Kamis, 20 September 2012

Klenger di Gowes Spektakuler


Tak pandang usia, jabatan dan status sosial lainnya. Juga tidak melihat jenis dan merek sepeda, ribuan pecinta olahraga sepeda tumblek blek di Lapangan Merdeka Balikpapan. Inilah event spektakuler yang diselenggarakan oleh Kaltim Post, harian terbesar di Kalimantan Timur. Tujuh ribu pesepeda ambil bagian dalam gowes yang memberikan hadiah utama mobil Toyota All New Avanza, satu unit sepeda motor, 45 sepeda, serta hadiah hiburan lainnya.

Walikota H Rizal Effendy SE mengangkat bendera start
Pagi yang cerah, minggu ketiga Mei 2012. Tampak wajah-wajah ceria pesepeda terpancar. Ada yang datang bersama anak, adik, kakak, suami, istri, serta anggota keluarga lainnya. Tak ketinggalan pula, puluhan komunitas bersepeda ambil bagian di acara yang bertabur hadiah tersebut.

Peserta datang dari kota-kota terdekat, seperti Samarinda, Bontang, Sangatta, Tenggarong, Penajam Paser Utara, Tanah Grogot, Tarakan, serta ribuan pesepeda tuan rumah Balikpapan. Mereka tampak antusias dan bersemangat.

Rute gowes yang ditempuh kali ini sedianya, start dari Lapangan Merdeka, menuju Jl Sudirman, Jl A Yani, Jl Panorama, Stadion Persiba, dan melintasi Jl Yos Sudarso, kemudian berakhir di Lapangan Merdeka.
Namun di saat bersamaan kegiatan tersebut, terjadi musibah kebakaran di Jl Jenderal Sudirman, persisnya di Pasar Blauran Klandasan. Padahal, di tempat kejadian kebakaran merupakan lintasan iring-iringan gowes. Akhirnya panitia mengubah rute, dari Lapangan Merdeka, Jl Yos Sudarso, Stadion Persiba, dan kembali ke Lapangan Merdeka melalui lintasan yang sama.

Iring-iringan yang panjang
Karena banyaknya peserta, sehingga badan jalan benar-benar dipadati pesepeda. Panjang iring-iringan sepeda tampak beberapa kilometer. Ketika melintasi tanjakan di Jl Yos Sudarso, banyak pesepeda yang berguguran, harus turun, dan menuntun sepeda masing-masing. Ngos-ngosan. Tak terkecuali, anak-anak, ibu-ibu sampai bapak-bapak. Jadilah pemandangan menuntun sepeda massal.

Seharusnya peserta tak mendaki tanjangan persis di tugu sumur Mathilda (pertama kali minyak ditemukan) tersebut. Ini karena rute diubah, maka mau tidak mau ribuan peserta harus melewati tanjakan itu.

‘’Lebih baik dorong dari pada klenger,’’ kata Karyadi (49 tahun), peserta gowes yang mengaku baru kali ini melintasi rute tersebut.
Bagi peserta yang rutin bersepeda, tanjakan ini bukan  hambatan berarti. Lancar-lancar saja. ‘’Sebenarnya gak masalah. Asalkan dari bawah sudah pasang ancang-ancang dengan teknik yang benar,’’ ujar Sam, salah seorang anggota komunitas sepeda.

Yang dimaksud Sam, pesepeda sudah harus mengganti gir sepedanya sebelum tanjakan. Di depan menggunakan gigi yang kecil, dan di belakang menggunakan gigi yang besar. ‘’Itu saja rahasianya,’’ katanya.
‘’Gak jugalah mas, tadi saya sudah pakai gigi yang kecil di depan dan gigi besar di belakang, tapi tetap juga gak kuat naik tanjakan,’’ timpal Susi, ibu beranak tiga yang rajin bersepeda di akhir pekan. Mendapat jawaban itu, Sam hanya senyum-senyum.

