecebur deh,” ujar pesepeda berbadan tambun ini. Ada beberapa jembatan kecil dari kayu yang memerlukan kehati-hatian.


Trek asik di kebun karet
Pada trek menantang sebelumnya, peserta harus menerabas anak sungai. Sebagian tetap memaksa mengayuh sepeda, menerjang arus air sungai setinggi paha. Selebihnya memikul sepedanya masing-masing. “Saya lupa, ternyata handphone saya di saku celana. Basah semua. Rusak deh..” ujar Sanuri, goweser dari BBS yang bergabung di Hobic pimpinan Dr. Aspian Noor Arbain SpOG.

Ada pun tantangan yang jarang ditemukan di Kaltim, yaitu ketika melintasi jembatan gantung seperti canopy bridge di Bukit Bangkirai. Jembatan sepanjang 40 meter yang menghubungkan dua desa itu satu-satunya jalur yang dipergunakan warga sekitar. 


Undangan panitia cross country
Jembatan berlandasan papan ini tentu didesain bukan untuk beban berat. Ketika ratusan goweser memadat saling mendahului di badan jembatan selebar dua meteran itu, jembatan berayun-ayun ke kiri dan kanan. Membuat keder. Benar-benar mengkhawatirkan. Akhirnya diatur harus melintasi satu persatu, antre-lah. “Pelan-pelan saja, yang penting aman,” kata Herson Acun dari Aquatic 128.

Begitu juga saat penggila MTB ini melintasi single track di pematang yang lebarnya sekira 40 sentimeter. Kalau tidak konsentrasi bisa tercebur ke tambak. Tak sedikit peserta terpaksa tuntunbike di jalur ini. Selain letih, menghindari terperosok ke tambak. Pilihan terbaik.

Sekalipun rute yang dilintasi tidak “seganas” jambore sepeda gunung yang biasa digeber di Kaltim, namun trek Tabalong yang mayoritas terpayungi pepohonan diakui cukup menyenangkan. Cross country kali ini tidak bersifat kompetisi, namun goweser Balikpapan menjadikannya ajang uji endurance menggilas trek offroad dengan memimpin iring-iringan untuk menyelesaikan rute puluhan kilometer tersebut, khususnya komunitas dari Mud-hogs (MH) yang digawangi Arbain. Di rombongan ini ada juga goweser senior Jack Baronet, Syaiful, dan Julak Yayan.


Pagi-pagi mejeng bareng di depan Hotel Aston Tabalong
Goweser Firman Hidayat dan Jonish dari MH melesat cepat hingga ke finish dalam waktu hampir dua jam. Tangguhnya, Firman yang juga atlet peraih Perak di Porprov Kaltim 2014 ini juga memancal sepedanya dari Balikpapan menuju Tabalong.

Menurut panitia, rute yang ditempuh peserta mencapai 49 km. “Tapi menurut catatan di sepeda saya hanya sekitar 42,3 kilometer,” ujar Ali Rofiin. Apapun-lah, yang penting cross country kali ini meninggalkan kesan positif. Apalagi pendaftarannya gratis-tis.

Sampai di Pendopo peserta disambut hiburan musik, serta pembagian doorprize yang berlangsung hingga pukul empat sore. Hadiahnya ada dua sepeda motor, lemari es, TV dan puluhan sepeda gunung. Sebelum bendera start diangkat paginya, Bupati Tabalong H Anang Syakhfiani juga hadir di antara ribuan penunggang sapida tinjak untuk memberikan semangat tamu-tamu di bumi sarbakawa. (*)