Sesampai di garis finish, banyak peserta yang saling tukar cerita dan kesan. Salah satunya tentang kegagalan melewati tanjakan itu. Dan sebaliknya, ada juga yang bangga menceritakan keberhasilannya menaklukan tanjakan.
Letih para peserta menggenjot sepeda sepanjang 16 Km tampaknya tak terlalu terhiraukan. Sesampai di finish mereka disambut panggung hiburan, dan pengundian door prize.
Tuntun sepeda tak masalah

Gowes kali ini mendapat perhatian masyarakat luas. Bahkan dibuka langsung oleh Wali Kota Balikpapan H Rizal Effendi bersama manajemen Kaltim Post Group, dengan bersama-sama mengangkat bendera start.

Beberapa pejabat dan undangan juga hadir meramaikan acara, antara lain Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) VI Mulawarman Letkol Inf Legowo W.R. Jatmiko S.IP, Irwasda Polda Kaltim Kombes Pol Suprojo Wirjo Sumarjo, Komandan Lanud (Danlanud) Balikpapan Letkol Pnb Riva Yanto, Ass Ops Inteldam Kolonel Infantri Teguh, dan Komandan Detasemen Polisi Militer Lanal (Dandenpomal) Balikpapan Mayor Laut (Polisi Militer) Dedhi Priyo W.


Toyota Avanza untuk Ahmad

Matanya berkaca-kaca. Ia berusaha menahan, agar butiran kristal di kedua kelopak matanya tak tumpah. Ada haru tertahan di dadanya. Bercampur gembira. Perasaan itulah yang tergambar di raut wajah Ahmad Muhaimin. Dia beruntung. Hadiah mobil Toyota All New Avanza jatuh ke tangannya.

Ahmad (tengah) senyum gembira
Ribuan peserta harap-harap cemas, menunggu keputusan siapa yang beruntung mendapat hadiah utama. Ketika nomor undian 0105054 dibacakan panitia dari atas panggung, banyak peserta Gowes yang kompak setengah berteriak, wuuuu.. ‘’Lepas deh…,’’ kata sebagian dari mereka seraya beranjak dari tempatnya.

Namun di antara ribuan peserta tersebut, salah seorang meloncat kegirangan, sembari mengangkat potongan kupon. Tangannya gemetar. ‘’Aku dapat, aku dapat,’’ teriak Ahmad Muhaimin. Ia disambut sukacita oleh kawan-kawannya di Hexindo Bike Community. Ia dipeluk beberapa kawan, lalu tubuhnya diangkat. Selebrasi kegembiraan. Suasana sekitarnya terhanyut ceria.

Ahmad benar-benar tidak menyana ketiban rezeki. Ikut Gowes bersama komunitasnya Hexindo Bike Community sebagai pengisi waktu libur. Pria berusia 27 tahun ini warga Jalan DI Panjaitan RT 80 Karang Rejo, Balikpapan. ‘’Ini kado hadiah ulangtahun saya tanggal 24 Mei,’’ ujar bujangan yang bekerja sebagai helper mekanik di Hexindo. Hadiah mobil tersebut akan dia jual untuk biaya pernikahannya. Selamat ya? (*)




Rabu, 19 September 2012

Jangan Kendur di Komendur


Langit subuh di timur mulai terang. Surya pun perlahan bangkit, namun sinarnya masih malu-malu. Saya bergegas,  lalu mengayuh sepeda. Meluncur pelan, kemudian setengah melaju. Ini sebuah peluang agar tak berjumpa sengat matahari pagi. Harapan cuaca sejuk seperti Minggu pagi ini semalam terlintas di benak --sesaat  sebelum kedua kelopak mata gelap terlelap.

Pemandangan pagi dari atas Komendur
Agenda Gowes pagi itu adalah Tukong Hill,  atau Gunung Komendur di Kelurahan Prapatan, Balikpapan, Kalimantan Timur. Sebuah bukit dimana terdapat lampu suar, yang setia memberikan tanda navigasi bagi lalu lintas pelayaran yang masuk ke perairan niaga Teluk Balikpapan. Warga sekitar menyebut bukit ini Sempos. Entah dari mana asal-usul nama itu.

Gunung Komendur bukan objek wisata resmi. Namun tempat ini dijadikan cagar budaya oleh pemerintah setempat, yang perlu mendapat perlindungan. Konon tempat ini sudah dimanfaatkan sebagai navigasi pelayaran sejak  zaman Belanda. Di tempat ini berdiri instalasi menara suar milik Departemen Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

Menara suar di puncak Komendur
Bagi penyuka gowes di Kota Minyak (sebutan Balikpapan), Gunung Komendur salah satu tujuan favorit. Kurang lengkap rasanya bila belum pernah mendaki ke tempat ini. Jalannya yang menanjak tajam menjadi tantangan tersendiri. Bagi yang berusia muda, tentu bukan hambatan berarti. Namun tak jarang sejumlah pesepeda terpaksa mendorong sembari nafasnya tersengal-sengal sebelum mencapai puncak bukit. 

Pendakian terakhir

Jalan menuju bukit teratur rapi dengan dasar paving block. Sangat asik dilalui sepeda. Karena itu, bagi pesepeda sebaiknya jangan kendur melintasi tanjakan. Namun banyak juga yang belum berhasil sampai ke puncak.

 ‘’Kalau mau aman, sejak tanjakan putaran pertama sudah menggunakan gir belakang besar. Meski terasa lambat, tapi pasti sampai di bukit,’’ kata Lukas memberikan tips. Ia mengaku sudah tiga kali mencapai Gunung Komendur. Yang pasti, bila kita bersepeda hingga ke bukit Komendur dijamin peluh akan bercucuran.

Di lereng bukit Komendur terdapat perumahan warga, dan kompleks perumahan Pelayaran. Karenanya, tempat ini dikenal dengan sebutan Kampung Pelayaran, atau Jalan Pelayaran. Untuk mendaki, kita mesti melewati Jalan Gereja. Di kaki bukit Komendur ini memang terdapat bangunan gereja Katolik yang cukup megah.

Beberapa tumbuhan di Komendur
Gunung Komendur tak jauh dari Lapangan Merdeka, di Jalan Yos Sudarso, yang menjadi destinasi masyarakat Balikpapan untuk berolahraga saban Minggu pagi.  Untuk menuju Komendur dari lapangan milik Pertamina ini hanya butuh waktu sekira 15 menit.

Yang menarik ketika berada di bukit Komendur, pemadangannya indah sekali. Dari sini kita bebas memandang lepas pantai. Ada angin kering menyapa. Tampak pula gundukan Pulau Tukong dan Pulau Babi, dan kapal-kapal niaga serta tanker yang berada di Teluk Balikpapan, maupun yang akan bertambat di pelabuhan kapal. Gunung Komendur ini persis berada di depan Pelabuhan Semayang. Bila kita memandang dari sebuah kapal di lepas pantai, bukit Komendur tampak paling tinggi.

Ketika berada di tempat ini saya teringat masa-masa kecil sewaktu duduk di bangku SMP. Sepulang sekolah bersama kawan-kawan saya mencari buah Karamunting di sisi timur Komendur. Kebetulan kawan saya Joko Purnomo tinggal di sekitar kaki Komendur. (Apa kabar mas Joko?). Kadang kami juga mencari bambu corek untuk prakarya sekolah.
Jalan menuju makam Adji Kemala Gelar Adji Pameran Kerta Intan
 Tanaman liar yang biasa hidup di bukit berpasir tersebut tampaknya  masih ada, namun jumlahnya tak banyak. Lereng bukit yang dulu ditumbuhi pohon-pohon Karamunting, kini padat dengan perumahan penduduk. Pemerintah pernah mengingatkan agar warga yang tinggal di lereng untuk segera pindah, lantaran bukit ini dinilai rawan longsor.

Di sisi barat Komendur masih rimbun dengan pepohonan, dan semak-semak basah.. Hutan di Gunung Komendur ini menjadi Hutan Kota yang dilindungi peraturan daerah pemerintah Balikpapan. Selain pohon akasia, mente, jati dan tumbuhan sejenis pakis, di Gunung Komendur ini juga terdapat cagar budaya, yaitu situs Makam Adji Kemala Gelar Adji Pangeran Kerta Intan bin Sultan Adji Mohamad Sulaiman.

Batu Cinta, yang ini masih sulit dipercaya
Makam putra Sultan Kutai Kertanegara Ing Martadipura ke-19 Adji Mohammad Sulaiman yang memerintah tahun 1850 hingga 1899  ini baru ditemukan sekira sepuluh tahun belakangan. Penggalian peninggalan sejarah ini seiringan dengan pemerintahan Syaukani HR, bupati Kutai Kartanegara ke-9 yang menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan menempatkannya sebagai muspida plus. Termasuk membangun situs Kutai Lama di Anggana dan situs di Muara Kaman.

Dalam sejarah, Balikpapan memang menjadi wilayah Kutai Kartanegara. Disebutkan,  tahun 1890 Belanda membeli daerah sekitar pesisir pantai Balikpapan dari Kesultanan Kutai.
Makam Adji Kemala Gelar Adji Pangeran Kerta Intan bin Sultan Adji Mohamad Sulaiman ini diajukan ke pemerintah pusat menjadi salah satu dari 77 situs cagar budaya yang ada di wilayah Balikpapan. Bila pengunjung ke makam ini, tidak boleh mengenakan pakaian kuning dan merah. Adakah hubungannya dengan hal gaib? Walahualam.

Pintu Cafe Puncak
Dekat menara suar di bukit ini juga ada bongkahan batu alam. Ada yang menyebut batu besi, seperti granit. Warga sekitar menyebut Batu Cinta. Batu cinta? Ya, di balik perut batu tertulis Batu Cinta. Siapa yang menulis selancang ini? Ada kemarahan memaksa pagi itu. Yang pasti: tangan-tangan jahil yang tega merusak alam.

Konon, ada saja yang menyebut bila sepasang kekasih mengikat janji di Batu Cinta ini akan setia sehidup semati. Oalah.., ada-ada saja. Isapan jempol!
Nah, bila Anda kebetulan gowes ke bukit ini jangan lupa juga mampir ke Café Puncak yang berada di lereng Komendur. Namun café ini baru buka jam 2 siang. Suatu saat saya akan menikmati minuman di café ini sembari memandang lepas ke pantai Teluk Balikpapan.

Andai saja Gunung Komendur itu tidak menjadi Hutan Kota dan dilindungi, tentu sangat potensial dijadikan tempat wahana wisata seperti skyway, kereta gantung Genting Highlands di pegunungan Titiwangsa, Malaysia. 


Kiri : Gunung Komendur. Kanan: Skyway di Genting Highlands, Malaysia. Beda-beda tipis
Terlintas di angan-angan saya suatu saat di puncak Komendur berdiri sebuah hotel, dan fasilitas pariwisata. Ya seperti Skyway itu. Mungkin gak ya?  Khayalan saya menari-nari mengiringi perjalanan menurun dari bukit Komendur, menuju destinasi awal di Lapangan Merdeka.  (*)






Senin, 17 September 2012

Meriam Koloni di Markoni


Kondisi meriam yang kurang terawa
Ada yang berbeda bila bersepeda pagi hari sebelum matahari terbit. Selain udara segar, debu-debu jalan masih enggan terbang menyapa. Apalagi di daerah pebukitan, sejuk. Ke Puncak Markoni Atas adalah tujuan gowes kali ini. Untuk melihat cagar budaya situs peninggalan koloni Jepang, yaitu sebuah meriam yang digunakan saat Perang Dunia II.

Tidak banyak masyarakat di kota ini yang tahu kalau di Jl Puncak Markoni Atas, Rt 07 Kelurahan Damai, Kecamatan Balikpapan Selatan, provinsi Kalimantan Timur, terdapat meriam besi sepanjang 9 meter dengan moncong berdiameter 55 cm.

Ketika masih duduk di kelas dua SMP, saya sudah pernah bermain di meriam ini. Karena kawan sebangku, Umardani, tinggal tak jauh dari tempat ini. Pulang sekolah kami bermain di sekitar meriam. Ada juga tiga sahabat lain yang tinggal di kawasan tersebut,  Doddy, Deddy dan Stevy. (Apa kabarnya kalian? Sudah tiga puluh tahun lebih kita tak berjumpa).

Meriam tampak dari depan
Orangtua Umardani memiliki pohon kecapi. Sambil ngemut bici kecapi, kami berlari-lari di bukit sekitar meriam Jepang ini. Tak pernah terpikir dalam benak kami, bahwa benda peninggalan zaman perang saat Jepang menduduki Balikpapan itu adalah sebuah benda yang harus dijaga dan  dilindungi.

Sayangnya, peninggalan sejarah ini belum mendapatkan sentuhan yang maksimal. Kabarnya, pemerintah kota sudah mengajukan agar cagar budaya ini dapat perlindungan resmi dari pemerintah pusat. Di tempat ini dulu ada dua meriam, kini tinggal satu.

Di atas meriam terdapat dua batang bentangan kayu besi (kayu ulin) selebar 40 cm sisa gelagar atap pelindung. Begitu juga di kiri kanan masih ada tiang-tiang pondasi dari kayu ulin. Kayu asli Kalimantan ini memang diketahui berumur panjang. Sementara badan meriam terselimuti korosi (berkarat). Bangkai meriam  Yokohama yang diperkirakan dibuat tahun 1935 ini sempat terkubur, dan kemudian digali kembali oleh warga September 2010.

Badan meriam dipenuhi karat, belum ada perawatan
Bila memperhatikan diameter moncong meriam ini, bisa kita bayangkan betapa dasyatnya peluru yang dimuntahkan. Dari atas bukit ini, tentara Jepang pada saat itu membombardir kapal-kapal tentara sekutu Australia yang merapat di pantai Balikpapan.

Menurut informasi, meriam ini dibawa tentara Jepang tanggal 1 Maret 1942, dan dipasang 15 Mei 1942. Sementara pertempuran  terjadi sejak 20 Agustus 1943 hingga 15 Juli 1945. Dari kedasyatan meriam ini konon 10 kapal sekutu dikaramkan di pantai Balikpapan.

Sesungguhnya tak terlalu sulit untuk bersepeda menuju meriam peninggalan tentara negeri matahari terbit tersebut. Namun karena sekira 30 tahunan tidak pernah ke tempat ini, terjadi disorientasi. Rumah-rumah penduduk semakin padat. Dulu, ketika kecil, kami bebas berlari-lari di antara ilalang untuk menuju meriam.
Ironinya, ketika saya bertanya kepada salah seorang warga tentang keberadaan meriam tersebut, tak mendapat jawaban rinci. ‘’Saya nggak tahu mas. Rasanya gak ada meriam di sekitar sini,’’ ujar pria paro baya yang pagi itu sedang berkemas-kemas. Saya lantas berpikir, pasti orang yang saya temui ini bukan penduduk asli (pendatang), atau bukan warga lama Puncak Markoni Atas.

Medan yang lumayan sulit ditempuh dengan sepeda
Saya mendapat jawaban pasti sesaat kemudian, setelah menemui seorang ibu rumah tangga yang sedang mencuci pakaian. ‘’Lewat jalan setapak mas, terus naik ke atas bukit,’’ tukasnya sembari menatap ke arah yang dimaksud.

Lewati jalan setapak dengan sepeda, tentu tak ada persoalan. Nyantai saja. Namun hambatan membentang ketika berhadapan dengan bukit kecil setinggi kira-kira 15 meter. Rasanya sulit mendaki dengan sepeda. Selain kontur tanah tak beraturan, sudut kemiringan juga agak menyulitkan. Jalan satu-satunya adalah memikul sepeda. Dan itu mau tak mau, harus dilakukan!

Pemandangan dari Puncak Markoni Atas
Meski peluh bercucuran, akhirnya sampai juga saya di lokasi meriam Jepang ini. Tanpa menunggu, saya langsung membasahi kerongkongan dengan bekal air putih. Ada rasa lega.
Di ketinggian bukit ini disambut sepoi angin dan pemandangan pantai Balikpapan yang indah.  Berbeda dengan tigapuluh tahun lalu, bila mata memandang jauh tampak pasir putih pantai membentang. Kini yang ada; padat rumah penduduk, pusat pertokoan, dan beberapa gedung bertingkat menjulang ke langit.

Untuk menuju ke tempat ini bisa melewati poros Jl Jenderal Sudirman atau dari Jl Mayjen Sutoyo (Gunung Malang). Dari Jl Sudirman, menuju Jl Markoni, menelusuri jalan mendaki Markoni Atas. Sebelum menelusur  Jl Puncak Markoni  Atas, di sebelah kanan jalan terdapat tempat ibadah umat Buddha, Wihara Eka Dharma.
Saat pendakian landai Jl Puncak Markoni Atas terdapat bangunan Open House, semacam resto. Tempat entertainment  yang cukup representative milik pengusaha Yusi Ananda tersebut kini sedang direnovasi.
Kemudian saya menjajaki jalan setapak untuk sampai di tujuan utama. Suasana hening. Hanya sekira 10 menit saya berada di meriam ini, sempat terlintas kenangan masa-masa kecil dahulu. 

Turnaround Cycling Community yang semangat
Dari lokasi meriam tak ada jalan terusan. Jadi harus berbalik arah. Ketika mengayuh sepeda dengan jalan menurun, saya berjumpa dengan rombongan gowes Turnaround Cycling Community dari Pertamina. Mereka over track menuju jalan setapak, menembus Jl Mayjen Sutoyo Gunung Malang, namun saya arahkan agar menyempatkan untuk melihat meriam peninggalan Jepang tersebut. Delapan anggota rombongan mengaku tak pernah tahu keberadaan benda cagar budaya tersebut. Mereka tampak antusias. (*)

Sabtu, 15 September 2012

Tak Harus Fitamin Khusus


Profil Haji Muhammad Nurbaini

Cepat akrab. Itu kesan pertama jika berjumpa dengan kakek yang satu ini. Ia tulus menyapa dengan senyum bagi siapa saja yang melintas bersepeda di dekatnya. Haji Muhammad Nurbaini, namanya. Penampilannya tak loyo, meski usianya kini lebih 70 tahun. Tak perlu sungkan berkenalan  bila Anda bertemu, dan tanyakan kiat-kiat tentang kebugaran tubuh.

Haji M Nurbaini
Hampir di setiap event bersepeda massal, ia pun tak pernah ketinggalan ambil bagian.  Termasuk Gowes Spektakular di Samarinda, ibukota provinsi Kaltim, bulan Juli 2012. Termasuk Gowes Spektakuler di Balikpapan yang berlangsung Mei 2012. Tak ketinggalan Gowes HUT Bhayangkara ke-66 yang diikuti sekitar sepuluh ribu peserta, juga bulan Juli 2012.

Di lingkungan pesepeda, ia cukup terkenal. Biasa dipanggil Haji Alamak. Meski nama aslinya adalah Haji Muhammad Nurbaini. ‘’Dipanggil Haji Alamak agar mudah saja. Alllaaamaaaak…begitu,’’ katanya sembari mengumbar tawa.

Boleh dibilang, Haji Alamak satu-satunya peserta tertua yang masih eksis bila eda event bersepeda massal. Usianya menginjak 70 tahun. Meski umurnya menjelang senja, bukan berarti secara fisik bapak yang satu ini juga menyurut. Anda pasti akan terkejut apabila melihat kecepatan Haji Alamak menggenjot sepeda. Ia justru bisa mengalahkan yang berusia 30 sampai 40 tahunan.

Joged bareng Gubernur Kaltim
Fisiknya memang tangguh. Setiap hari ia bersepeda. Berangkat kerja pun naik sepeda. Dari rumahnya di Jl Prajamuda, belakang SMA Negeri 5 di kawasan Balikpapan Selatan, ia mengayuh sepeda ke tempat kerjanya di Kelurahan Kariangau, Balikpapan Utara, yang jaraknya sekitar 20 km.  Naik turun jalan berbukit sudah menjadi lahapannya setiap hari. 
‘’Saya ada motor, tapi saya lebih memilih naik sepeda. Biar tubuh sehat,’’ kata kakek lima cucu ini. Ia bekerja sebagai petugas keamanan di salah satu perusahaan swasta di Kawasan Industri Kariangau (KIK).

Penghobi olahraga yudo, sepakbola, dan berenang ini mengaku sejak kecil memang sudah akrab dengan sepeda pancal. ‘’Kalau naik sepeda saya lebih suka medan yang menantang, seperi off road,’’ kata mantan Kopasus yang purna tugas tahun 1984 ini dan pernah bertugas di Cijantung, Jakarta dan Awang Long, Samarinda.

Bapak berpenampilan kurus dan berkulit hitam ini tampak bugar. Meski raut wajah tuanya tak bisa tersembunyikan. Rambut peraknya menghiasi kepala, namun tatap matanya tetap tajam. ‘’Anak saya umur 43 tahun  kalau mau menjahit, minta tolong saya untuuk memasukkan benang ke lubang jarum,’’ ujarnya memberikan gambaran bahwa penglihatannya masih sempurna.

Selalu tampil dengan kacamata hitam
Ada resep agar tetap bugar? Misalnya fitamin atau makanan suplemen? ‘’Oh, tidak ada. Saya makan sehari-hari biasa saja, tahu tempe,’’ katanya enteng. Yang penting, lanjutnya, jangan stress. Enjoy aja. ‘’Ada penyakit, jangan dipikirkan. Cepat lupakan,’’ ujar Haji Alamak yang acap tampil di panggung hiburan untuk berjoged bila ada event-event sepeda massal.

Enerjik pantang menyerah
Tak saja kegiatan bersepeda massal di Balikpapan yang ia ikuti, tapi juga di Samarinda bahkan sampai ke Sangatta, Kabupaten Kutai Timur.  ‘’Saya pernah bersepeda dari Balikpapan menuju Samarinda bersama teman-teman. Tembus enam jam,’’ katanya. Selama menempuh perjalanan kurang lebih 115 kilometer itu, ia mengaku ada waktu jeda untuk istirahat, sambil menunggu anggota rombongan lainnya.

Bila diperhatikan sekilas sepeda yang dipakai Haji Alamak, sungguh tak bisa disebut istimewa. Ia hanya punya sepeda satu-satunya, Poligon Xtrada 2.0 warna merah. Tak ada aksesori khusus, kecuali lampu muka dan belakang. 
‘’Lampu ini untuk tanda agar kendaraan di depan dan belakang bisa melihat kita dari jauh,’’ kata Haji Alamak yang tak jarang bersepeda malam.
Menurutnya, bersepeda yang baik lebih dititikberatkan pada teknik bersepedanya. Tentu ini tak sekadar teori. ‘’Selebihnya ditunjang dengan fisik, terutama pada kaki dan lutut,’’ urai anggota A-Team Balikpapan Community ini.

Hiiiii....teler juga ya?
 Kepada penulis, ia mengaku ingin mengganti sepedanya dengan yang baru. Mau dijual? ‘’Ya sih, tapi nggak tahu berapa harganya?’’ ujarnya. Apakah Anda tertarik? 
Tapi ada yang menarik, sepeda Pak Tua yang satu ini suspensi depan baru diganti. Ini hadiah doorprize ketika mengikuti gowes offroad ulangtahun Blue Bike Community, 28 Oktober lalu 2012 lalu.
Shock baru diganti
''Shock ini memang sudah lama mau saya ganti. Eh, dapat hadiah. Kebetulan...'' ujarnya. 

Memang, untuk urusan safety sepeda  kakek yang satu ini selalu memprioritaskan. Terbukti, di sepedanya kini dipasang lampu depan, belakang, lampu rem hingga lampu reting. Mantap ya pak. (*)